Jangan Kencing Berdiri, Peneliti Ingatkan Bahaya Ini Mengintai

3 months ago  ·  3 min read
By Linda Miller - dailynesia.com
warga-melewati-spanduk-larangan-encing-di-pinggir-jakarta-kena-rp-20-juta-di-kawasan-lebak-bulus-jakarta-kamis-2322023-cnbc-in-2_169

Jangan Kencing Berdiri, Peneliti Ingatkan Bahaya Ini Mengintai

Dailynesia.com – Mengungkapkan bahwa kebiasaan buang air kecil sambil berdiri, yang sering dianggap praktis, justru memiliki risiko kesehatan tersembunyi, terutama bagi pria yang usianya sudah lanjut. Menurut hasil survei YouGov yang melibatkan 13 negara, sebagian besar pria memilih posisi berdiri untuk berkemih, meskipun urologis memperingatkan bahwa kebiasaan ini bisa memperburuk kondisi prostat yang membesar. Menariknya, Jerman menjadi pengecualian dengan 60 persen pria yang lebih memilih duduk, sementara di beberapa negara seperti Amerika Serikat dan Singapura, angka penolak kencing duduk mencapai 23 dan 32 persen, masing-masing.

Manfaat Kencing Duduk untuk Kesehatan

Berdiri saat berkemih menyebabkan aliran air seni tidak terkontrol, yang bisa meningkatkan risiko percikan ke luar area toilet. Selain itu, kebiasaan ini mungkin memperparah tekanan pada kandung kemih dan prostat, terutama saat usia membesar. Key Discussion menyoroti bahwa kencing duduk lebih efektif dalam memastikan aliran urine yang lancar, mengurangi risiko infeksi, dan mencegah masalah seperti batu ginjal. Posisi duduk juga membantu menyesuaikan tekanan pada saluran kemih, sehingga lebih aman untuk pria yang mengalami gangguan fungsi kemih.

Kebiasaan kencing berdiri sering dipertahankan karena kemudahan akses dan penghematan waktu. Namun, menurut Gerald Collins, seorang urologis dari Alexandra Hospital, posisi duduk justru lebih baik untuk pria yang mengalami gangguan prostat. “Kebiasaan kencing duduk memberikan dampak positif, terutama bagi pria usia lanjut, karena memudahkan pengosongan kandung kemih dan mencegah risiko komplikasi,” jelas Collins dalam wawancara dengan Telegraph. Ia menekankan bahwa kebiasaan ini harus menjadi keputusan yang disadari, bukan sekadar kebiasaan sehari-hari.

Perbedaan Kencing Berdiri vs Duduk

Kencing berdiri, meskipun praktis, berisiko menyebabkan kerusakan pada aliran urine. Dalam posisi berdiri, tekanan pada saluran kemih lebih besar, sehingga bisa mempercepat penuhnya kandung kemih atau menyebabkan kebocoran. Di sisi lain, kencing duduk memberikan kontrol yang lebih baik, karena tekanan aliran urine lebih teratur. Key Discussion menyoroti bahwa ini terutama penting bagi pria yang menderita hipertrofi prostat, kondisi yang menyebabkan pengerasan jaringan prostat dan menghambat aliran urine.

Menurut penelitian, kencing duduk juga mengurangi risiko infeksi saluran kemih. Percikan air seni yang terjadi saat berdiri bisa menyebar ke area sekitar, termasuk ke celana atau lantai, yang berpotensi menyebarkan bakteri. Dalam posisi duduk, aliran urine lebih terarah dan terjaga kebersihannya. Selain itu, kencing duduk mencegah tekanan berlebihan pada otot abdomen, yang menjadi faktor utama dalam mengurangi risiko kencing terengah-engah atau kelelahan.

Pola Kebiasaan di Berbagai Negara

Studi YouGov menunjukkan bahwa kebiasaan kencing berdiri paling umum di negara-negara seperti Amerika Serikat dan Singapura. Di AS, hanya 23 persen pria yang memilih duduk, sementara di Singapura, angka penolak mencapai 32 persen. Di Jerman, sebaliknya, 60 persen pria mengadopsi posisi duduk, yang dipercaya lebih higienis dan nyaman. Key Discussion mengungkapkan bahwa perbedaan ini mungkin dipengaruhi oleh faktor budaya, kebiasaan sehari-hari, atau kepedulian terhadap kesehatan reproduksi.

Beberapa negara seperti Inggris dan Swedia telah mengadopsi toilet duduk secara masif, dengan hasil survei menunjukkan bahwa sekitar 70 persen populasi menggunakan posisi ini. Hal ini mengindikasikan bahwa perubahan kebiasaan kencing dapat terjadi dengan pendidikan dan kesadaran masyarakat. Key Discussion menekankan bahwa pentingnya mengubah kebiasaan ini terutama diusia lanjut, karena risiko penyakit berkemih meningkat seiring bertambahnya usia.

“Kebiasaan kencing berdiri tidak selalu buruk, tapi untuk pria yang mengalami gejala hipertrofi prostat, kencing duduk justru menjadi solusi yang lebih optimal,” kata Gerald Collins. Ia menambahkan bahwa kebiasaan ini bisa diterapkan sejak dini untuk mencegah masalah kesehatan yang lebih serius.

Dalam Key Discussion, disarankan bagi pria untuk mengevaluasi kebiasaan kencing mereka, terutama jika mengalami gejala seperti rasa sakit saat berkemih, aliran yang tidak lancar, atau sering keinginan untuk buang air kecil. Perubahan dari posisi berdiri ke duduk bisa memberikan manfaat jangka panjang, terutama jika dilakukan secara konsisten. Studi menunjukkan bahwa kebiasaan ini mengurangi risiko batu ginjal sebesar 30 persen pada pria usia 80-an.

MORE FROM THIS CATEGORY