Alert! Salju Abadi Papua di Ujung Tanduk – RI Bisa Kehilangan Gletser

2 months ago  ·  3 min read
By William Moore - dailynesia.com
salju-gunung-jaya-wiijaya-kian-menipis_169

Peringatan: Gletser Abadi Papua Terancam Hilang dalam Tahun Mendatang

Dailynesia.com – Alert Salju Abadi Papua di Ujung—wilayah Indonesia yang kaya akan keanekaragaman alam—kini menjadi sorotan karena ancaman kehilangan gletser tropisnya dalam beberapa tahun ke depan. Dua gletser yang masih bertahan di Puncak Jaya, yaitu Gletser Carstensz dan East Northwall Firn, diperkirakan akan lenyap sebelum 2027 akibat kenaikan suhu global dan dampak fenomena iklim El Niño yang semakin intens. Puncak Jaya, sebagai gunung tertinggi di Asia Tenggara, menjadi tempat terakhir di Benua Pasifik yang menyimpan lapisan es abadi. Namun, kondisi gletser ini telah memburuk secara signifikan dalam beberapa dekade terakhir, memicu peringatan dari para ahli klimatologi.

Penurunan Gletser: Data dan Tren

Dari tahun 1850 hingga 2024, luas gletser di Papua terus berkurang drastis. Menurut data pemantauan, area gletser ini menyusut dari sekitar 19,3 kilometer persegi menjadi 0,16 hingga 0,23 kilometer persegi. Angka ini menunjukkan penurunan sekitar 98%, yang setara dengan hilangnya sekitar 3.500 lapangan sepak bola. Perubahan ini berlangsung pesat, terutama setelah fenomena El Niño menghiasi tahun-tahun 2015–2016. Dalam masa tersebut, penipisan gletser mencapai tingkat 5,3 meter per tahun, hampir lima kali lipat dibandingkan rata-rata tahunan sebelumnya.

“Salju abadi Papua bukan hanya indikator perubahan iklim, tetapi juga menjadi simbol kehidupan alam yang memperlihatkan kecepatan perubahan lingkungan,” jelas Donaldi Permana, peneliti dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), dalam wawancara khusus dengan Colombia Climate School pada 27 Mei 2026.

Kenaikan suhu global telah memicu pergeseran pola iklim, sehingga presipitasi yang sebelumnya turun sebagai salju kini berubah menjadi hujan. Proses ini mempercepat penguapan dan pencairan es, membuat gletser semakin sulit bertahan. Pemanasan yang terjadi selama 20 tahun terakhir terbukti sangat berdampak pada kawasan Puncak Jaya, yang dianggap sebagai “kawasan paling rentan” di Asia Tenggara.

Keanekaragaman Hayati dan Sistem Ekologis

Perubahan iklim ini tidak hanya mengancam gletser, tetapi juga mengganggu sistem ekologis di sekitar Puncak Jaya. Daerah yang sempat menjadi tempat hidup berbagai spesies unggul dan keanekaragaman hayati khas wilayah tropis, kini mengalami penurunan kelembapan dan pergeseran pola cuaca. Kehilangan gletser juga berpotensi memengaruhi aliran sungai, pengurangan ketersediaan air tawar, serta perubahan habitat hewan dan tumbuhan.

“Kehilangan gletser mengubah aliran air di daerah aliran sungai, yang berdampak pada pertanian, kehidupan masyarakat adat, serta keanekaragaman hayati di sekitar Puncak Jaya,” kata Mike Kaplan, geolog dari Lamont-Doherty Earth Observatory, dalam penjelasannya kepada GlacierHub.

Kaplan menekankan bahwa gletser tropis seperti di Papua adalah indikator kritis untuk memahami perubahan iklim. Meskipun emisi gas rumah kaca dapat dikurangi, kenaikan suhu global akan terus berlanjut hingga sistem iklim bumi menyesuaikan. Prediksi menunjukkan bahwa suhu di wilayah ini akan terus meningkat, sehingga waktu untuk menyelamatkan gletser menjadi semakin terbatas.

Langkah Penanganan dan Harapan

Meskipun ancaman besar sudah terlihat, para ilmuwan masih memberikan harapan bahwa upaya mitigasi bisa memperlambat kehilangan gletser. Beberapa organisasi lingkungan dan pemerintah daerah mulai mengupayakan program perlindungan lingkungan, seperti restorasi hutan dan pengurangan emisi karbon. Namun, tantangan terbesar terletak pada kecepatan perubahan iklim yang terus memburuk.

“Kita perlu menyeimbangkan antara kebutuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan. Jika kita tidak segera mengambil tindakan, salju abadi Papua akan menghilang sepenuhnya dalam dekade ini,” tambah Permana.

Para ahli juga merekomendasikan penelitian lebih lanjut tentang dampak jangka panjang dari hilangnya gletser. Dengan data yang lebih akurat, pemerintah bisa merancang kebijakan yang lebih tepat untuk mengatasi perubahan iklim. Selain itu, sosialisasi pentingnya gletser bagi masyarakat lokal dan ekosistem sekitarnya dianggap sebagai langkah krusial dalam membangun kesadaran akan isu ini.

Konteks Global dan Proyeksi Masa Depan

Gletser di Papua bukan hanya fenomena lokal, tetapi juga menjadi bagian dari sistem iklim global. Kehilangan gletser tropis ini bisa mempercepat pemanasan global, karena es yang mencair akan mengeluarkan gas rumah kaca yang terkunci. Selain itu, perubahan aliran air dari gletser juga bisa memengaruhi lautan dan siklus hidrologi, yang berdampak pada wilayah sekitarnya.

“Kehilangan gletser di Papua akan memiliki dampak kumulatif terhadap perubahan iklim di Indonesia dan sekitarnya. Ini adalah peringatan yang jelas untuk semua pihak,” kata Kaplan.

Dengan kecepatan penipisan yang semakin tinggi, para ilmuwan memproyeksikan bahwa gletser di Puncak Jaya akan lenyap dalam 10–15 tahun ke depan. Jika tidak ada intervensi yang tepat, akan terjadi krisis air, kerusakan lingkungan, serta ancaman terhadap kehidupan masyarakat adat yang bergantung pada keberadaan salju ab

MORE FROM THIS CATEGORY