Euro Mendekati Titik Terendah Tiga Bulan Saat Dolar AS Menguat
Dailynesia.com – Nilai tukar euro kembali berada di bawah tekanan terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Selasa, 29 September 2026. Mata uang tunggal Eropa itu bergerak di sekitar US$1,137 per euro pada pukul 09.30 WIB, tidak berubah dari posisi sebelumnya, tetapi tetap berada dekat area terlemahnya dalam hampir tiga bulan.
Sehari sebelumnya, Senin (28/9/2026), pasangan EUR/USD berakhir melemah 0,18% di level US$1,137. Pergerakan ini mencerminkan kombinasi sentimen yang kurang menguntungkan bagi euro: pasar menilai Bank Sentral Eropa atau ECB belum tentu akan memperketat kebijakan secara agresif, sementara dolar AS mendapat dukungan kuat dari kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat.
Sikap ECB Menahan Harapan Kenaikan Bunga Agresif
Perhatian pelaku pasar tertuju pada pernyataan Presiden ECB Christine Lagarde terkait lonjakan inflasi di kawasan euro. Inflasi telah melampaui 3% dan diproyeksikan mendekati 4% pada akhir tahun, atau sekitar dua kali sasaran ECB. Meski demikian, otoritas moneter Eropa melihat kenaikan tersebut terutama dipicu oleh melonjaknya harga minyak dan gas di tengah konflik AS-Iran.
ECB belum menemukan indikasi bahwa lonjakan biaya energi telah menyebar luas ke komponen inflasi yang lebih menetap, khususnya kenaikan upah. Bagi bank sentral, perbedaan antara lonjakan harga sementara dan inflasi yang mengakar sangat penting dalam menentukan seberapa cepat suku bunga perlu dinaikkan.
“Kami melihat inflasi akan lebih tinggi, tetapi belum ada tanda bahwa kenaikan tersebut mulai mengakar. Pada tahap ini, kami juga belum melihat bukti bahwa harga energi mendorong kenaikan upah,” kata Lagarde.
Pernyataan tersebut dipahami pasar sebagai sinyal bahwa ECB masih dapat mengambil pendekatan hati-hati. Sejumlah ekonom memperkirakan suku bunga akan dipertahankan dalam pertemuan 29 Oktober, sebelum peluang kenaikan kembali terbuka pada Desember.
Ekspektasi kebijakan yang lebih terukur cenderung membatasi daya tarik euro. Dalam pasar valuta asing, mata uang dengan prospek suku bunga lebih tinggi sering memperoleh dukungan karena investor mempertimbangkan potensi imbal hasil dari aset berdenominasi mata uang tersebut. Karena itu, setiap tanda bahwa ECB tidak terburu-buru mengetatkan kebijakan dapat menambah tekanan pada EUR/USD.
Dolar Didukung Yield Obligasi yang Menanjak
Di sisi lain, dolar AS bergerak lebih perkasa. Indeks dolar AS atau DXY berada di kisaran 101,2 pada perdagangan pagi dan mendekati level tertinggi dalam dua bulan. Sepanjang September, indeks ini mengarah pada kenaikan sekitar 1,8%, yang berpotensi menjadi performa bulanan terbaik sejak Juni.
Penguatan dolar berkaitan erat dengan kenaikan imbal hasil surat utang pemerintah AS. Yield obligasi AS tenor 10 tahun telah menyentuh titik tertinggi sejak 2007. Imbal hasil tenor 30 tahun juga berada pada posisi tertinggi sejak 2004, sedangkan yield tenor dua tahun mendekati 5%, level tertinggi dalam lebih dari dua tahun.
Yield yang meningkat menunjukkan pasar meminta kompensasi lebih besar untuk memegang obligasi pemerintah AS. Dalam kondisi seperti ini, aset dolar dapat terlihat semakin menarik bagi investor, terutama ketika pasar juga memperhitungkan kemungkinan suku bunga The Fed bertahan tinggi atau kembali dinaikkan.
Kenaikan harga minyak turut memperkuat kekhawatiran bahwa tekanan inflasi di Amerika Serikat belum akan mereda cepat. Jika inflasi tetap tinggi, ruang bagi The Fed untuk mempertahankan kebijakan ketat menjadi lebih besar. Pasar kini melihat peluang kenaikan suku bunga The Fed pada akhir Oktober melampaui 70%, naik dari 57% sepekan sebelumnya.
Data AS Menjadi Penentu Arah Berikutnya
Investor akan menanti dua agenda ekonomi penting dari Amerika Serikat pada pekan ini. Data inflasi PCE dijadwalkan keluar pada Rabu, sedangkan laporan ketenagakerjaan akan dirilis Jumat. Kedua data tersebut dapat memberikan gambaran baru tentang kekuatan permintaan domestik, tekanan harga, dan kemungkinan langkah The Fed pada pertemuan berikutnya.
Indeks PCE menjadi salah satu indikator inflasi yang diperhatikan oleh The Fed. Apabila data menunjukkan tekanan harga masih kuat, pasar dapat semakin yakin bahwa bank sentral AS akan menambah kenaikan suku bunga. Sebaliknya, angka yang lebih lunak dapat mengurangi sebagian dukungan dolar dan memberi ruang pemulihan bagi mata uang lain, termasuk euro.
Laporan tenaga kerja juga penting karena pasar kerja yang tangguh dapat memperkuat pandangan bahwa ekonomi AS masih mampu menahan biaya pinjaman tinggi. Namun, pelemahan yang signifikan pada indikator ketenagakerjaan berpotensi mengubah penilaian pasar mengenai kebutuhan pengetatan moneter lanjutan.
Bagi pergerakan euro, perbedaan arah kebijakan antara ECB dan The Fed tetap menjadi faktor utama. ECB menghadapi inflasi yang meningkat akibat gejolak energi, tetapi belum melihat tekanan upah yang lebih luas. Sementara itu, The Fed menghadapi ekspektasi inflasi yang lebih tinggi bersamaan dengan kenaikan yield obligasi yang tajam.
Situasi tersebut membuat EUR/USD rentan terhadap perubahan sentimen dalam waktu dekat. Selama dolar tetap didukung prospek imbal hasil tinggi dan pasar menilai The Fed lebih siap mengetatkan kebijakan dibanding ECB, euro berpotensi kesulitan menjauh dari area terendahnya dalam hampir tiga bulan.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Euro Ambruk Hadapi Dolar AS Sentuh?
Euro Ambruk Hadapi Dolar AS Sentuh is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Euro Ambruk Hadapi Dolar AS Sentuh matter?
Euro Ambruk Hadapi Dolar AS Sentuh matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

