Belajar dari Korea: Perusahaan Cuan Besar, Buruh Harus Ikut Kaya
Dailynesia.com – Di Jakarta, tindakan konsolidasi buruh ternyata mampu mengungkit perusahaan besar. Hal ini terbukti di Korea Selatan, tempat industri konglomerat menghadapi tekanan signifikan saat serikat pekerja Samsung mengancam aksi mogok kerja selama 18 hari, yang akhirnya memaksa manajemen mengakui kekuatan karyawan.
Konflik yang Muncul di Era AI
Para buruh menegaskan tuntutan atas sistem penggajian dan bonus yang adil, terutama saat bagian chip Samsung mencapai performa luar biasa. Lonjakan permintaan membludak akibat tingginya kebutuhan chip canggih untuk kecerdasan buatan, menyebabkan krisis kelangkaan global yang memicu kenaikan harga memecah rekod. Samsung pun mencapai kapitalisasi pasar 1 triliun dolar AS karena permintaan chip memori yang tinggi.
Konflik antara manajemen dan pekerja baru-baru ini juga dapat dilihat sebagai bagian dari tren yang lebih luas,” tambahnya, merujuk pada kasus ancaman pemogokan massal di Samsung Electronics.
Kinerja positif perusahaan tak langsung memastikan peningkatan kesejahteraan pekerja. Serikat pekerja menuntut penghapusan batasan bonus hingga 50% dari gaji tahunan, serta alokasi 15% dari laba operasional untuk insentif. Tuntutan ini harus diimplementasikan lebih dari satu tahun, dengan negosiasi antara buruh dan manajemen berlangsung sengit. Kesepakatan akhirnya tercapai di menit terakhir, sehingga aksi mogok kerja yang seharusnya dimulai 21 Mei 2026 ditunda.
Berdasarkan kesepakatan terbaru, Samsung diharapkan menyetorkan sekitar 10,5% dari laba operasional untuk bonus khusus divisi chip, yang mencakup bisnis memori dan logika. Namun, penyesuaian ini mendapat tantangan. Divisi non-chip merasa bonus besar hanya dirasakan sebagian karyawan, sementara mereka tidak mendapat keuntungan serupa.
Manfaat AI Harus Dirasakan Masyarakat
Komitmen pemerintah Korea Selatan menekankan bahwa kekayaan yang diciptakan oleh AI harus bermanfaat bagi publik. Hal ini diungkap Wakil Perdana Menteri Bae Kyung-hoon, yang menyatakan era AI mengusulkan pertanyaan tentang distribusi kekayaan teknologi, apakah akan memperburuk ketidaksetaraan atau menyebabkan pengangguran.
“Manfaat AI juga harus dirasakan oleh masyarakat,” ujar Bae. Ia menekankan bahwa Seoul sangat fokus pada pembangunan masyarakat inklusif AI.
Sebagai bagian dari upaya ini, Bae menyebutkan Korea Selatan tidak hanya membutuhkan kemampuan menciptakan kekayaan besar melalui AI, tetapi juga mengevaluasi dampak teknologi tersebut terhadap masyarakat. Ia mengungkapkan kekhawatiran terhadap integrasi robot Atlas dari Boston Dynamics ke dalam proses manufaktur otomotif Hyundai, yang berpotensi mengubah dinamika kerja.
Mentri Kim Yeong Beom dan Reaksi Pasar
Komentar tersebut muncul setelah pejabat Korea Selatan Kim Yeong Beom mengunggah proposal di Facebook pada 12 Mei, menawarkan pembagian kelebihan pendapatan pajak dari sektor AI dan semikonduktor. Pernyataan ini memicu getaran di pasar keuangan.
Seorang pejabat kemudian dilaporkan mengklarifikasi bahwa unggahan tersebut adalah pendapat Kim, bukan subjek diskusi resmi. Bae, yang juga menjabat menteri sains dan teknologi, ditanya tentang kenaikan tajam pasar Korea Selatan yang dipimpin oleh perusahaan besar seperti Samsung dan SK Hynix. Samsung mencatatkan kenaikan year-to-date hampir 144%, sementara SK Hynix naik hampir 200% sejak 1 Januari. Indeks Kospi kini naik hingga 86% hingga 2026, melampaui kenaikan tahun lalu sekitar 75%.
Ketika ditanya apakah ia melihat konsentrasi keuntungan di sektor teknologi sebagai kelemahan, Bae menjawab: “meskipun…”

