New Policy: Arab Pecah? Saudi-Kuwait Lancarkan Serangan Militer ke Irak
Dailynesia.com – Dalam upaya menegakkan new policy terbaru mereka, Arab Saudi dan Kuwait dilaporkan melakukan serangan udara tersembunyi ke wilayah Irak untuk menyerang kelompok paramiliter yang didukung Iran. Tindakan ini dilaporkan oleh Reuters pada Jumat (15/5/2026) dan berlangsung secara diam-diam, memicu perdebatan mengenai aliansi regional serta strategi baru yang diterapkan oleh kedua negara tersebut. Pihak berwenang mengungkapkan bahwa serangan ini adalah respons terhadap ancaman terhadap daerah negara-negara Teluk, yang semakin menguatkan ketidakpercayaan mereka terhadap jaminan perlindungan militer dari Amerika Serikat (AS). new policy ini dianggap sebagai langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan pada AS dan memperkuat koordinasi antar negara-negara Arab.
Ekspansi Serangan dan Aktor Terlibat
Investigasi terkini mengungkap bahwa ratusan drone yang menyerang infrastruktur Saudi dan Kuwait berasal dari Irak, khususnya dari kelompok Kataib Hezbollah yang berbasis di selatan. Serangan udara oleh jet tempur Arab Saudi terjadi sebelum gencatan senjata antara AS dan Iran berlangsung awal April. Selain itu, Kuwait juga mengklaim bahwa rudal yang diluncurkan dari posisi penting milik kelompok tersebut telah menargetkan area strategis di wilayah Irak. new policy ini mencakup koordinasi lebih ketat antara Saudi dan Kuwait dalam menggalang front bersama, menunjukkan keinginan untuk mengambil inisiatif militer secara mandiri.
Menurut laporan intelijen, serangan udara ini bertujuan untuk menghentikan gerakan milisi pro-Iran yang semakin merangkum wilayah Irak, terutama di provinsi Sulaymaniyah dan Kirkuk. Kedua negara juga menyatakan bahwa new policy mereka melibatkan pembagian tugas dalam mengamankan jalur perdagangan dan meredam aktivitas teror yang menyebar ke wilayah Teluk. Sejumlah ahli politik mengatakan bahwa langkah ini menunjukkan pergeseran kebijakan luar negeri Arab Saudi dan Kuwait dari kepatuhan penuh terhadap AS ke arah kemandirian diplomatik.
Respons dari Iran dan Dampak Regional
Serangan militer oleh Arab Saudi dan Kuwait memicu reaksi tajam dari Iran, yang menganggap tindakan ini sebagai ancaman langsung terhadap keamanan wilayah mereka. Pemerintah Iran menegaskan bahwa kelompok Kataib Hezbollah adalah bagian dari jaringan militer yang mereka jalankan di Irak, dan mengatakan bahwa serangan tersebut akan memperkuat hubungan antara Iran dan Irak. new policy yang diterapkan oleh Saudi dan Kuwait juga berpotensi meningkatkan ketegangan dengan negara-negara lain, terutama dengan negara-negara yang berpengaruh dalam kawasan ini seperti Suriah dan Lebanon.
Dalam wawancara dengan The Guardian, Khaled Almezaini, profesor politik di Universitas Zayed, Abu Dhabi, menekankan bahwa new policy ini mencerminkan ketidakpuasan terhadap AS sebagai kekuatan dominan di Timur Tengah. “Apakah negara-negara Teluk benar-benar memperoleh kemitraan dan dukungan keamanan yang mereka butuhkan jika Amerika Serikat terlibat langsung di kawasan ini?” tanya Almezaini. Pertanyaan ini mencerminkan kekhawatiran bahwa new policy Saudi dan Kuwait akan menjadi bagian dari perang besar antara AS dan Iran, dengan Irak sebagai pangkalan utama untuk operasi militer kedua belah pihak.
“Serangan ini bukan hanya untuk melindungi kepentingan Saudi dan Kuwait, tetapi juga untuk menunjukkan bahwa new policy mereka bisa menyaingi kekuatan militer AS di kawasan ini,” ujar seorang diplomat yang mengetahui situasi di balik layar.
Para analis mengatakan bahwa new policy ini bisa memperkuat posisi Saudi dan Kuwait di tengah persaingan regional, tetapi juga berpotensi memicu konflik yang lebih luas. Selain itu, tindakan ini menimbulkan pertanyaan mengenai stabilitas Irak, yang sebelumnya telah menjadi pangkalan utama bagi berbagai kelompok militer pro-Iran.
Dalam konteks new policy, Arab Saudi dan Kuwait berharap mengurangi ketergantungan pada AS dan mengembangkan strategi pertahanan yang lebih mandiri. Pemerintah kedua negara juga menekankan bahwa serangan udara ini akan membantu memperkuat keamanan daerah mereka, terutama setelah serangan-serangan sebelumnya dari Iran yang menargetkan perbatasan Saudi dan Kuwait. new policy ini dinilai sebagai langkah penting dalam menciptakan kekuatan militer yang lebih terpadu di Timur Tengah, meski ada risiko ketegangan yang berkelanjutan antara negara-negara Arab dan Iran.

