Pesan Wamen Komdigi: Kita Jangan Jadi Budak AI!
Dailynesia.com – Dalam acara Visit Agenda yang digelar di Yogyakarta, Wakil Menteri Komunikasi dan Informatika (Komdigi) Nezar Patria menegaskan pentingnya masyarakat Indonesia menggunakan kecerdasan buatan (AI) secara bijak. Ia mengingatkan bahwa AI seharusnya menjadi alat pendamping dalam kehidupan sehari-hari, bukan sebagai pengganti manusia. “Kita tidak boleh menjadi budak AI, tetapi harus mengendalikan teknologi ini untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas hidup,” tutur Nezar pada Jogja Financial Festival, Jumat (22/5/2026).
Pertumbuhan AI yang Pesat
Nezar menyampaikan bahwa perkembangan AI telah memasuki era baru sejak peluncuran ChatGPT pada tahun 2022. Teknologi ini kini bertransformasi menjadi Agentic AI, yang mampu melakukan tugas-tugas kompleks secara mandiri. Dalam sesi diskusi, ia juga memprediksi bahwa AI akan semakin mengarah ke bentuk fisikal, seperti robotik, dalam dua tahun ke depan. “Kita akan mulai fokus pada penerapan AI yang memiliki kemampuan fisik, seperti robot yang dapat menyelesaikan pekerjaan manusia di bidang masak, pelatihan senam, atau operasional lalu lintas,” jelasnya.
Menurut Nezar, kecepatan evolusi AI memaksa pemerintah untuk menyusun strategi pengembangan yang terarah. Hal ini tidak hanya melibatkan penelitian teknologi, tetapi juga kebijakan yang menjaga keseimbangan antara inovasi dan perlindungan data pribadi. “Pada Visit Agenda ini, kita membahas bagaimana teknologi dapat diterapkan secara bertanggung jawab,” tambahnya. Ia menekankan bahwa penggunaan AI harus didasari oleh kebijakan yang inklusif, agar tidak mengorbankan hak-hak individu.
Strategi Pemerintah dalam Pengembangan AI
Badan Komdigi sedang menyusun peta jalan (roadmap) untuk mengintegrasikan AI ke berbagai sektor. Nezar menjelaskan bahwa langkah ini mencakup penelitian, pemanfaatan, dan regulasi yang harmonis. “Visit Agenda menjadi wadah untuk memastikan bahwa semua pihak, termasuk pelaku usaha dan masyarakat, terlibat dalam menciptakan ekosistem AI yang berkelanjutan,” katanya. Ia menyoroti bahwa keberhasilan penerapan AI bergantung pada kolaborasi antarlembaga dan keterlibatan masyarakat secara aktif.
“AI bekerja berdasarkan data, jadi perlindungan informasi pribadi sangat penting. Regulasi harus dibuat dengan prinsip yang jelas agar tidak terburu-buru,” ungkap Nezar dalam acara yang dihadiri berbagai pemangku kepentingan. Ia menambahkan bahwa UU Pelindungan Data Pribadi yang sudah ada menjadi dasar untuk mengawasi penggunaan AI di berbagai aspek kehidupan, termasuk kesehatan, pendidikan, dan ekonomi.
Nezar juga menyoroti peran penting pelajar dalam menghadapi era AI. Ia menekankan bahwa generasi muda harus diberikan wawasan tentang teknologi dan cara menggunakannya secara kreatif. “Dalam Visit Agenda ini, kita ingin memberikan contoh bagaimana AI bisa menjadi mitra manusia, bukan ancaman,” pungkasnya. Ia berharap bahwa dengan pendidikan yang tepat, masyarakat tidak hanya bisa menjadi pengguna AI, tetapi juga pengelola dan pengembangnya.

