Key Strategy: E5 Bensin BBM Mulai Juli di Wilayah RI
Dailynesia.com – Adalah prioritas utama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dalam mendorong penggunaan bahan bakar minyak (BBM) campuran etanol 5% (E5) yang akan dimulai Juli 2026 di sejumlah wilayah Indonesia. Kebijakan ini bertujuan memperkuat ketahanan energi nasional dengan mengandalkan bahan baku lokal, terutama dari sektor pertanian. Dirjen EBTKE Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, menjelaskan bahwa keputusan penggunaan E5 akan diterapkan bertahap, sesuai dengan kemampuan produksi etanol fuel grade dalam negeri.
Penyusunan Rencana Berdasarkan Sumber Daya Lokal
Penerapan mandatori E5 menjadi bagian dari Key Strategy Kementerian ESDM untuk memastikan ketergantungan energi nasional berkurang. Eniya menyatakan bahwa identifikasi kapasitas produksi bahan baku lokal sudah dilakukan, termasuk menetapkan jumlah etanol yang bisa dihasilkan oleh tiga perusahaan nasional. “Target beliau kan 2028 E20, dan ini adalah Key Strategy untuk membangun keberlanjutan energi,”
tegasnya
saat membahas program ini di The 50th IPA Convention & Exhibition (Convex) di ICE BSD, Tangerang.
Proses penyaluran E5 dimulai dengan fokus pada daerah yang memiliki akses langsung ke sumber pasokan lokal. Eniya menjelaskan bahwa keputusan volume distribusi akan ditetapkan melalui Keputusan Menteri (Kepmen) yang mengatur alokasi kapasitas produksi. “Kita ingin mewujudkan Key Strategy ini dengan memastikan bahan baku etanol berasal dari dalam negeri,”
lanjutnya
. Hal ini juga bertujuan mengurangi impor bahan bakar yang biayanya mahal.
Penyaluran Awal di Pulau Jawa
Langkah awal penerapan E5 berfokus pada Pulau Jawa, yang mencakup Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Yogyakarta. Pada fase ini, PT Pertamina (Persero) telah menyiapkan 179 lokasi penyaluran E5, dengan rencana menambah titik distribusi seiring berkembangnya kebijakan tersebut. “Key Strategy ini mencakup peningkatan akses bahan bakar nasional dan keterlibatan pihak lokal,”
kata Eniya
.
Eniya juga menyoroti bahwa pemerintah telah menemukan tiga perusahaan yang mampu memenuhi kebutuhan 26.000 kiloliter etanol fuel grade. Jumlah ini menjadi dasar untuk menentukan volume E5 yang akan diberikan ke pasar. “Penggunaan bahan baku lokal adalah elemen utama Key Strategy, dan kita akan terus memperluasnya,”
terangkannya
. Proses ini akan dilakukan hingga Mei dan Juni 2026 sebelum Kepmen resmi dikeluarkan.
Perluasan ke Bali dan Lampung
Setelah menyelesaikan fase awal di Jawa, pemerintah menargetkan ekspansi distribusi E5 ke Bali dan Lampung dalam beberapa tahun ke depan. Eniya menjelaskan bahwa ini merupakan bagian dari roadmap transisi energi nasional, dengan tujuan meningkatkan penggunaan bahan bakar nabati hingga mencapai E20 pada 2028. “Key Strategy ini juga mencakup diversifikasi bahan baku dari tebu, jagung, dan singkong,”
katanya
.
Kebijakan E5 diperkirakan akan memberikan dampak positif terhadap lingkungan dan ekonomi. Penggunaan etanol dari sumber lokal diperkirakan bisa mengurangi emisi karbon sebesar 60% dibandingkan bahan bakar fosil murni. Selain itu, kebijakan ini diharapkan mendorong pertumbuhan sektor pertanian, khususnya pengolahan tebu dan jagung. “Key Strategy ini menjadi jembatan untuk menuju energi bersih dan ekonomi berkelanjutan,”
kata Eniya
.
Langkah Selanjutnya dan Harapan Masa Depan
Eniya menegaskan bahwa pemerintah terus memantau kemajuan program E5 dan siap menyesuaikan kebijakan jika diperlukan. Ia juga berharap masyarakat dan industri bisa menerima perubahan ini dengan baik. “Key Strategy ini akan terus dikembangkan, termasuk mencari kolaborasi dengan berbagai pihak untuk memastikan keberlanjutan produksi,”
katanya
. Ia menambahkan, ada potensi peningkatan volume E5 seiring tingginya minat dari produsen dan konsumen.
Dengan kebijakan ini, Indonesia berupaya mempercepat transisi energi menuju lebih banyak bahan bakar berbasis nabati. Eniya berharap dalam 3-5 tahun ke depan, sektor produksi etanol dapat memenuhi kebutuhan nasional secara mandiri. “Key Strategy akan terus dijalankan hingga kita mampu mencapai target E20, yang jauh lebih baik dari E5 saat ini,”
lanjutnya
. Kebijakan ini dianggap sebagai langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan pada impor dan meningkatkan ketahanan ekonomi dalam jangka panjang.

