Bukan Roket atau Peluru, “Hantu” Ini Bisa Bikin Iran Runtuh dari Dalam

2 days ago  ·  3 min read
By David Williams - dailynesia.com
orang-orang-berkumpul-setelah-gencatan-senjata-selama-dua-minggu-dalam-perang-iran-diumumkan-di-teheran-iran-8-april-2026-1775617268762_169

Ekonomi Iran Terjepit: Inflasi 66% dan Ancaman Sanksi Baru Mengancam Stabilitas dari Dalam

Dailynesia.com – Pemerintah Teheran terus menegaskan bahwa negaranya sanggup bertahan dalam konfrontasi bersenjata dengan Amerika Serikat. Namun, di balik retorika ketahanan militer itu, realitas ekonomi domestik justru memburuk secara dramatis. Ancaman sanksi baru dari Presiden Donald Trump dikhawatirkan akan memperdalam penderitaan warga, memicu gelombang protes kembali, dan mengikis legitimasi rezim Republik Islam.

Trump menyatakan pada Jumat bahwa ia akan menghantam Iran dengan tekanan ekonomi yang jauh lebih keras. Satu hari sebelumnya, Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyebut Washington akan menerapkan langkah terhadap Teheran yang “belum pernah dilihat sebelumnya”, dengan kemungkinan pemberlakuan mulai pekan berikutnya. Hingga saat ini, detail spesifik mengenai bentuk sanksi atau instrumen ekonomi yang akan digulirkan belum diumumkan secara terbuka.

Tiga Pejabat Iran: Krisis Ekonomi Berpotensi Picu Keresahan Nasional

Reuters memperoleh keterangan dari tiga pejabat Iran — dua di antaranya aktif di ranah politik dan satu merupakan mantan pejabat — ditambah 12 warga biasa. Seluruh narasumber meminta anonimitas karena takut akan pembalasan atau tidak berwenang berbicara ke media. Mereka sepakat bahwa perburukan kondisi ekonomi berisiko membangkitkan kembali gejolak sosial berskala besar.

Iran memang masih menunjukkan daya tahan setelah hampir enam bulan konflik yang secara efektif menutup Selat Hormuz, jalur krusial pasokan minyak global. Akan tetapi, ketahanan itu berakar pada ekonomi yang sudah rapuh sebelum perang dimulai: inflasi tinggi, pelemahan mata uang, defisit energi, sanksi berlapis, serta persoalan struktural yang menumpuk. Perang kini menambah kerusakan infrastruktur, gangguan rantai perdagangan, hilangnya kapasitas produksi, serta kebutuhan anggaran masif untuk pemulihan fasilitas yang hancur.

Inflasi Tembus 66%, Harga Pangan Melonjak 128%

Data Pusat Statistik Iran menunjukkan tingkat inflasi tahunan mencapai 66% pada Juli. Harga konsumen naik 87,9% secara year-over-year, sementara inflasi pangan menyentuh angka 128% dalam periode yang sama. Bagi rumah tangga biasa, angka-angka itu berarti gaji yang habis dalam hitungan hari dan kemampuan membeli kebutuhan pokok yang menyusut drastis.

Warga di Garis Depan Krisis

Arshia, seorang insinyur sipil asal Kota Isfahan di Iran tengah, telah bekerja selama satu dekade di industri konstruksi sebelum perang mengubah segalanya. Proyek-proyek yang dulu menjadi sumber penghasilannya kini tertunda atau dibatalkan, biaya hidup melonjak, dan tidak ada tanda pemulihan dalam waktu dekat. Ia ayah dari dua anak.

“Saya khawatir. Jika Trump menjatuhkan lebih banyak sanksi, bagaimana rakyat biasa bisa bertahan? Saya tidak ingin negara saya dihukum secara militer atau ekonomi. Kami sudah kesulitan.”

Kisah Arshia bukan pengecualian. Serangan AS telah menghancurkan pabrik, pembangkit listrik, jaringan transportasi, dan infrastruktur vital lainnya, menambah beban pada ekonomi yang sudah terbebani sebelum konflik pecah.

Mohsen, 53 tahun, dari Kota Bandar Abbas di wilayah selatan Iran, terpaksa menutup usaha kecil impor-ekspornya ke negara-negara Teluk. Keputusan itu diambil setelah Iran membalas serangan AS dengan menargetkan pangkalan dan aset Amerika di kawasan tersebut.

“Saya harus memecat 10 karyawan. Itu menyakitkan, tetapi saya tidak punya pilihan. Saya tidak lagi mampu membayar gaji mereka, dan sekarang saya mengandalkan tabungan untuk menghidupi keluarga saya.”

Siaga Sosial: Pengangkatan Taeb ke Puncak Basij

Bagi para penguasa Iran, risiko terbesar bukan sekadar penderitaan ekonomi itu sendiri, melainkan kemungkinan bahwa perburukan kondisi hidup akan kembali memicu demonstrasi massal. Pengangkatan Hossein Taeb sebagai pemimpin milisi Basij pada pekan lalu dinilai sebagai sinyal paling jelas atas kekhawatiran tersebut, menurut seorang mantan pejabat reformis.

Taeb dikenal sebagai salah satu arsitek utama tindakan penindakan terhadap gelombang protes sebelumnya. Basij sendiri merupakan milisi sukarelawan paramiliter yang berafiliasi dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). Kedua entitas itu pernah digunakan penguasa untuk meredam oposisi di dalam negeri.

Frequently Asked Questions

What is Bukan Roket atau Peluru Hantu Ini Bisa?

Bukan Roket atau Peluru Hantu Ini Bisa is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Bukan Roket atau Peluru Hantu Ini Bisa matter?

Bukan Roket atau Peluru Hantu Ini Bisa matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

More from this category