Kronologi Tabrakan KA Argo Bromo vs KRL di Stasiun Bekasi Timur
Dailynesia.com – Insiden tabrakan antara Kereta Api (KA) Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur pada 27 April 2026 menjadi sorotan publik. Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) telah melakukan investigasi mendalam untuk mengungkap penyebab kecelakaan tersebut, dengan fokus pada sistem persinyalan, komunikasi masinis, dan kondisi lingkungan sekitar rel. Laporan sementara KNKT menyebutkan bahwa kejadian ini tidak hanya terjadi karena kesalahan teknis, tetapi juga faktor eksternal yang memengaruhi visibilitas pengemudi.
Detail Kronologi Kecelakaan di Stasiun Bekasi Timur
Menurut KNKT, kejadian dimulai saat KRL 5568A tiba di jalur 6 Stasiun Bekasi pada pukul 20:33:59 WIB. Setelah itu, KA Sawunggalih 116 relasi Pasar Senen-Kutoarjo berhenti di stasiun tersebut untuk melayani penumpang. Dalam proses naik-turun penumpang, KRL 5568A dioperasikan kembali pada pukul 20:45:32 WIB, dengan jadwal terlambat delapan menit. Di sisi lain, KA Argo Bromo Anggrek 4B melintas Stasiun Bekasi lebih cepat tiga menit dari rencana, menciptakan ketegangan antar jalur.
Kecelakaan terjadi ketika KA 5568A bergerak dari jalur 6 ke jalur 1 pada pukul 20:48:13 WIB. Beberapa detik setelah itu, tepatnya pukul 20:48:29 WIB, KRL relasi Cikarang-Angke 5181 tertemper taksi Green SM di perlintasan dekat Bekasi Timur. KA 5568A sempat berjalan sekitar 1,69 meter sebelum terpaksa berhenti kembali pada pukul 20:48:59 WIB karena adanya kerumunan warga di sekitar jalur. Topics Covered dalam laporan KNKT juga menyoroti peran lampu jalan dan bangunan warga dalam mengganggu pencahayaan sinyal.
Analisis Sistem dan Faktor Penyebab Kecelakaan
Dalam penyelidikan, KNKT mengungkap bahwa dua jalur yang terlibat, yakni jalur 3 Stasiun Bekasi dan jalur 1 Bekasi Timur, memiliki tiga sinyal terintegrasi: sinyal keluar, pengulang, dan blok. Simulasi menunjukkan bahwa sinyal keluar Stasiun Bekasi menunjukkan aspek aman (hijau), sementara sinyal pengulang dan blok menampilkan aspek tidak aman (garis datar dan merah). Topics Covered dalam analisis ini menyoroti ketergantungan sistem sinyal pada kondisi lingkungan dan pengoperasian yang tepat waktu.
“Kecelakaan ini terjadi karena kombinasi antara kesalahan pengoperasian KA Argo Bromo Anggrek dan gangguan visibilitas dari sinyal pengulang yang tidak jelas,” kata Soerjanto Tjahjono, ketua KNKT, dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi V DPR RI. Ia menambahkan bahwa masinis KA Argo Bromo Anggrek gagal menghentikan kereta setelah mengerem sejak 1,3 km sebelum stasiun, yang seharusnya memberikan waktu untuk menghindari KRL yang bergerak di jalur 1.
KNKT juga menemukan bahwa komunikasi antara masinis menggunakan radio berbeda. KA 5181 mengoperasikan radio Tait di wilayah komunikasi S.27 (PK Selatan), sementara KA 5568A menggunakan radio Sepura. Keterlambatan proses pemberangkatan dan kecepatan KA Argo Bromo Anggrek menjadi faktor utama dalam Topics Covered penyelidikan. Selain itu, cahaya dari lampu pasar dan rumah warga di sekitar rel disebutkan sebagai penyumbang utama mengurangi visibilitas sinyal.
Simulasi yang dilakukan KNKT mengungkap bahwa kecelakaan terjadi karena adanya kesalahan dalam mengatur jalur dan waktu pemberangkatan KA. Penyelidikan ini tidak hanya meninjau sistem teknis, tetapi juga lingkungan sekitar stasiun. Topics Covered dalam laporan menyatakan bahwa penggunaan lampu jalan di area rel yang intens harus diperiksa kembali untuk memastikan tidak mengganggu fungsi sinyal. Selain itu, KNKT merekomendasikan peningkatan sistem komunikasi antar kereta untuk mencegah kesalahan serupa.

