Bos Telkom Pamer Sumber Duit Baru, Baru Sebulan Sudah Ngebut

3 months ago  ·  3 min read
By David Williams - dailynesia.com
telkom-1778554380426_169

Bos Telkom Pamer Sumber Duit Baru, Key Strategy Memperkuat Pertumbuhan Eksternal

Dailynesia.com – Menjadi pilar utama dalam rencana PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. untuk memperkuat keberlanjutan bisnis. Setelah proses spin-off aset dan layanan fiber optik ke anak usaha Infranexia selesai pada Q3 2026, perusahaan berupaya mengoptimalkan sumber pendapatan baru sebagai penggerak utama pertumbuhan eksternal. Dengan strategi ini, Telkom mengharapkan ekspansi ke segmen B2B dan pasar global dapat memberikan dampak signifikan terhadap laba dan pertumbuhan bisnis. Strategi ini tidak hanya berfokus pada monetisasi, tetapi juga pada penguatan ekosistem digital yang lebih efisien.

Struktur Bisnis Baru Telkom dan Kontribusi Pendapatan

Sejak awal 2025, Telkom telah melakukan restrukturisasi bisnis menjadi lima kategori utama, salah satunya adalah B2B Infra yang mencakup Infranexia, Mitratel, NeutraDC, dan Telkomsat. Dalam laporan keuangan tahun 2025, bisnis ini berkontribusi Rp 56,6 triliun, yang menempati posisi kedua setelah bisnis B2C Telkomsel dengan pendapatan mencapai Rp 109,2 triliun. Strategi Key Strategy melibatkan penekanan pada pertumbuhan B2B sebagai cara untuk mengurangi ketergantungan pada segmen konsumen. Dengan spin-off Infranexia, Telkom bertujuan meningkatkan fokus pada layanan berbasis infrastruktur, termasuk jaringan internet kabel yang menjadi bagian penting dari Key Strategy.

Kontribusi Eksternal dari Spin-Off Infranexia

Spin-off Infranexia dianggap sebagai langkah kritis dalam Key Strategy Telkom. Direktur Wholesale & International Service Telkom, Budi Satria Dharma Purba, menyatakan bahwa peningkatan kontribusi pendapatan dari bisnis eksternal segera terasa setelah proses spin-off selesai. Sebelumnya, kontribusi pendapatan dari fiber optik hanya mencapai 15 persen dari total pendapatan, namun setelah spin-off, angka tersebut meningkat menjadi di atas 15 persen. “Kita memang ingin mengejar 25 persen kontribusi eksternal, dan sejak Januari kita mulai mengeksekusinya secara agresif,” tambah Budi. Key Strategy ini terus dikembangkan dengan memperluas jaringan distribusi dan membangun sinergi antar unit usaha.

Perbandingan dengan Bisnis B2C dan Target Pertumbuhan

Secara umum, bisnis B2C Telkomsel masih menjadi penghasil pendapatan utama, tetapi Key Strategy Telkom bertujuan menyeimbangkan peran B2B dalam mendorong pertumbuhan jangka panjang. Saat ini, 70 persen pendapatan Telkom berasal dari segmen B2C, sementara 30 persen dari B2B. Dalam roadmap perusahaan, target tahun 2030 mengharapkan perbandingan pendapatan menjadi 55-45 atau minimal 60-40, yang menjadi bagian dari Key Strategy untuk mewujudkan transformasi digital. Target ini mencerminkan kebutuhan Telkom untuk berinovasi di segmen B2B yang dinamis.

Analisis Pasar dan Tantangan Kompetitif

Segmen fixed broadband, khususnya melalui Indihome, tetap menawarkan peluang pertumbuhan meski menghadapi persaingan ketat. Direktur Utama Telkom, Dian Siswarini, menegaskan bahwa Key Strategy perusahaan mengandalkan potensi eksternal bisnis B2B Infra untuk mengatasi tantangan penurunan pendapatan per pengguna. Meski pasaran mobile sudah luas, pemasaran layanan internet kabel perlu strategi khusus untuk menarik pelanggan baru. Dengan Key Strategy, Telkom berharap meningkatkan daya saing di segmen B2B dan memperluas jangkauan pasar eksternal.

Realisasi Spin-Off dan Pertumbuhan Pendapatan

Pendapatan dari bisnis B2B Infra yang dikelola Infranexia meningkat secara signifikan sejak awal 2026, menunjukkan keberhasilan Key Strategy dalam mengejar ekspansi. Peningkatan ini dipicu oleh strategi pemasaran yang lebih intensif dan fokus pada kepuasan pelanggan. Dengan penyebaran layanan fiber optik yang lebih luas, Telkom berharap bisnis B2B Infra dapat menghasilkan pendapatan lebih besar, menjadikannya bagian penting dari strategi keberlanjutan perusahaan. Keberhasilan ini juga menjadi momentum untuk mengukuhkan posisi Telkom sebagai penyedia layanan infrastruktur digital terdepan.

Persiapan dan Harapan untuk 2026

Key Strategy Telkom akan terus dieksekusi secara agresif di tahun 2026 dengan memperkuat sinergi antar unit usaha dan meningkatkan efisiensi operasional. Direktur Strategic Business Development & Portfolio Telkom, Seno Soemadji, menyatakan bahwa perubahan struktur bisnis ini adalah bagian dari rencana jangka panjang untuk meningkatkan nilai perusahaan. Dengan pendapatan total 2025 mencapai Rp 146,74 triliun dan laba bersih Rp 17,8 triliun, Telkom optimis bahwa Key Strategy akan membawa pertumbuhan yang lebih baik di masa depan. Ekspansi ke pasar eksternal dan pengembangan bisnis B2B akan menjadi faktor utama dalam mencapai target pertumbuhan.

MORE FROM THIS CATEGORY