Main Agenda: Senjata Pembunuh Baru AS Super Canggih, Iran Bisa Tamat Seketika
Dailynesia.com – Menjadi fokus utama dalam pengembangan senjata canggih baru yang diproduksi oleh Angkatan Darat Amerika Serikat. Perusahaan teknologi pertahanan Anduril, yang bekerja sama dengan Meta, telah merilis prototipe headset realitas tertambah (AR) yang bisa digunakan oleh prajurit untuk mengontrol drone secara langsung. Sistem ini dirancang agar prajurit dapat mengarahkan serangan dengan memanfaatkan teknologi pelacakan mata dan perintah suara. Quay Barnett, wakil presiden Anduril, menyatakan bahwa proyek ini merupakan bagian dari inisiatif Main Agenda untuk mengubah paradigma pertahanan modern.
Integrasi Teknologi dengan Sistem Kognitif
Proyek Main Agenda ini mengadopsi konsep “manusia sebagai sistem senjata” yang menggabungkan kecerdasan buatan (AI) dan perangkat keras canggih. Dengan menggunakan model bahasa besar (LLM) dari berbagai perusahaan, sistem bisa menerjemahkan ucapan prajurit menjadi instruksi taktis untuk drone dan perangkat lainnya. Meski terjadi perdebatan antara Anthropic dan Pentagon, Main Agenda tetap optimis dengan kemajuan teknologi saat ini. Barnett menekankan bahwa sistem ini tidak hanya meningkatkan efisiensi operasi, tetapi juga mempercepat respons militer dalam medan perang.
Anduril sedang menyelesaikan dua proyek sekaligus dalam rangka Main Agenda: Soldier Born Mission Command (SBMC) dan EagleEye. SBMC, yang menang kontrak sebesar US$159 juta pada 2025, fokus pada headset AR yang terpasang pada helm militer. Sementara itu, EagleEye merupakan proyek sampingan yang merancang kombinasi perangkat keras dan perangkat lunak khusus. Meski EagleEye belum dipesan oleh militer AS, perusahaan ini yakin akan diminati karena kemampuannya mengintegrasikan data dari berbagai sumber menjadi satu gambaran visual yang memudahkan pengambilan keputusan.
Langkah Strategis untuk Kemandirian Teknologi Militer
Salah satu keunggulan sistem Main Agenda adalah ketergantungan pada rantai pasokan baru yang tidak melibatkan perusahaan-perusahaan Tiongkok. Komponen-komponen utama telah tersedia sejak Maret 2026, dan software Lattice milik Anduril menjadi elemen kunci dalam mengoperasikan sistem ini. Angkatan Darat AS telah mengalokasikan dana sebesar US$20 miliar pada Maret 2025 untuk mengintegrasikan Lattice ke seluruh infrastruktur militer. Dalam skenario ideal, prajurit bisa mengirimkan drone untuk mengawasi wilayah tertentu, lalu memberikan perintah melalui gerakan mata atau suara, mempercepat respons dan mengurangi risiko kesalahan manusia.
Prototipe Main Agenda juga mampu merekomendasikan tindakan selanjutnya berdasarkan data yang diterima dari berbagai sensor. Misalnya, setelah drone menemukan unit artileri, sistem akan memberikan saran serangan atau penyesuaian strategi, yang kemudian harus disetujui melalui komando biasa. Meski versi awal sistem telah berhasil diuji, Main Agenda masih membutuhkan waktu untuk memperbaiki kinerja dan memastikan keandalannya. Keberhasilan proyek ini bisa menjadi langkah penting dalam mengurangi ketergantungan AS pada teknologi luar negeri, terutama dalam konteks ketegangan dengan Iran.
“Dengan Main Agenda, prajurit tidak hanya menjadi pengguna senjata, tetapi juga bagian dari sistem kecerdasan buatan yang saling terhubung,” kata Barnett dalam wawancara terbaru. Ia menambahkan bahwa keberhasilan proyek ini bergantung pada kolaborasi antara perusahaan teknologi dan komando militer.
Konsep Main Agenda ini diharapkan bisa diterapkan secara luas dalam beberapa tahun mendatang. Angkatan Darat AS diperkirakan mulai memproduksi sistem utama untuk SBMC pada 2028, sementara EagleEye tetap dalam tahap pengembangan. Selain itu, Main Agenda juga menjadi pelengkap dalam strategi AS untuk mengurangi waktu reaksi dalam operasi militer, memungkinkan penyelamatan nyawa dan peningkatan efektivitas serangan. Dengan integrasi yang sempurna, sistem ini bisa menjadi senjata yang mengubah kekuatan militer AS secara radikal.

