Titiek Soeharto Tanya Soal Swasembada Bawang Putih, Amran Jawab Begini

1 day ago  ·  5 min read
By James Lopez - dailynesia.com
ketua-komisi-iv-dpr-ri-siti-hediati-soeharto-saat-memimpin-rapat-kerja-dengan-menteri-kehutanan-di-gedung-dpr-ri-jakarta-kamis-1764837106246_169

Swasembada Bawang Putih: Tantangan yang Melampaui Angka di Anggaran

Dailynesia.com – Indonesia masih sangat bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan bawang putih di meja makan jutaan rumah tangga. Kesenjangan antara konsumsi nasional dan produksi dalam negeri begitu lebar hingga pemerintah harus bergerak cepat menutup celah tersebut. Dalam rapat kerja Komisi IV DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa (1/9/2026), isu kesiapan anggaran untuk mengejar target swasembada bawang putih menjadi sorotan utama ketika Ketua Komisi IV Siti Hediati Hariyadi—yang lebih dikenal dengan nama Titiek Soeharto—mengajukan pertanyaan langsung kepada Menteri Pertanian Amran Sulaiman.

Anggaran Rp5 Triliun: Cukup atau Tidak?

Kementerian Pertanian telah mengusulkan tambahan anggaran sebesar Rp5 triliun guna mempercepat program swasembada bawang putih. Titiek mempertanyakan apakah jumlah tersebut memadai mengingat ambisi pemerintah untuk mencapai kemandirian pangan di komoditas ini dalam waktu sesingkat mungkin.

“(Dengan) target swasembada bawang putih secepatnya, apakah cukup dengan tambahan kenaikan anggaran seperti ini?”

Pertanyaan itu menggarisbawahi ketegangan antara ambisi politik untuk hasil cepat dan realitas teknis di lapangan. Bagi sebagian pengamat kebijakan pangan, angka anggaran sering kali menjadi tolok ukur yang keliru ketika persoalan sesungguhnya bersifat biologis dan logistik, bukan sekadar fiskal.

Amran: Masalahnya Bukan di Dompet, Tapi di Bibit

Menjawab pertanyaan tersebut, Amran Sulaiman menjelaskan bahwa kementeriannya sesungguhnya menginginkan penambahan anggaran hingga dua kali lipat dari usulan awal. Namun, ia menegaskan bahwa persoalan swasembada bawang putih tidak bisa diselesaikan hanya dengan menggelontorkan dana lebih besar.

“Kami sebenarnya mau tambah lagi dua kali lipat. Ternyata tidak semudah membalik telapak tangan. Ini harus kita ada dormannya. Itu enam bulan,”

Istilah “dormancy” yang disebut Amran merujuk pada masa istirahat fisiologis yang wajib dilalui benih bawang putih sebelum dapat ditanam kembali. Periode enam bulan tersebut menjadi penghalang waktu yang tidak bisa dipangkas dengan tambahan rupiah. Artinya, bahkan dengan anggaran berlipat ganda, siklus biologis tanaman tetap menentukan kecepatan produksi.

Kendala utama, menurut Amran, terletak pada ketersediaan bibit bawang putih yang berkualitas. Untuk mengatasi kelangkaan tersebut, Kementerian Pertanian telah mengutus Direktur Jenderal Hortikultura ke berbagai negara penghasil bibit unggul.

“Nah kami sudah berangkatkan Dirjen Hortikultura ke India, China, bahkan seluruh dunia, karena untuk bibitnya kami ingin bergerak cepat, ternyata bibit itu tidak mudah,”

Bibit yang berhasil diperoleh dari luar negeri kini sedang dikembangkan secara lokal agar kapasitas produksi dapat ditingkatkan secara bertahap. Amran menargetkan peningkatan signifikan pada tahun 2028.

“Sampai sudah ke China, ke India sudah, dan yang bisa kita ambil kita ambil. Ini untuk maksimal, tapi ini kita bibitkan dulu supaya 2028 bisa lebih besar,”

Skala Kesenjangan: 1,1 Juta Ton terhadap 8 Ribu Ton

Angka-angka yang diungkap Amran memperlihatkan betapa masifnya tantangan yang dihadapi. Kebutuhan nasional bawang putih mencapai 1,1 juta ton per tahun, sementara produksi dalam negeri baru menyentuh sekitar 8 ribu ton. Rasio tersebut berarti Indonesia masih mengimpor lebih dari 99 persen kebutuhan bawang putihnya. Dalam konteks ketahanan pangan, ketergantungan sedalam itu membuat negara sangat rentan terhadap fluktuasi harga global, gangguan rantai pasok, dan kebijakan perdagangan negara produsen.

“Kami upayakan swasembada secepatnya, karena kita butuhnya 1,1 juta ton, sedangkan produksi cuma 8 ribu ton,”

Amran kembali menegaskan bahwa keterbatasan bibit, bukan keterbatasan anggaran, merupakan penghambat utama. Ia menyatakan pemerintah mampu mengalihkan sumber daya keuangan bila diperlukan.

“Tapi bukan karena anggarannya, kami bisa alih pindahkan. Bukan karena anggarannya, tetapi ini karena bibitnya sangat terbatas sekali,”

Titiek Dorong Penguatan Bibit Lokal dan Persiapan Lahan

Setelah mendengar penjelasan Amran, Titiek Soeharto beralih ke pendekatan yang lebih pragmatis. Ia mengingatkan bahwa Indonesia sebenarnya sudah memiliki kapasitas untuk menghasilkan bibit bawang putih berkualitas, sebagaimana disaksikannya sendiri saat kunjungan kerja ke kawasan Sembalun, Nusa Tenggara Barat.

“Kita kan sudah bisa juga menghasilkan bibit-bibit bawang putih yang bagus. Kemarin kita sama-sama kunjungan ke Sembalun, nah itu bibitnya kan bagus-bagus. Nah itu bisa diperbanyak mungkin ya dari situ ya Bapak,”

Sembalun, yang terletak di dataran tinggi Lombok Timur, memang dikenal sebagai salah satu sentra budidaya bawang putih di Indonesia. Kondisi agroklimatiknya—khususnya ketinggian dan suhu yang sesuai—membuat wilayah tersebut layak menjadi basis pengembangan varietas lokal.

Di luar aspek bibit, Titiek menekankan pentingnya persiapan lahan baru secara paralel. Karena bawang putih hanya dapat ditanam pada ketinggian tertentu, identifikasi dan pengkajian lahan harus dilakukan sebelum bibit tersedia, agar tidak terjadi penundaan tambahan.

“Yang perlu juga mungkin penyiapan lahan-lahan baru karena itu kan bawang putih di ketinggian tertentu. Jadi sembari mencari bibit yang bagus, dapatnya bibit, lahan-lahan itu sudah dicari-cari dulu di mana kiranya gitu,”

Dengan strategi ini, ketika bibit akhirnya tiba, lahan sudah siap dan penanaman dapat langsung dimulai tanpa menunggu proses administrasi atau persiapan fisik.

Peran BRIN dan BRMP dalam Pengembangan Varietas Unggul

Titiek juga mendorong penguatan riset bibit lokal melalui lembaga penelitian nasional. Ia menyebut Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta Balai Riset dan Pengembangan Pertanian (BRMP) sebagai pihak yang harus dikejar agar mampu menghasilkan varietas bawang putih unggul secara mandiri.

“Jadi begitu ada bibit bisa langsung tanam. Dan yang dari lokal-lokal juga diperbanyak, itu dari BRIN, BRMP itu dikejar juga supaya mereka bisa menghasilkan bibit-bibit unggul untuk bawang putih,”

Dorongan ini sejalan dengan prinsip kedaulatan benih yang telah lama menjadi bagian dari kebijakan ketahanan pangan nasional. Ketergantungan pada bibit impor tidak hanya memperlambat siklus produksi, tetapi juga membuat petani dan pemerintah rentan terhadap perubahan regulasi ekspor negara asal. Pengembangan varietas lokal yang adaptif terhadap kondisi agroekologi Indonesia—khususnya di dataran tinggi—dapat menjadi fondasi jangka panjang bagi swasembada yang berkelanjutan.

Perdebatan di ruang rapat kerja Komisi IV tersebut pada akhirnya memperlihatkan satu hal: mengejar swasembada bawang putih bukan soal seberapa besar angka di kolom anggaran, melainkan soal kemampuan membangun ekosistem perbenihan, menyiapkan lahan secara strategis, dan memanfaatkan kapasitas riset domestik. Anggaran Rp5 triliun—atau bahkan dua kali lipatnya—hanya akan bermakna apabila dibarengi dengan ketersediaan bibit yang memadai dan lahan yang sudah siap menerima tanam. Tanpa dua prasyarat tersebut, setiap tambahan rupiah akan terserap dalam siklus yang tidak pernah mencapai hasil panen.

Frequently Asked Questions

What is Titiek Soeharto Tanya Soal Swasembada Bawang?

Titiek Soeharto Tanya Soal Swasembada Bawang is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Titiek Soeharto Tanya Soal Swasembada Bawang matter?

Titiek Soeharto Tanya Soal Swasembada Bawang matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

More from this category