Danau Toba Surut – Ikan Mati Massal Bergelimpangan

3 months ago  ·  2 min read
By Anthony Johnson - dailynesia.com
3c818f07-5a9c-43b4-884e-56c922428ffd-0

Danau Toba Surut, Ikan Mati Massal Bergelimpangan

Dailynesia.com – Danau Toba, yang terletak di Sumatra Utara, sedang mengalami penurunan volume air yang signifikan. Menurut riset dari Institut Pertanian Bogor (IPB), fenomena ini dipicu oleh durasi kemarau yang terus-menerus. Fenomena ini memiliki potensi mengganggu berbagai aktivitas, terutama sektor perikanan budi daya.

Prediksi BMKG dan Tren Penurunan

Data altimetri satelit mencatat penurunan muka air danau mencapai sekitar 1,6 meter selama periode Juni 2025 hingga Maret 2026. Jika kemarau berlangsung lebih lama, penurunan bisa mencapai 2 meter. BMKG memprediksi kemungkinan terjadi El Nino dan Indian Ocean Dipole (IOD) fase positif bersamaan di tahun 2026, yang akan memperparah kekeringan di wilayah Indonesia.

“Kombinasi El Nino dan IOD fase positif dapat mempercepat penyusutan volume air danau, serta meningkatkan risiko kematian massal ikan di Keramba Jaring Apung,” ujar Ahli Penginderaan Jauh Satelit IPB, Jonson Lumban Gaol.

Kombinasi cuaca ekstrem dan angin kencang menjadi faktor utama dalam kematian ikan. Angin kencang mengaduk sedimen limbah organik dari dasar danau ke permukaan, menyebabkan keruhannya meningkat. Sedimen ini bisa menghambat pernapasan ikan.

Selama beberapa tahun, seperti 2016, 2018, 2020, dan 2023, terjadi penurunan air yang cukup signifikan. Namun, penyebab langsung kematian ikan bukan hanya karena air surut, melainkan akibat interaksi antara kondisi cuaca ekstrem, sedimen, dan oksigen terlarut.

Ketika oksigen di air berkurang, bakteri menguraikan limbah organik secara anaerobik. Proses ini menghasilkan gas beracun seperti hidrogen sulfida dan metana. Gas-gas ini memperburuk kualitas air dan menyebabkan kematian massal ikan di Keramba Jaring Apung (KJA).

Jonson menyarankan para nelayan untuk lebih waspada. Misalnya, saat terjadi angin kencang atau air mulai keruh, sebaiknya menggerakkan KJA ke area perairan lebih dalam atau langsung memanen ikan.

Ia juga menekankan perlunya pemerintah daerah dan pemangku kepentingan mengambil langkah proaktif. Selain imbauan, sistem peringatan dini yang akurat dan cepat sangat diperlukan untuk mengurangi dampak negatif terhadap kawasan perikanan.

MORE FROM THIS CATEGORY