Generasi “Zaman Es” Jepang: Bekerja Saat Krisis, Pensiun Dompet Tipis

5 hours ago  ·  6 min read
By Sandra Taylor - dailynesia.com
bendera-jepang-dok-freepik-1748397936912_169

Dailynesia.com – Jakarta, Generasi "zaman es" Jepang menjadi bukti bahwa luka dari krisis ekonomi bisa bertahan jauh lebih lama daripada krisis itu sendiri. Generasi "zaman es" Jepang merujuk pada mereka yang masuk dunia kerja pada 1993-2004, setelah gelembung ekonomi Jepang pecah. Saat ini diperkirakan terdapat 17-20 juta orang berusia 40-50-an yang termasuk dalam kelompok tersebut.

Banyak di antaranya masih bekerja sebagai pekerja non-reguler yang umumnya memperoleh upah lebih rendah, tunjangan lebih sedikit, serta jaminan kerja yang lebih lemah Mereka lulus sekolah atau kuliah saat ekonomi Jepang sedang terpuruk dan perusahaan mengurangi perekrutan. Akibatnya, persaingan kerja sangat ketat dan banyak lulusan gagal mendapat pekerjaan tetap. Sebagian akhirnya bekerja sebagai pekerja kontrak, sementara, atau nonreguler dengan gaji dan perlindungan lebih rendah.

Ada pula yang harus berpindah-pindah pekerjaan untuk bertahan hidup. Masalahnya, dampak tersebut tidak hanya terasa pada pendapatan hari ini, tetapi juga berpotensi menekan tabungan, karier, kepemilikan rumah, hingga besaran pensiun mereka di masa depan. Cerminan generasi es Jepang dialami Torigoe Atsushi.

Dikutip dari The Economist, selama hampir dua dekade, Atsushi (50 tahun), bekerja di bagian gudang sebuah perusahaan fesyen di Tokyo. Selama itu, pendapatannya hanya naik tipis. Belakangan, gajinya bahkan turun setelah perusahaan memangkas bonus dan mengubah skema pengupahan.

Kini, ia hanya mengantongi sekitar JPY3,6 juta atau Rp36 juta per tahun. Dia melihat iklan lowongan perusahaan tersebut yang menawarkan gaji lebih tinggi bagi pekerja baru. "Bagus bahwa anak muda mendapatkan gaji yang lebih baik," katanya.

"Tapi kenapa gaji saya tidak dinaikkan?" tuturnya kepada The Economist. Torigoe dan jutaan generasi es lainnya masuk kelompok Generasi X, mereka kembali tertinggal. Jepang mulai keluar dari periode deflasi selama puluhan tahun, harga-harga meningkat, dan perusahaan memberikan kenaikan gaji terbesar dalam beberapa dekade.

Namun, manfaat tersebut tidak banyak dirasakan generasi zaman es. Kondisi yang lebih buruk bahkan dapat terjadi ketika kelompok besar anak-anak generasi baby boomers ini-yang merupakan salah satu kelompok terbesar terakhir dalam piramida penduduk Jepang-mulai memasuki masa pensiun. Berbeda dengan Generasi Sebelumnya Kesulitan yang dialami generasi zaman es sangat kontras dengan generasi sebelumnya.

Pada era gelembung ekonomi 1980-an, perusahaan Jepang melakukan perekrutan secara besar-besaran. Banyak cerita mengenai mahasiswa yang menemukan kotak surat mereka penuh dengan surat tawaran kerja atau bahkan dijamu makan mewah oleh perusahaan yang berlomba menarik mereka. Semuanya berubah ketika gelembung ekonomi pecah pada awal 1990-an.

Sistem ketenagakerjaan Jepang yang kaku membuat perusahaan sulit memberhentikan pekerja yang sudah ada. Akibatnya, perusahaan memilih mengurangi perekrutan pekerja baru. Rasio lowongan pekerjaan terhadap pencari kerja lulusan perguruan tinggi yang sebelumnya hampir 3 banding 1 anjlok menjadi di bawah 1 pada 2000.

Nagai Toshihisa, yang lulus pada 1999 tak lama setelah krisis keuangan Asia, akhirnya mengubur harapannya untuk bekerja di perusahaan sekuritas. "Rasanya benar-benar sia-sia mencari pekerjaan," kenangnya. Banyak orang dari generasinya mengirim puluhan bahkan ratusan lamaran, tetapi tidak mendapatkan pekerjaan.

Situasi semakin sulit karena jumlah anggota generasi zaman es memang sangat besar sehingga terjadi kelebihan pasokan tenaga kerja. Terjebak dalam Pekerjaan Tidak Tetap Banyak lulusan yang gagal mendapatkan pekerjaan tetap akhirnya masuk ke pekerjaan sementara atau kontrak. Pasar tenaga kerja Jepang membedakan secara tajam antara pekerja reguler, yang memiliki perlindungan hukum kuat dan kenaikan gaji berdasarkan senioritas, dengan pekerja non-reguler, yang sering melakukan pekerjaan serupa dengan upah jauh lebih rendah dan menjadi kelompok pertama yang terkena PHK ketika ekonomi memburuk.

Pekerjaan semacam ini sebelumnya banyak diisi ibu rumah tangga yang ingin menambah pendapatan keluarga. Namun semakin banyak anak muda yang terpaksa mengambil pekerjaan tersebut untuk menghidupi diri sendiri, menurut Kondo Ayako dari Universitas Tokyo. Istilah "freeters", yang merujuk pada anak muda yang berpindah-pindah pekerjaan informal, kemudian menjadi populer.

Begitu pula istilah "parasite singles", yaitu orang dewasa yang masih bergantung pada orang tua. Kekhawatiran terhadap fenomena hikikomori, atau orang yang menarik diri dari kehidupan sosial, juga semakin meningkat. Sudah Mendapat Pekerjaan Tetap, Tetapi Gaji Masih Tertinggal Waktu dan kelangkaan tenaga kerja yang semakin parah memang telah memperbaiki sebagian kerusakan tersebut.

Menurut Shimoda Yusuke dari Japan Research Institute, proporsi generasi zaman es yang kini memiliki pekerjaan reguler sebagian besar telah mengejar generasi yang lebih tua. Namun, pendapatan mereka belum mengejar. Mereka yang menghabiskan waktu lama dalam pekerjaan non-reguler cenderung tidak mampu sepenuhnya mengejar pendapatan rekan-rekan mereka meskipun akhirnya masuk jalur pekerjaan reguler.

Mereka yang sudah bekerja tetap juga menghadapi masalah lain. Posisi senior di perusahaan masih dipenuhi pekerja yang direkrut pada era gelembung ekonomi. Hal ini membuat promosi bagi generasi berikutnya menjadi lebih lambat.

Rendahnya mobilitas tenaga kerja di Jepang juga membuat generasi yang kurang beruntung ini sulit berpindah perusahaan untuk mendapatkan gaji yang lebih tinggi. Ekonomi Jepang kini berubah. Setelah tiga dekade mengalami stagnasi, upah mulai meningkat seiring kembalinya inflasi, sementara perpindahan pekerjaan juga semakin umum.

Namun, perbaikan tersebut terutama dinikmati pekerja muda. Perusahaan yang kekurangan tenaga kerja berlomba mendapatkan pekerja baru dan menawarkan gaji lebih tinggi untuk menarik serta mempertahankan mereka. Sebaliknya, pekerja paruh baya jauh lebih jarang berpindah pekerjaan sehingga perusahaan memiliki sedikit insentif untuk menaikkan gaji mereka.

Menurut Kumano Hideo, ekonom dari Dai-ichi Life Research Institute, gaji nominal pekerja berpendidikan perguruan tinggi berusia 20-an dan 30-an pada 2025 telah 10-16% lebih tinggi dibandingkan lima tahun sebelumnya. Sementara itu, pekerja berusia awal 50-an justru mengalami penurunan nominal sebesar 1,3%. Abe Katsuya, 48 tahun, mengatakan kenaikan gaji besar yang diberikan kepada pekerja muda menimbulkan perasaan campur aduk.

Ia merupakan anggota "Mammoth Club", kelompok dukungan bagi generasi zaman es yang mengidentifikasi diri dengan hewan mamut yang mampu bertahan melewati masa-masa sulit. Bom Waktu Pensiun Semua kondisi tersebut membuat generasi zaman es memiliki pendapatan seumur hidup yang rendah dan, akibatnya, tabungan yang terbatas. Situasi ini mengarah pada potensi krisis ketika mereka memasuki usia lanjut.

Sistem pensiun Jepang mengaitkan pembayaran pensiun dengan pendapatan sepanjang masa kerja. Artinya, puluhan tahun menerima upah rendah akan berujung pada pensiun yang rendah pula. "Orang-orang yang kebetulan memasuki usia produktif ketika ekonomi sedang mengalami penurunan kemungkinan akan membawa kerugian tersebut sepanjang hidup mereka," ujar Kumano.

Mendorong mereka bekerja lebih lama, seperti yang sudah dilakukan semakin banyak warga lanjut usia Jepang, bisa menjadi salah satu solusi. Namun, langkah tersebut tidak akan menyelesaikan seluruh masalah. Kondo memperingatkan bahwa sebagian dari mereka mungkin akhirnya bergantung pada bantuan sosial, yang pada dasarnya tidak dirancang untuk menopang warga lanjut usia dalam jangka panjang.

Bebannya juga mahal bagi negara karena, misalnya, pemerintah menanggung penuh biaya medis penerima bantuan sosial. Masalah semakin rumit karena generasi setelah generasi zaman es jumlahnya lebih sedikit. Artinya, semakin sedikit pekerja harus menopang semakin banyak pensiunan.

Masalah Generasi Zaman Es Belum Selesai Pemerintah Jepang sebenarnya telah lama memperhatikan persoalan generasi zaman es. Selama puluhan tahun, berbagai program dibuat untuk membantu mereka mendapatkan pekerjaan serta mendorong mereka yang mengisolasi diri agar kembali terhubung dengan masyarakat. Namun, semakin bertambahnya usia mereka, muncul masalah-masalah baru.

Selain persoalan pensiun dan tabungan yang minim, masalah perumahan juga mulai mengemuka. Dibandingkan warga Jepang yang lebih tua, generasi ini memiliki kemungkinan lebih kecil untuk memiliki rumah. Sementara itu, pasar sewa Jepang juga cenderung tidak ramah terhadap penyewa lanjut usia.

Pemerintah akhirnya mulai menyesuaikan kebijakan. Pada April, pemerintah menyusun rencana tiga tahun untuk generasi zaman es, yang mencakup berbagai langkah mulai dari pembangunan aset hingga dukungan perumahan. Namun, masih dibutuhkan pemikiran dan kebijakan yang jauh lebih serius untuk menyelesaikan persoalan generasi yang telah menanggung dampak krisis ekonomi Jepang selama puluhan tahun.

Frequently Asked Questions

What is Generasi Zaman Es Jepang?

Generasi Zaman Es Jepang is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Generasi Zaman Es Jepang matter?

Generasi Zaman Es Jepang matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

More from this category