Video: Efek Pelemahan Rupiah ke Leasing, Pengusaha Ungkap Hal Ini!

3 months ago  ·  4 min read
By Linda Miller - dailynesia.com
efek-ngeri-rupiah-anjlok-ke-leasing-daya-beli-anjlok-kepastian-bisnis-terancam-1778570362467_169

Video: Efek Pelemahan Rupiah ke Leasing, Pengusaha Ungkap Hal Ini!

Dailynesia.com – Jakarta, Penurunan nilai tukar Rupiah yang terus menghiasi berita ekonomi akhir-akhir ini telah memicu perhatian industri pembiayaan. Dalam menghadapi krisis global yang memengaruhi daya beli masyarakat dan mengangkat harga komoditas, nilai tukar Rupiah mencapai level Rp 17.500 per Dolar AS, menjadi titik terendah sejak beberapa tahun terakhir. Fluktuasi ini tidak hanya mengurangi nilai uang dalam negeri, tetapi juga menimbulkan tantangan signifikan bagi sektor keuangan, terutama dalam pembiayaan barang impor.

Pengusaha dan Pakar: Pelemahan Rupiah Menekan Daya Beli dan Permintaan

Menurut Ristiawan Suherman, Presiden Direktur CIMB Niaga Finance, penurunan nilai Rupiah berdampak langsung pada biaya impor. “Pembiayaan barang-barang seperti kendaraan listrik, elektronik, atau bahan baku industri harus mengalami kenaikan harga karena dolar AS lebih kuat,” ujarnya dalam wawancara terbaru. Ini berarti, masyarakat kehilangan kemampuan beli terhadap produk-produk yang berasal dari luar negeri, terutama bagi pengusaha yang membutuhkan perangkat keras atau mesin untuk operasional bisnis.

“Pelemahan Rupiah hingga Rp 17.500 per Dolar AS mencerminkan tekanan dari perang dagang dan volatilitas pasar global. Efek domino dari hal ini tidak hanya mengurangi akses ke barang impor, tetapi juga menambah beban biaya operasional perusahaan yang bergantung pada komoditas asing.”

Kenaikan harga komoditas tidak hanya memengaruhi konsumen, tetapi juga berdampak pada perusahaan-perusahaan yang menggunakan bahan baku impor. Misalnya, industri manufaktur yang memerlukan logam mulia atau bahan bakar minyak harus menghadapi biaya produksi yang lebih tinggi, sehingga berpotensi menurunkan profitabilitas. Selain itu, biaya bunga pembiayaan untuk barang-barang seperti mobil atau alat berat juga cenderung meningkat, karena nilai tukar Rupiah melemah.

Kebutuhan Pembiayaan Berubah: Tantangan di Tengah Ketidakstabilan Ekonomi

Ristiawan menjelaskan bahwa kondisi ini mengubah pola permintaan pembiayaan. “Masyarakat dan bisnis mulai lebih hati-hati dalam memilih produk yang dibeli melalui kredit. Mereka lebih memprioritaskan barang lokal karena biayanya lebih terjangkau,” katanya. Namun, hal ini berdampak pada volume transaksi di sektor pembiayaan, terutama pada produk yang bersifat mewah atau berbiaya tinggi.

“Ketidakpastian ekonomi membuat para pengusaha terus mengawasi rasio kredit dan kemampuan pembiayaan pelanggan. Jika harga barang impor terus naik, mungkin akan ada penurunan permintaan dari sektor usaha kecil dan menengah, yang menjadi tulang punggung perekonomian nasional.”

Pelemahan Rupiah juga memengaruhi keputusan investasi. Banyak pengusaha mulai menunda pembelian alat atau mesin baru karena harus menghadapi biaya yang lebih besar. Menurut Ristiawan, hal ini bisa menghambat pertumbuhan ekonomi jika tidak segera diatasi. “Pemerintah dan bank sentral perlu merumuskan kebijakan yang stabil, seperti mengatur cadangan devisa atau menaikkan suku bunga secara bertahap agar tidak terlalu berat bagi masyarakat,” tambahnya.

Strategi Pembiayaan: Adaptasi dalam Tengah Perubahan Makroekonomi

Dalam situasi seperti ini, sektor pembiayaan harus beradaptasi dengan cepat. CIMB Niaga Finance, sebagai salah satu lembaga pembiayaan terkemuka, mulai mengarahkan strategi ke arah produk yang lebih ramah biaya. “Kami fokus pada pembiayaan barang-barang yang berdampak langsung pada kebutuhan sehari-hari, seperti alat elektronik rumah tangga atau kendaraan bermotor yang lebih ekonomis,” jelas Ristiawan.

Perusahaan juga memperketat proses pemantauan kredit. “Dengan nilai tukar Rupiah yang menurun, risiko gagal bayar bisa meningkat. Kami mengintegrasikan analisis gejolak pasar global ke dalam sistem evaluasi kredit untuk meminimalkan kerugian,” tambahnya. Selain itu, Ristiawan menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan sektor keuangan dalam mengatasi tekanan yang dihadapi masyarakat.

Tantangan Pembiayaan 2026: Selengkapnya dalam Dialog dengan Ristiawan Suherman

Menghadapi perubahan makroekonomi yang semakin cepat, industri pembiayaan memperkirakan tantangan besar pada 2026. Ristiawan mengungkapkan bahwa daya beli masyarakat akan terus terpengaruh oleh ketidakstabilan harga komoditas dan pelemahan Rupiah. “Kami memproyeksikan peningkatan persentase bunga kredit sebesar 1,5-2 persen pada semester pertama 2026, karena tekanan inflasi mulai menguat,” katanya.

Menurut Ristiawan, bisnis pembiayaan harus berfokus pada inovasi produk dan penerapan teknologi untuk memudahkan akses ke kredit. “Dengan digitalisasi, kami bisa mempercepat proses pengajuan kredit dan mengurangi risiko administratif. Ini menjadi kunci untuk mempertahankan kepercayaan konsumen di tengah ketidakpastian,” ujarnya. Ia juga memperingatkan bahwa kebijakan moneter yang konsisten akan menjadi faktor penentu dalam menstabilkan perekonomian.

Krisis Rupiah: Tantangan untuk Seluruh Sektor Ekonomi

Pelemahan Rupiah bukan hanya menjadi isu bagi pembiayaan, tetapi juga memengaruhi sektor perdagangan, manufaktur, dan transportasi. “Industri otomotif, misalnya, harus beradaptasi dengan kenaikan harga kendaraan impor yang bisa mencapai 10-15 persen dalam sebulan,” kata Ristiawan. Ini menyebabkan penurunan permintaan kendaraan listrik, yang sebelumnya dianggap sebagai solusi untuk mengurangi emisi karbon.

Di sisi lain, kondisi ini juga memberikan peluang bagi produk lokal. “Masyarakat mulai lebih memilih barang dalam negeri karena harganya lebih terjangkau. Ini bisa memicu pertumbuhan industri manufaktur lokal jika dukungan pemerintah terus diberikan,” terangnya. Namun, Ristiawan mengingatkan bahwa perubahan ini tidak akan terjadi secara instan dan membutuhkan waktu beberapa bulan untuk benar-benar terlihat.

Dalam wawancara yang tayang dalam Power Lunch, CNBC Indonesia, Ristiawan juga menyebutkan bahwa pemerintah harus mengambil langkah-langkah terukur untuk meningkatkan daya beli masyarakat. “Kebijakan subsidi atau pengurangan pajak bisa menjadi solusi sementara, sementara jangka panjang, stabilisasi ekonomi membutuhkan konsistensi dalam kebijakan moneter dan fiskal,” pungkasnya.

Bagi para pengusaha, situasi ini mengharuskan mereka lebih bijak dalam mengelola keuangan. “Permintaan pembiayaan akan berfluktuasi, tetapi dengan persiapan yang matang, bisnis tetap bisa bertahan di tengah tekanan,” kata Ristiawan. Ia menambahkan bahwa perusahaan-perusahaan yang mampu beradaptasi akan memiliki peluang untuk tumbuh meskipun dalam kondisi yang sulit.

Apakah tata kelola ekonomi 2026 akan mengalami

MORE FROM THIS CATEGORY