ADHI Siapkan Divestasi Jalan Tol Solo-Yogyakarta-NYIA Kulon Progo
Dailynesia.com – PT Adhi Karya (Persero) Tbk atau ADHI mengajukan rencana pelepasan seluruh kepemilikannya di PT Jasamarga Jogja Solo (JMJ) kepada PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) atau SMI. Nilai transaksi yang direncanakan mencapai Rp1.765.816.000.000, atau sekitar Rp1,77 triliun.
Langkah tersebut mencakup penjualan 1.714.808 saham JMJ, setara 47,18% dari modal perusahaan pengelola konsesi Jalan Tol Solo-Yogyakarta-NYIA Kulon Progo. Jika seluruh proses diselesaikan, ADHI tidak lagi tercatat sebagai pemegang saham JMJ.
Setelah divestasi terealisasi, kepemilikan JMJ akan berada pada PT Jasa Marga (Persero) Tbk atau JSMR dengan porsi 52,82%. Transaksi ini merupakan salah satu agenda yang akan dibawa ADHI dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa pada Jumat, 13 November 2026, di ADHI Tower, Jakarta Timur.
Penjualan Masih Menanti Persetujuan
ADHI dan SMI telah menandatangani Perjanjian Jual Beli Bersyarat pada 30 September 2026. Penyelesaian transaksi ditargetkan berlangsung paling lambat 30 November 2026, dengan sejumlah prasyarat yang masih harus dipenuhi.
Persyaratan tersebut meliputi konfirmasi dari Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) serta persetujuan pemegang saham ADHI melalui RUPSLB. Pengumuman pelaksanaan RUPSLB telah disampaikan pada 7 Oktober 2026, sementara pemanggilan rapat dijadwalkan pada Kamis, 22 Oktober 2026.
Hak untuk menghadiri rapat diberikan kepada pemegang saham yang namanya tercatat dalam Daftar Pemegang Saham pada penutupan perdagangan Rabu, 21 Oktober 2026.
Nilai penjualan saham JMJ ke SMI berada di atas hasil penilaian pasar. Kantor Jasa Penilai Publik Toto Suharto & Rekan menetapkan nilai pasar saham yang dijual sebesar Rp1,74 triliun per 30 Juni 2026. Harga transaksi Rp1,765 triliun itu lebih tinggi 1,75% dan dinilai wajar oleh penilai independen.
Bagi ADHI, pelepasan saham ini juga dimaksudkan untuk mengurangi kebutuhan tambahan setoran modal ke JMJ. Pada masa awal pengoperasian jalan tol, JMJ diproyeksikan masih membukukan kerugian, sehingga kebutuhan pendanaan lanjutan menjadi pertimbangan dalam strategi perseroan.
Dana Divestasi untuk Utang dan Kebutuhan Operasional
Hasil dari penjualan kepemilikan di JMJ direncanakan untuk beberapa kebutuhan keuangan ADHI. Prioritas penggunaannya mencakup pembayaran utang berbunga, penguatan modal kerja, dan kebutuhan usaha lainnya.
Pengalihan aset investasi ini sejalan dengan arah penataan bisnis yang ingin lebih menitikberatkan kegiatan inti perseroan. Dengan tidak lagi menjadi pemegang saham JMJ, ADHI dapat membatasi eksposur terhadap kebutuhan pendanaan untuk entitas investasi tersebut.
Rencana divestasi turut berkaitan dengan perubahan penggunaan sisa dana dari Penawaran Umum Terbatas dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu atau PMHMETD II yang dilakukan pada Oktober 2022. Agenda perubahan penggunaan dana itu juga akan dimintakan persetujuan pemegang saham dalam RUPSLB.
Sisa Rights Issue Rp378,69 Miliar Diusulkan Menjadi Modal Kerja
PMHMETD II ADHI pada 2022 menghasilkan dana bersih Rp2,65 triliun. Jumlah itu berasal dari Penyertaan Modal Negara tahun anggaran 2022 sebesar Rp1,98 triliun serta dana masyarakat senilai Rp675,5 miliar.
Hingga 30 Juni 2026, masih tersedia dana Rp378,69 miliar. ADHI mengusulkan agar sisa dana tersebut dialihkan untuk modal kerja, bukan lagi untuk penyertaan modal pada entitas investasi.
Usulan ini merupakan bagian dari tindak lanjut Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 2025 mengenai Percepatan Program Penataan BUMN dan/atau Anak Usaha BUMN. Perseroan merencanakan streamlining secara bertahap serta fokus yang lebih kuat pada kegiatan bisnis utama.
Dalam rancangan penggunaan dana yang baru, alokasi modal ke JMJ menjadi Rp1,68 triliun. Angka itu lebih rendah dibandingkan Rp2 triliun yang ditetapkan dalam hasil RUPS pada 30 April 2025. Di prospektus awal, dana yang direncanakan untuk JMJ sebesar Rp1,75 triliun.
Penyesuaian juga terjadi pada beberapa investasi lain. Alokasi untuk PT Jasamarga Jogja Bawen menjadi Rp532,19 miliar dari sebelumnya Rp535 miliar. Dana setoran ke PT Jalintim Adhi Abipraya diturunkan menjadi Rp54,32 miliar dari Rp70 miliar.
Sementara itu, rencana investasi pada bidang pengolahan limbah dan jalan tol dipangkas menjadi Rp2,69 miliar, jauh lebih rendah dari Rp41,5 miliar sebelumnya. Pengurangan pada berbagai pos tersebut menjadi sumber dana yang memungkinkan pengalihan Rp378,69 miliar ke kebutuhan operasional ADHI.
Fokus Menyelesaikan Proyek Carry Over
Dana modal kerja akan diarahkan terutama untuk penyelesaian proyek carry over. Penggunaannya mencakup pembelian bahan dan material konstruksi, pembayaran pekerja serta subkontraktor, mobilisasi peralatan, sampai proyek selesai dan dapat diajukan penagihannya.
Pelaksanaan penggunaan dana direncanakan berlangsung setelah RUPSLB hingga kuartal IV-2026. Tambahan modal kerja diharapkan membantu mempercepat penyelesaian pekerjaan sekaligus mempersingkat perubahan progres proyek menjadi tagihan dan penerimaan kas.
Penguatan modal kerja juga diposisikan sebagai penyangga likuiditas saat terjadi jeda antara arus kas keluar untuk membiayai proyek dan penerimaan pembayaran dari pekerjaan yang telah diselesaikan.
“Perseroan berkeyakinan bahwa Rencana Perubahan Penggunaan Dana tidak memberikan dampak negatif terhadap kondisi keuangan Perseroan,” tulis manajemen ADHI dalam keterbukaan informasi.
ADHI menegaskan bahwa tidak ada transaksi dengan pihak berafiliasi terkait pemanfaatan dana tersebut. Hingga pengumuman rencana ini, belum terdapat perjanjian yang ditandatangani untuk penggunaan modal kerja dimaksud.
Dengan dua agenda yang saling berhubungan ini, ADHI menata kembali sumber pendanaan dan komposisi investasinya. Pelepasan kepemilikan di JMJ berpotensi memperkuat ruang keuangan perseroan, sementara pengalihan sisa dana rights issue ditujukan untuk menjaga kelancaran penyelesaian proyek-proyek konstruksi yang masih berjalan.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Adhi Karya Jual Tol Jogja Solo?
Adhi Karya Jual Tol Jogja Solo is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Adhi Karya Jual Tol Jogja Solo matter?
Adhi Karya Jual Tol Jogja Solo matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

