Harga Minyak Mendekati US$100 Lagi, Perang AS-Iran Kembali Jadi Pemicu

14 hours ago  ·  3 min read
By David Williams - dailynesia.com
usa-oilproduction-1767530216300_169-1

Harga Minyak Mendekati US 100 Lagi: Eskalasi AS–Iran Dorong Brent ke US$92

Dailynesia.com – Narasi bahwa harga minyak mendekati US 100 lagi kembali mendominasi ruang diskusi analis energi global. Pada sesi perdagangan Kamis, 20 Agustus 2026, kontrak Brent melonjak ke US$92,04 per barel per pukul 09.20 WIB, menguat 0,46% dari penutupan sesi sebelumnya di US$91,62. Acuan domestik Amerika, West Texas Intermediate (WTI), ikut naik 0,34% ke US$86,12 dari posisi US$85,83 sehari sebelumnya, berdasarkan data Refinitiv. Penguatan ini memperpanjang reli yang telah berlangsung sepanjang pekan terakhir.

Dalam kurun waktu tujuh hari, Brent telah mengakumulasi kenaikan lebih dari 3,4%, sementara WTI mencatat lonjakan sekitar 4%. Premi risiko geopolitik tetap menjadi katalis utama di balik pergerakan tersebut. Selama situasi di Timur Tengah belum mereda, pelaku pasar memperkirakan tekanan jual terbatas dan harga akan bertahan di kisaran level tinggi.

Selat Hormuz: Kontradiksi Narasi Washington dan Teheran

Koridor pelayaran Selat Hormuz, yang menyalurkan sekitar seperlima dari total perdagangan minyak dunia, masih menjadi titik paling rawan bagi rantai pasok energi. Arus kapal di kawasan itu tercatat melambat karena pemilik armada memilih menahan diri hingga ada kepastian keamanan rute. Washington dan Teheran saling membantah soal status operasional jalur tersebut, memperkeruh ketidakpastian yang sudah melanda pasar.

“Tidak ada pembicaraan dengan Iran, dan Selat Hormuz telah terbuka,” tegas Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Teheran membantah keras pernyataan itu dan menyatakan jalur pelayaran masih dalam kondisi tertutup. Kontradiksi kedua belah pihak membuat operator pelayaran tetap bersikap waspada dalam menentukan rute, sehingga volume transit tidak kembali ke level normal.

Langkah UAE dan Sinyal Campur dari Data Stok AS

Tegangan diplomatik diperparah oleh keputusan Uni Emirat Arab menghentikan seluruh transaksi keuangan dan ekonomi dengan Iran tanpa batas waktu yang ditentukan. Langkah itu menambah lapisan ketidakpastian bagi pasar yang sudah tertekan oleh konflik bersenjata AS–Iran dan memperlebar premi risiko di seluruh instrumen energi.

Dari sisi fundamental, laporan mingguan Energy Information Administration (EIA) menyajikan gambaran yang tidak seragam. Persediaan minyak mentah Amerika tercatat bertambah 4,4 juta barel pada pekan yang berakhir 14 Agustus, berbanding terbalik dengan konsensus pasar yang semula memperkirakan penurunan sekitar 600 ribu barel. Stok bensin juga mengalami kenaikan, sementara persediaan produk distilat justru menyusut. Peningkatan stok mentah mengisyaratkan bahwa pasokan domestik AS masih relatif memadai, sehingga berpotensi membatasi ruang kenaikan harga di pasar spot.

Selama tidak terjadi eskalasi baru atau perubahan prospek pasokan global, pelaku pasar diperkirakan mempertahankan premi risiko yang menahan harga minyak di kisaran level tinggi. Spekulasi bahwa harga minyak mendekati US 100 lagi akan tetap menjadi topik sentral hingga konflik AS–Iran menemukan jalur resolusi yang kredibel.

FAQ: Pertanyaan Umum tentang Pergerakan Harga Minyak

Apa faktor utama yang mendorong harga minyak mendekati level US$100? Faktor dominan adalah eskalasi konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran, ditambah ketidakpastian status operasional Selat Hormuz. Kombinasi kedua elemen tersebut menciptakan premi risiko yang menahan harga di kisaran tinggi meskipun data stok domestik menunjukkan pasokan memadai.

Bagaimana dampak penutupan Selat Hormuz terhadap pasokan minyak global? Selat Hormuz menyalurkan sekitar 20% perdagangan minyak dunia. Jika jalur benar-benar tertutup atau arus pelayaran melambat berkepanjangan, pasokan spot akan tertekan secara signifikan dan harga berpotensi menembus level US$100 per barel dalam waktu singkat.

Apa implikasi kenaikan stok minyak mentah AS bagi harga spot? Peningkatan 4,4 juta barel pada pekan berakhir 14 Agustus menunjukkan pasokan domestik masih melimpah. Kondisi ini membatasi ruang kenaikan harga di pasar spot dan memberikan bantalan bagi konsumen, meskipun tekanan geopolitik tetap mendominasi sentimen pasar.

More from this category