Hasil Kajian Sains Soal Asal-usul Hajar Aswad

3 months ago  ·  3 min read
By William Moore - dailynesia.com
hajar-aswad-dok-presidensi-dua-masjid-sucigph_169

Hasil Kajian Sains Soal Asal-usul Hajar Aswad

Dailynesia.com – Jakarta, Hajar Aswad, batu berwarna hitam yang terletak di sudut Ka’bah, kembali menjadi pusat perhatian umat Muslim selama musim haji 2026. Sebagai objek spiritual yang sangat berharga, Hajar Aswad tidak hanya menjadi simbol kepercayaan umat Islam tetapi juga menarik minat ilmuwan yang ingin memahami misteri sejarahnya melalui pendekatan sains. Kajian ini berupaya menjawab pertanyaan tentang bagaimana batu tersebut terbentuk, sekaligus menggali hubungan antara narasi tradisional dan bukti-bukti arkeologis serta geologis.

Perjalanan Riset Ilmiah tentang Hajar Aswad

What Happened During kajian ilmiah mengenai Hajar Aswad mencerminkan perjalanan panjang yang telah dilalui oleh para peneliti untuk membedah asal-usulnya. Dalam studi yang terkenal, seperti buku New Light on the Origin of the Holy Black Stone of the Ka’ba (1980) oleh E. Thomsen, disebutkan bahwa Harry St John Philby menemukan kawah tumbukan meteor bernama Wabar di Al-Hadidah pada 1932. Kawah tersebut memiliki diameter mencapai lebih dari 100 meter dan ditemukan berisi fragmen-fragmen batuan yang mengandung campuran pasir, silika, serta nikel. Penemuan ini menjadi dasar bagi teori bahwa Hajar Aswad mungkin berasal dari benda langit.

What Happened During dalam proses investigasi menunjukkan bahwa komposisi material batuan di Wabar memperlihatkan ciri-ciri mirip dengan Hajar Aswad. Thomsen menjelaskan bahwa lelehan dari batuan tersebut akan membentuk lapisan putih di bagian dalam dan cangkang hitam di permukaan, sesuai dengan proses pembentukan meteorit. Fenomena warna hitam pada Hajar Aswad dipercaya terbentuk akibat akumulasi nikel dan besi (ferum) dari ledakan di luar angkasa, yang kemudian terendapkan di bawah lapisan putih.

Tradisi dan Ilmu Pengetahuan: Kedua Sisi yang Berbeda

What Happened During tradisi mengisahkan bahwa Hajar Aswad awalnya berwarna putih sebelum berubah menjadi hitam karena menyerap dosa manusia. Sebuah narasi yang telah diwariskan selama berabad-abad, berlawanan dengan teori sains yang menyarankan bahwa batu tersebut mungkin berasal dari objek luar angkasa. Namun, baik narasi tradisional maupun pendekatan ilmiah memiliki bukti-bukti yang mendukung masing-masing perspektif. Bintik-bintik putih yang terlihat pada permukaan Hajar Aswad, misalnya, diduga merupakan sisa-sisa kaca dan pasir yang terbentuk dari kontak dengan udara atau air.

“Batu meteor itu kemungkinan batu yang sama dengan Hajar Aswad,” tulis Thomsen.

What Happened During penelitian sains menegaskan bahwa walaupun ada kemungkinan Hajar Aswad adalah meteorit, teori ini masih memiliki kelemahan. Salah satu pertanyaan utama adalah bagaimana batu tersebut bisa mengapung di permukaan tanah, dibandingkan dengan meteorit yang biasanya tidak memiliki sifat seperti itu. Selain itu, fragmen batuan dari Wabar jarang pecah menjadi bagian-bagian kecil, sedangkan Hajar Aswad tampak utuh sejak lama. Faktor ini mendorong ilmuwan untuk mencari penjelasan lain, seperti keterlibatan proses geologis alami yang terjadi di wilayah Makkah.

What Happened During analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa usia Hajar Aswad mungkin sejalan dengan periode sejarah masyarakat Arab kuno. Beberapa peneliti berpendapat bahwa batu ini bisa berasal dari daerah Oman sebelum dibawa ke Makkah. Perjalanan batu tersebut dari lokasi asal ke Ka’bah diperkirakan terjadi dalam kurun waktu yang sangat lama, baik melalui transportasi alami maupun bantuan manusia. Namun, masalah utama yang masih diperdebatkan adalah bagaimana batu ini bisa bertahan dalam kondisi lingkungan Makkah yang terkenal kering dan panas.

What Happened During beberapa temuan terkini menunjukkan bahwa Hajar Aswad mungkin memiliki lapisan mineral yang melindungi permukaannya dari erosi. Struktur kimiawi khusus ini memungkinkan batu tetap utuh meskipun terpapar sinar matahari dan angin sepanjang tahun. Selain itu, peneliti juga menemukan bahwa komposisi batu tersebut memiliki kesamaan dengan batuan granit yang ditemukan di daerah lain, memperumit teori asal-usulnya. Meski demikian, keberadaan nikel dan besi di dalamnya memberikan petunjuk bahwa Hajar Aswad bisa berasal dari luar angkasa.

What Happened During kajian ini menggambarkan bagaimana sains dan tradisi bisa saling melengkapi dalam menjelaskan misteri Hajar Aswad. Meski belum ada kesimpulan mutlak, temuan-temuan baru memberikan perspektif yang lebih luas. Dengan terus berkembangnya teknologi analisis, mungkin suatu hari kebenaran sejati tentang asal-usul Hajar Aswad akan terungkap, menjembatani antara kepercayaan spiritual dan fakta ilmiah.

MORE FROM THIS CATEGORY