Cadangan Devisa dan Risalah The Fed Menjadi Perhatian Pasar
Dailynesia.com – Pasar keuangan Indonesia menutup perdagangan Selasa, 6 Oktober 2026, dengan arah yang tidak seragam. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan rupiah sama-sama menguat, sementara pasar surat berharga negara bergerak datar. Pada perdagangan berikutnya, pelaku pasar menanti data cadangan devisa Indonesia sekaligus mencermati perkembangan global, termasuk risalah rapat Federal Reserve dan dinamika konflik Timur Tengah.
Kombinasi sentimen domestik dan eksternal membuat arah aset keuangan masih rentan berubah. Data cadangan devisa penting diperhatikan karena dapat memberi gambaran mengenai kapasitas stabilisasi nilai tukar serta kondisi likuiditas valuta asing nasional. Di sisi lain, pergerakan dolar AS dan pasar obligasi Amerika Serikat tetap menjadi faktor yang memengaruhi keputusan investor di pasar berkembang.
IHSG Ditutup Menguat Lebih dari 1%
IHSG mengakhiri sesi Selasa di posisi 6.192,93, atau naik 74,07 poin setara 1,21%. Indeks memulai perdagangan pada level 6.139,13 dan sempat turun ke titik terendah harian 6.120,24. Setelah itu, penguatan berlangsung bertahap hingga IHSG mencapai puncak intraday 6.216,44.
Menjelang penutupan, indeks sempat mundur dari posisi tertingginya. Namun, tekanan tersebut tidak cukup membawa IHSG keluar dari wilayah positif. Kinerja ini menunjukkan minat beli masih hadir pada sejumlah kelompok saham, meski investor tetap mempertimbangkan berbagai risiko global.
Aktivitas perdagangan tercatat mencapai 468,95 juta lot. Nilai transaksi di bursa sebesar Rp10.970,84 miliar, atau sekitar Rp10,97 triliun. Pergerakan saham yang aktif diperdagangkan turut menopang kenaikan indeks pada hari tersebut.
Sektor energi mencatat lonjakan paling besar dengan kenaikan 4,14%. Sektor teknologi menyusul setelah bertambah 2,7%, sedangkan sektor material dasar naik 2,2%. Penguatan tiga sektor tersebut menjadi motor utama kenaikan IHSG.
Sejumlah saham yang memberikan dorongan besar antara lain PT Bayan Resources Tbk. (BYAN), PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN), PT Mora Telematika Indonesia Tbk. (MORA), PT DCI Indonesia Tbk. (DCII), serta PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO).
Di sisi lain, sejumlah saham justru membatasi penguatan indeks. Saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN), PT Capital Financial Indonesia Tbk. (CASA), dan PT Sinar Mas Multiartha Tbk. (SMMA) menjadi penekan IHSG sepanjang sesi.
Arus Dana Asing Masih Keluar
Kenaikan IHSG belum sepenuhnya sejalan dengan arus dana asing. Di seluruh pasar, investor asing mencatat penjualan bersih Rp629,87 miliar. Pada pasar reguler, nilai jual bersih asing mencapai Rp597,49 miliar.
Akumulasi sejak awal 2026 juga masih menunjukkan arus keluar yang besar. Penjualan bersih asing di seluruh pasar mencapai Rp82,73 triliun secara year to date, sementara pasar reguler mencatat net foreign outflow Rp109,45 triliun. Kondisi ini menjadi pengingat bahwa penguatan indeks harian belum otomatis menggambarkan perubahan arah arus investasi asing dalam jangka panjang.
Rupiah Menguat Tipis Setelah Bergerak Volatil
Nilai tukar rupiah turut ditutup di zona positif terhadap dolar Amerika Serikat. Rupiah berakhir pada Rp17.890 per dolar AS, menguat 0,03% dibandingkan posisi penutupan Senin, 5 Oktober 2026, di Rp17.895 per dolar AS.
Pada awal perdagangan, rupiah sempat menguat ke Rp17.875 per dolar AS. Penguatan tersebut kemudian berbalik dan membawa mata uang Garuda melemah hingga Rp17.915 per dolar AS. Menjelang akhir sesi, rupiah kembali pulih dan ditutup di Rp17.890 per dolar AS.
Pergerakan dolar global ikut memberikan pengaruh. Pada pukul 15.00 WIB, indeks dolar AS atau DXY turun 0,12% ke 102,049. Sebelumnya, indeks yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama itu sempat menyentuh 102,285.
Bagi pasar domestik, pelemahan DXY dapat memberi ruang bagi rupiah untuk menguat. Namun, pelaku pasar tetap perlu memperhatikan perkembangan kebijakan moneter Amerika Serikat, sebab perubahan ekspektasi suku bunga dapat dengan cepat memengaruhi aliran modal dan nilai tukar.
Yield SBN 10 Tahun Tidak Berubah
Pasar obligasi pemerintah bergerak lebih tenang. Imbal hasil SBN tenor 10 tahun tetap berada di 7,167%, sama seperti posisi pada perdagangan sebelumnya. Yield yang tidak berubah menunjukkan pasar surat utang belum menemukan katalis kuat untuk bergerak lebih jauh pada hari itu.
Data cadangan devisa yang akan dirilis menjadi salah satu indikator domestik yang patut dicermati investor obligasi dan valuta asing. Stabilitas cadangan devisa memiliki arti penting dalam menjaga keyakinan pasar terhadap kemampuan perekonomian menghadapi tekanan dari luar negeri.
Wall Street Mencetak Rekor Baru
Sentimen dari Amerika Serikat cenderung positif. Wall Street menguat pada perdagangan Selasa waktu setempat, atau Rabu dini hari waktu Indonesia. S&P 500 naik 0,58% dan membukukan penutupan tertinggi baru di 7.818,93, setelah sebelumnya juga mencetak rekor intraday.
Dow Jones Industrial Average bertambah 253,38 poin atau 0,49% menjadi 51.521,28. Nasdaq Composite meningkat 0,45% dan ditutup pada rekor 27.599,79. Indeks teknologi itu juga sempat menyentuh level tertinggi sepanjang sejarah selama perdagangan berlangsung.
Naiknya saham produsen chip menjadi salah satu penggerak Wall Street. Marvell Technology melonjak 5,8%, sementara Advanced Micro Devices atau AMD naik hampir 3%. Broadcom juga menguat 3,7% di tengah optimisme investor terhadap prospek industri teknologi.
“Semua orang mengatakan pasar sedang naik. AI adalah tempat yang harus dituju,” ujar Stephen Kolano.
Rekor baru di bursa Amerika Serikat dapat membantu menjaga sentimen positif terhadap saham teknologi dan aset berisiko. Meski demikian, pasar Indonesia masih menghadapi sejumlah faktor yang perlu dipantau secara bersamaan: rilis cadangan devisa, arah rupiah, risalah Federal Reserve, pergerakan imbal hasil Treasury AS, serta perkembangan geopolitik di Timur Tengah.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Cadangan Devisa Jadi Sorotan Risalah The Fed?
Cadangan Devisa Jadi Sorotan Risalah The Fed is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Cadangan Devisa Jadi Sorotan Risalah The Fed matter?
Cadangan Devisa Jadi Sorotan Risalah The Fed matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

