Media Asing Soroti Upaya RI-China Buang Dolar

3 months ago  ·  3 min read
By James Lopez - dailynesia.com
ilustrasi-pembayaran-qris-1752838812558_169

Meeting Results: Media Asing Soroti Upaya RI-China Buang Dolar

Dailynesia.com – Kemitraan antara Indonesia dan Tiongkok dalam menguatkan kerja sama pembayaran lintas negara menggunakan mata uang lokal kini mendapat perhatian signifikan dari media internasional. Inisiatif ini dianggap sebagai bagian dari upaya strategis untuk mengurangi ketergantungan pada dolar Amerika Serikat (AS) dalam transaksi global, seiring percepatan integrasi ekonomi bilateral.

Langkah Nyata dalam Transformasi Sistem Keuangan

Dalam kemitraan ini, kedua negara meluncurkan sistem pembayaran berbasis kode QR yang memungkinkan warga Indonesia dan Tiongkok melakukan pembelian ritel tanpa melalui dolar AS sebagai alat pertukaran. Sistem ini menyediakan integrasi langsung antara aplikasi Alipay, yang digunakan Tiongkok, dengan QRIS, yang menjadi standar pembayaran digital di Indonesia. Langkah ini mencerminkan komitmen kuat untuk memperkuat ketergantungan ekonomi yang berkelanjutan dan mengurangi risiko volatilitas mata uang asing.

“Meeting Results ini menunjukkan koordinasi yang lebih dalam antara RI-China dalam menghadapi ketegangan geopolitik dan volatilitas dolar AS. Inisiatif ini bukan hanya tentang transaksi lokal, tetapi juga tentang keberlanjutan ekonomi jangka panjang,” tulis Alicia Garcia-Herrero, kepala ekonom Asia-Pasifik di Natixis, seperti dikutip South China Morning Post (SCMP) pada Sabtu (9/5/2026).

Bank Indonesia sebelumnya mengumumkan peluncuran skema pembayaran lintas batas pada Kamis lalu. Keputusan ini merupakan respons terhadap upaya Tiongkok memperluas koneksi finansial dengan negara-negara ASEAN, mitra dagang utama Beijing di kawasan Asia Tenggara. Dengan menurunkan ketergantungan pada dolar AS, langkah ini juga memberikan dampak strategis dalam menghadapi persaingan global.

Kemitraan yang Menyebar ke Negara-Negara ASEAN

Skema pembayaran lintas batas menggunakan yuan sudah diterapkan di Thailand sejak Oktober 2025. Pada bulan lalu, sistem serupa diperluas ke Vietnam dan Alipay, sementara layanan berbasis yuan juga tersedia di Malaysia serta Singapura. Pengembangan ini menjadi bagian dari perluasan Meeting Results antara RI-China dengan negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara.

Analisis menunjukkan bahwa Tiongkok akan terus memperluas kerja sama serupa dengan negara-negara lain sepanjang tahun ini. Dengan menghadirkan yuan sebagai alat transaksi yang lebih efisien, Tiongkok berusaha memperkuat posisinya dalam sistem keuangan global. Indonesia, sebagai anggota ASEAN, menjadi partner kunci dalam upaya ini.

Perluasan sistem pembayaran ini selaras dengan strategi Beijing untuk meningkatkan utilisasi yuan dalam transaksi internasional. Dengan menurunkan ketergantungan pada dolar AS, langkah ini juga menjadi respons terhadap peningkatan ketegangan geopolitik antara Tiongkok dan Washington. Meeting Results yang dihasilkan dari kerja sama ini memberikan kontribusi penting dalam menjaga stabilitas perekonomian regional.

Dalam konteks transaksi wisatawan, sistem pembayaran lintas batas diharapkan mendorong pertumbuhan pariwisata antara Tiongkok dan Asia Tenggara. Sebelumnya, aplikasi domestik Tiongkok dianggap menghambat akses turis internasional, tetapi kemitraan ini memberikan solusi efektif. Pada tahun 2025, Indonesia mencatat 1,34 juta wisatawan Tiongkok, jumlah tertinggi dalam enam tahun terakhir, dengan kontribusi sebesar 8,7% dari total kunjungan wisatawan mancanegara. Tiongkok juga menjadi negara tujuan wisata terpopuler keempat bagi warga Indonesia, dengan persentase hampir 6,8% dari total perjalanan ke luar negeri.

Meeting Results yang diambil dalam kerangka kemitraan ini tidak hanya menguntungkan kedua negara, tetapi juga memberikan contoh bagi negara-negara lain dalam menghadapi perubahan paradigma keuangan global. Dengan memperkuat kemitraan ekonomi, Tiongkok dan Indonesia berharap menciptakan ekosistem pembayaran yang lebih inklusif dan berkelanjutan, serta mengurangi dampak ketidakstabilan dolar AS di masa depan.

MORE FROM THIS CATEGORY