Minggir Amerika! Dolar Taiwan & Rupiah Jadi Raja Asia Pekan Ini

5 days ago  ·  4 min read
By Daniel Rodriguez - dailynesia.com
global-forex-1774396346862_169-1

Mata Uang Asia Berkinerja Cemerlang, Rupiah dan Dolar Taiwan Unggul

Dailynesia.com – Jakarta – Penutupan perdagangan pada hari Jumat, 14 Agustus 2026, menunjukkan mayoritas mata uang Asia mengalami penguatan. Meskipun demikian, jika diamati dalam kurun waktu satu minggu penuh, sebagian besar justru melemah. Rupiah menjadi salah satu yang berhasil membalikkan tren negatif di awal sesi, didorong oleh pelemahan dolar Amerika Serikat di pasar internasional.

Berdasarkan data Refinitiv, nilai tukar rupiah pada Jumat tersebut menguat sebesar 0,22 persen dan menyentuh level Rp17.820 per dolar AS. Ini merupakan kenaikan kedua berturut-turut, menyusul kenaikan tipis 0,03 persen pada hari sebelumnya. Secara mingguan, rupiah mencatatkan penguatan sebesar 0,36 persen. Sebagai perbandingan, pada akhir pekan sebelumnya, rupiah masih berada di posisi Rp17.880 per dolar AS.

Dolar AS Tertekan, Katalis Positif untuk Asia

Indeks dolar Amerika Serikat melandai ke angka 99,67, menandai level terlemahnya dalam enam hari perdagangan pada Jumat. Kondisi ini menjadi pendorong positif bagi mata uang Asia. Dolar Taiwan dan rupiah menjadi yang terdepan dalam penguatan, sementara Peso Filipina menjadi satu-satunya yang melemah.

Pelemahan dolar AS dipicu oleh data inflasi Amerika Serikat yang menunjukkan tanda-tanda mendingin. Data Producer Price Index (PPI) untuk Juli 2026 tercatat tidak berubah secara bulanan, lebih rendah dari perkiraan ekonom yang memprediksi kenaikan 0,2 persen. Sebelumnya, pada Juni, PPI justru mencatat penurunan sebesar 0,1 persen.

Data tersebut memperkuat indikasi bahwa tekanan inflasi di AS mulai mereda. Hal ini mengurangi ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) pada bulan September. Data inflasi konsumen AS juga menunjukkan kenaikan harga yang relatif terbatas pada Juli, baik inflasi tahunan maupun inti.

Kombinasi berbagai data tersebut membuat pasar kembali memangkas ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed. Peluang kenaikan suku bunga pada September kini diperkirakan hanya sebesar 35 persen, turun dari 40 persen pada hari Rabu dan 55 persen pada minggu sebelumnya. Ekspektasi kenaikan suku bunga yang semakin rendah membuat imbal hasil aset AS kurang menarik dan menekan dolar. Kondisi ini memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, untuk menguat.

Meski Kuat di Jumat, Melemah dalam Sepekan

Dolar AS yang lebih lemah memberikan angin segar bagi mata uang Asia, yang sebelumnya berada di bawah tekanan akibat penguatan dolar AS dan tingginya imbal hasil obligasi AS. Namun, dalam sepekan, banyak dari mata uang Asia yang melemah. Dolar Taiwan memimpin dengan penguatan 0,72 persen disusul dengan rupiah. Sebaliknya, mata uang Peso, won, hingga rupee masih melemah dalam sepekan.

Dengan melemahnya indeks dolar, bank sentral di kawasan Asia kini berpotensi lebih leluasa dalam mengelola kebijakan moneter masing-masing, seiring menurunnya risiko arus modal keluar dan depresiasi mata uang. Namun, para analis mengingatkan bahwa langkah The Fed selanjutnya masih sangat bergantung pada data ekonomi. Jika inflasi kembali meningkat, tren saat ini dapat dengan cepat berbalik.

Peso Filipina Tertekan oleh Harga Minyak

Peso Filipina kembali melemah ke level 61,26 per dolar AS, turun 55,5 centavos dari posisi sebelumnya. Pelemahan terjadi saat harga minyak Brent mendekati US$90 per barel setelah negosiasi AS-Iran kembali menemui jalan buntu. Sebagai net importir minyak, kenaikan harga minyak meningkatkan kebutuhan Filipina terhadap dolar AS dan menekan peso. Harga Brent sendiri naik sekitar 5 persen dalam dua hari.

Ekonom Union Bank of the Philippines Ruben Carlo O. Asuncion menilai pelemahan peso lebih banyak dipicu faktor global, seperti kenaikan imbal hasil US Treasury, penguatan dolar AS, dan lonjakan harga minyak akibat ketegangan Timur Tengah.

“Kenaikan imbal hasil US Treasury, dolar AS yang lebih kuat, serta lonjakan harga minyak akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah kemungkinan membebani mata uang negara berkembang, termasuk peso,” ujarnya kepada Reuters.

Selama harga Brent bertahan di sekitar US$90 per barel dan imbal hasil US Treasury tetap tinggi, peso diperkirakan masih menghadapi tekanan. Ke depan, pergerakan peso akan sangat bergantung pada data inflasi AS, ekspektasi kebijakan The Fed, harga minyak, dan perkembangan geopolitik. Pelemahan berkepanjangan juga berisiko meningkatkan inflasi impor Filipina.

MUFG: Mata Uang ASEAN Masih Rentan

MUFG Bank memperingatkan mata uang negara-negara ASEAN semakin rentan terhadap kombinasi faktor eksternal yang belum sepenuhnya teratasi.

Frequently Asked Questions

What is Minggir Amerika Dolar Taiwan Rupiah Jadi?

Minggir Amerika Dolar Taiwan Rupiah Jadi is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Minggir Amerika Dolar Taiwan Rupiah Jadi matter?

Minggir Amerika Dolar Taiwan Rupiah Jadi matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

More from this category