NASA Ungkap Tanda Kiamat, RI Masuk dalam Daftar
Dailynesia.com – Badan antariksa AS, NASA, telah mengungkap indikator kritis yang bisa memicu krisis global di masa depan. Sejumlah kota besar di berbagai belahan dunia, termasuk Jakarta, dinyatakan berada dalam risiko tinggi akibat fenomena kenaikan permukaan laut yang terus meningkat. Data menunjukkan peningkatan air laut diperkirakan mencapai 3 hingga 6 kaki (0,9 hingga 1,8 meter) pada tahun 2100, yang berpotensi mengancam keberlanjutan kota-kota pesisir.
Penyebab utama dari fenomena ini adalah perubahan iklim yang mempercepat pencairan es di kutub-kutub. Akibatnya, air laut mengalami ekspansi termal, sehingga secara langsung mendorong kenaikan permukaan laut. Menurut laporan ilmiah dari Sciencing, diperkirakan ratusan juta penduduk di dunia terancam kehilangan tempat tinggal, terutama mereka yang tinggal di wilayah rendah.
“Pemanasan global mempercepat pencairan es dan ekspansi termal air laut, yang secara langsung mendorong kenaikan permukaan laut,” tulis laporan yang dikutip Sabtu (16/5/2026).
Jakarta: Kota dengan Laju Penurunan Tanah Tercepat
Ibu kota Indonesia, Jakarta, menjadi salah satu kota dengan laju penurunan tanah tercepat di dunia. Permukaan tanah di kota ini turun hingga 17 cm per tahun, yang diperparah oleh posisi geografisnya di dataran rendah dan sejarah sebagai kawasan rawa. Dengan 13 sungai besar yang bermuara ke Laut Jawa, Jakarta rentan terhadap banjir dan kenaikan air laut.
Gejala-gejala ini bukan sekadar prediksi, tapi juga tanda-tanda nyata yang telah terlihat selama beberapa dekade terakhir. Banjir besar pada 2007, misalnya, mengakibatkan 80 korban jiwa dan kerugian mencapai ratusan juta dolar AS. Hal ini menjadi salah satu alasan pemerintah memindahkan ibu kota ke Ibu Kota Nusantara (IKN) sejak 2022.
Kota-Kota Lain yang Terancam
Selain Jakarta, beberapa kota besar dunia juga menghadapi ancaman serupa. Alexandria di Mesir diprediksi 30% wilayahnya akan terendam pada 2050, memaksa 1,5 juta penduduk mengungsi dan mengganggu Delta Nil. Di Amerika Serikat, Miami hanya berada sekitar 1,8 meter di atas permukaan laut, sehingga 60% wilayahnya terancam tenggelam pada 2060.
Lagos di Nigeria mengalami penurunan tanah lebih dari 7,6 cm per tahun, sementara Dhaka di Bangladesh terus tenggelam sekitar 1,3 cm setiap tahun. Yangon di Myanmar berada di dekat sesar Sagaing, yang meningkatkan risiko tenggelam akibat gempa. Bangkok di Thailand mengalami penarikan garis pantai hingga 1 km per tahun, dengan sebagian besar wilayahnya diperkirakan lenyap dalam satu abad.
Peringatan dari Bencana Alam
Di India, Kolkata terkena banjir besar yang memengaruhi 250.000 orang pada 2024, menjadi peringatan terkini akan dampak perubahan iklim. Manila di Filipina juga tenggelam lebih dari 10 cm per tahun akibat ekstraksi air tanah dan kerusakan mangrove. Sementara itu, megametropolis Guangdong-Hong Kong-Makau diperkirakan mengalami kenaikan air laut hingga 1,5 meter dalam 100 tahun ke depan.

