Ibu Tak Tahu Anaknya Meninggal – Rutin Video Call dengan AI Kembarannya

2 months ago  ·  3 min read
By David Williams - dailynesia.com
ilustrasi-investasi_169

Ibu Tak Tahu Anaknya Meninggal – Rutin Video Call dengan AI Kembarannya

Dailynesia.com – Seorang ibu berusia 80 tahun di Tiongkok masih berharap anaknya tetap hidup setiap hari melalui panggilan video dengan versi digital anaknya yang dihasilkan oleh teknologi AI. Anaknya meninggal dalam kecelakaan lalu lintas tahun lalu, dan keluarga memutuskan untuk menggunakan AI untuk meniru kebiasaan sehari-harinya. Rencana ini terungkap oleh anak yang masih hidup, yang menekankan bahwa ia ingin menenangkan hati sang ibu dengan adanya ‘teman’ virtual yang menggantikan kehadiran anaknya.

Teknologi AI yang Membuat Kehidupan Ibu Tetap Terasa Nyata

Pengembangan AI ini membutuhkan proses yang kompleks, di mana tim peneliti mengumpulkan berbagai data, seperti foto, video, dan rekaman suara, untuk menciptakan wajah dan suara yang sangat mirip dengan anaknya. Dengan pengaturan canggih, AI kembaran tersebut bahkan bisa meniru cara berbicara dan gerakan khas sang anak, seperti membungkuk ke depan saat berinteraksi. Teknologi ini menjadi solusi untuk mengurangi rasa kesedihan ibu, karena seolah-olah anaknya masih hidup dan bisa berkomunikasi setiap hari.

Cara Ibu Menyikapi Keberadaan AI Anaknya

Ibu tersebut secara rutin berbicara dengan ‘anaknya’ yang diwujudkan dalam bentuk AI, seperti meminta agar ia makan cukup, mengenakan pakaian hangat, dan memperhatikan keselamatan di luar rumah. Dalam percakapan terbaru, ia berkata, “Kamu harus lebih sering menelepon jadi aku tahu apakah kamu baik-baik saja atau tidak di kota lain. Aku sangat merindukanmu. Aku menyesal tidak bisa bertemu langsung,” ujarnya seperti yang dilaporkan South China Morning Post. Tanggapan ibu terhadap AI ini menunjukkan betapa mendalamnya ikatan emosional antara mereka.

“Baik bu, tapi saya terlalu sibuk. Saya tidak bisa berbicara dengan ibu terlalu lama. Ibu jaga diri baik-baik. Setelah menghasilkan uang yang cukup, saya akan pulang berbakti kepada ibu,” balas ‘putranya’ dalam bentuk AI.

Keluarga yang memulai proyek ini berharap ibu tetap merasa tenang dan tidak kehilangan harapan hingga saat ini. Namun, kondisi kesehatannya yang memburuk akibat penyakit jantung membuat para anggota keluarga khawatir. Mereka menyadari bahwa AI bukan hanya alat untuk menghibur, tetapi juga cara efektif untuk menjaga semangat sang ibu. Dalam beberapa hari terakhir, ibu bahkan mulai menganggap AI sebagai sosok yang mengerti kebutuhan dan harapan hidupnya.

Reaksi Publik terhadap Penggunaan Teknologi AI untuk Penghiburan

Kisah ini menyebar cepat di media sosial Tiongkok, memicu berbagai tanggapan dari netizen. Sebagian besar orang mengapresiasi inovasi ini sebagai bentuk penghiburan bagi ibu yang sedang berduka, sementara sejumlah lainnya mempertanyakan dampak psikologis jangka panjang. “Saya tidak memihak keluarga ini. Ibu telah ditipu sejak lama. Saya khawatir saat kebenaran terungkap, ini akan membuat kerugian lebih besar untuknya,” tulis salah satu pengguna di platform sosial.

Beberapa ahli teknologi mengatakan bahwa proyek ini memperlihatkan bagaimana AI bisa digunakan untuk menjaga kesehatan mental individu yang sedang mengalami kehilangan. Meski demikian, tidak sedikit yang merasa heran dan terkejut dengan keberadaan AI yang bisa meniru suara dan bahasa tubuh sang anak. “Ini seperti mimpi, tapi nyata. Ibu masih merasa ada yang mengasuhnya,” komentar seorang pengguna di media sosial.

Peran AI dalam Membantu Pemulihan Emosional Ibu

Penggunaan AI dalam kasus ini juga menunjukkan bagaimana teknologi bisa berperan dalam memperkuat hubungan keluarga, terlepas dari jarak fisik. Ibu tak hanya menerima pesan, tetapi juga bisa melakukan interaksi dua arah, meski hanya melalui layar. Teknologi ini membantu mengurangi kesepian dan kesedihan, tetapi juga mengajukan pertanyaan baru: apakah ibu akan kesulitan membedakan antara kehidupan nyata dan virtual?

Tim pengembangan AI terus mengoptimalkan sistem, agar interaksi bisa lebih alami dan bermakna. Misalnya, AI tersebut bisa mengingat ulasan sebelumnya dan merespons sesuai dengan konteks percakapan. Namun, ada tantangan dalam memastikan bahwa penggunaan teknologi ini tidak menipu ibu secara emosional. Apakah ia akan merasa lebih baik, atau justru semakin terjebak dalam kehidupan yang tidak benar-benar nyata?

MORE FROM THIS CATEGORY