27-28 Mei Matahari Tepat di atas Ka’bah-Ini Cara Cek Kiblat dari Rumah

2 months ago  ·  2 min read
By Daniel Rodriguez - dailynesia.com
matahari-di-atas-kiblat-1_169

Arah Kiblat: Pengujiannya dengan Fenomena Astronomi

Dailynesia.com – Kementerian Agama (Kemenag) mengajak masyarakat Muslim untuk memverifikasi sendiri arah kiblat secara mandiri. Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kemenag Arsad Hidayat menyoroti fenomena ‘Rashdul Kiblat’ atau ‘Istiwa A’zam’ yang terjadi pada 27 dan 28 Mei 2026. Fenomena ini memberi kesempatan untuk memastikan arah kiblat melalui pengamatan alami, tanpa bantuan alat khusus.

Fenomena Langka dalam Astronomi

“Pada saat itu, matahari berada tepat di atas Ka’bah, sehingga bayangan dari objek vertikal akan menunjukkan arah kiblat,” jelas Arsad, dikutip dari situs resmi Kemenag pada Rabu (27/5/2026).

Arsad menambahkan bahwa kesempatan ini bisa dimanfaatkan untuk menguji arah kiblat secara independen, baik di tempat ibadah maupun ruang privat. Fenomena ini menunjukkan hubungan antara ibadah dan ilmu pengetahuan, karena posisi matahari yang berada tepat di atas Ka’bah menjadi acuan alami dalam menentukan arah kiblat.

Kapan dan Bagaimana Mengamati

Dari data astronomi, fenomena Rashdul Kiblat terjadi pada 27-28 Mei 2026, sekitar pukul 16.18 WIB atau 17.18 WITA. Pada waktu itu, objek yang berdiri tegak akan menghasilkan bayangan yang mengarah ke arah kiblat. Metode ini merupakan bagian dari ilmu falak yang sudah dikenal sejak lama, selain menggunakan alat seperti kompas atau teodolit.

Langkah-Langkah Penting

Dalam memverifikasi arah kiblat, Arsad mengingatkan tiga hal utama yang perlu diperhatikan. Pertama, objek pengukuran harus berdiri tegak, bisa dipastikan dengan alat seperti lot atau bandul. Kedua, permukaan tempat pengamatan harus rata agar bayangan tidak terdistorsi. Ketiga, waktu pengukuran harus sesuai dengan standar yang dikeluarkan BMKG, RRI, atau layanan waktu lainnya.

Manfaat Utama

Pendekatan astronomi ini memberi kesempatan masyarakat untuk memahami hubungan antara ibadah dan sains. Arsad menekankan bahwa fenomena Rashdul Kiblat bersifat konfirmatif, artinya bisa memperkuat ketepatan arah kiblat yang sudah diterapkan. Jika masih ada keraguan, ini menjadi momen ideal untuk memeriksa kembali.

Arsad berharap masyarakat memanfaatkan fenomena ini sebagai upaya menjaga akurasi arah kiblat, sekaligus meningkatkan pemahaman keagamaan yang berbasis ilmu pengetahuan. “Ketepatan waktu menjadi faktor penting dalam pengukuran, karena selisih beberapa menit saja bisa memengaruhi hasil pengamatan,” tambahnya.

[Gambas:Instagram]

MORE FROM THIS CATEGORY