News

RI Makin Tekor Dagang dengan China, Defisit US$17,67 M Selama 7 Bulan

bestie-banget-china-all-in-ke-indonesia-investasi-terbesar-di-asia-1775130362476_169

Kesenjangan Neraca Dagang Indonesia–China Melampaui US$17 Miliar dalam Tujuh Bulan Pertama 2026

Dailynesia.com – Relasi dagang bilateral antara Jakarta dan Beijing kembali menunjukkan ketimpangan struktural yang kian dalam. Selama Januari hingga Juli 2026, selisih antara nilai impor dan ekspor barang non-migas Indonesia terhadap Tiongkok membukukan angka US$17,67 miliar. Posisi ini menempatkan China sebagai mitra dagang yang menyumbang defisit terbesar bagi perekonomian nasional, melampaui kontribusi negara-negara lain dalam struktur perdagangan Indonesia.

Perbandingan dengan Periode Sebelumnya

Angka tersebut bukan sekadar statistik musiman. Dibandingkan dengan defisit US$13,18 miliar yang tercatat pada periode yang sama tahun sebelumnya, jurang perdagangan non-migas dengan China melebar secara signifikan. Kenaikan sekitar US$4,5 miliar dalam rentang waktu yang identik mengindikasikan bahwa ketimpangan ini bukan fenomena sesaat, melainkan tren yang terus menguat sepanjang tahun berjalan.

Secara agregat, ekspor barang Indonesia ke Tiongkok selama tujuh bulan pertama 2026 hanya mencapai US$40,62 miliar, sementara arus masuk barang dari China menembus US$58,29 miliar. Selisih hampir US$18 miliar ini mencerminkan ketergantungan yang masih tinggi terhadap komponen dan produk manufaktur asal Tiongkok, sementara daya saing barang ekspor Indonesia belum mampu menyeimbangkan arus perdagangan.

Komoditas yang Mendorong Defisit

Analisis berbasis kode Harmonized System (HS) memperlihatkan bahwa tiga kategori barang mendominasi kontribusi defisit. Posisi pertama ditempati oleh mesin dan peralatan mekanik beserta bagiannya (HS84), yang mencatatkan defisit sebesar US$12,45 miliar. Angka ini sendiri sudah melampaui separuh dari total defisit keseluruhan, menunjukkan betapa sentralnya komponen mekanik impor dari China terhadap aktivitas industri domestik.

Menyusul di posisi kedua adalah mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya (HS85) dengan defisit US$12,41 miliar. Kedua kategori ini secara kolektif menyumbang lebih dari US$24 miliar defisit, jauh melampaui total defisit non-migas yang tercatat. Fenomena ini menegaskan bahwa sektor manufaktur Indonesia masih sangat bergantung pada pasokan komponen teknologi dari Tiongkok, baik untuk kebutuhan produksi dalam negeri maupun untuk proses re-ekspor.

Kategori ketiga yang turut memperlebar jurang adalah plastik dan barang dari plastik (HS39), dengan defisit US$3,35 miliar. Meskipun nilainya lebih kecil dibanding dua kategori sebelumnya, kontribusi ini tetap relevan mengingat plastik merupakan bahan baku utama bagi industri kemasan, konstruksi, dan barang konsumen di dalam negeri.

Konfirmasi Resmi dari Badan Pusat Statistik

Temuan ini disampaikan langsung oleh pejabat statistik nasional dalam konferensi pers yang digelar di Gedung BPS, Jakarta, pada Selasa (1/9/2026). Ateng Hartono, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, menegaskan posisi China sebagai sumber defisit non-migas terbesar dalam struktur perdagangan Indonesia.

“Penyumbang defisit non-migas terbesar pada kondisi Januari sampai dengan Juli tahun 2026, yang pertama untuk negara Tiongkok,” ujar Ateng Hartono.

Pernyataan tersebut menggarisbawahi bahwa defisit dengan China bukan lagi anomali musiman, melainkan pola yang konsisten dan mendominasi neraca perdagangan barang Indonesia secara keseluruhan.

Implikasi dan Konteks Struktural

Perlu dipahami bahwa defisit non-migas sebesar ini tidak semata-mata mencerminkan kelemahan ekonomi, melainkan juga konsekuensi dari posisi Indonesia dalam rantai pasok global. Banyak industri manufaktur domestik—mulai dari otomotif, elektronik konsumen, hingga peralatan konstruksi—masih mengandalkan komponen dan sub-assembly yang diproduksi di Tiongkok karena pertimbangan biaya, skala produksi, dan kedekatan geografis logistik.

Di sisi lain, ekspor Indonesia ke China yang didominasi oleh bahan baku mentah dan produk setengah jadi bernilai tambah rendah membuat nilai arus keluar jauh lebih kecil dibanding arus masuk barang jadi. Ketimpangan nilai tambah inilah yang menjadi akar struktural dari defisit yang terus melebar.

Bagi pembuat kebijakan, data ini menjadi pengingat bahwa upaya diversifikasi mitra dagang dan penguatan kapasitas manufaktur domestik bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak. Tanpa peningkatan nilai tambah ekspor dan pengurangan ketergantungan pada komponen impor bernilai tinggi, defisit dengan China berisiko terus mengerek angka-angka yang lebih besar pada bulan-bulan berikutnya, dengan konsekuensi langsung terhadap tekanan kurs, cadangan devisa, dan stabilitas neraca pembayaran nasional.

Perkembangan selanjutnya dari neraca perdagangan bilateral ini akan menjadi indikator penting bagi efektivitas kebijakan industrialisasi dan strategi perdagangan yang sedang ditempuh pemerintah sepanjang sisa tahun 2026.

Frequently Asked Questions

What is RI Makin Tekor Dagang dengan China?

RI Makin Tekor Dagang dengan China is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does RI Makin Tekor Dagang dengan China matter?

RI Makin Tekor Dagang dengan China matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *