Trump Abaikan Kritikan, Iran Tolak Klaim Selat Hormuz
Dailynesia.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menjadi sorotan publik setelah meremehkan situasi para pelaut USS Abraham Lincoln. Kapal induk tersebut telah berlayar hampir sembilan bulan tanpa henti. Kekhawatiran akan kesehatan mental kru serta kecukupan logistik semakin meningkat, namun Trump bersikeras bahwa keluarga awak kapal tidak mengeluh tentang lamanya penugasan. Ia bahkan menilai durasi tersebut masih tergolong singkat, padahal USS Abraham Lincoln sudah lebih dari 240 hari berada di tengah lautan tanpa singgah ke pelabuhan.
“Kapal itu sedang bergerak sekarang, atau akan segera bergerak, dan akan digantikan oleh kapal lain yang sangat mirip,” ujar Trump seperti dilansir APNews pada Sabtu (15/6/2026).
Sementara itu, Pelaksana Tugas Menteri Angkatan Laut Hung Cao melalui platform media sosial mengonfirmasi bahwa USS Abraham Lincoln akan segera kembali ke Amerika Serikat. Keputusan ini menarik perhatian karena Trump sebelumnya berjanji akan meminimalkan keterlibatan militer yang memakan biaya besar saat memulai periode kedua kepemimpinannya. Namun, realitas berubah setelah ia meluncurkan serangan militer bersama Israel terhadap Iran. Konflik yang semula diprediksi hanya berlangsung beberapa minggu kini telah memasuki bulan kelima.
Dalam orasi di Garden City, New York, Trump mengakui penggunaan kekuatan militer AS sedikit melebihi ekspektasi, namun ia meyakini operasi di Iran berjalan lancar. Ia bahkan sempat melontarkan lelucon bahwa sebentar lagi Selat Hormuz akan dinyatakan sebagai bagian dari wilayah Amerika Serikat. Terkait perang tersebut, Trump tegas menolak permintaan maaf atas dampaknya terhadap harga minyak dunia.
“Saya tidak akan pernah meminta maaf. Saya melakukan hal yang benar,” tegasnya.
Penugasan berkepanjangan kapal induk selama konflik Iran menimbulkan kekhawatiran tersendiri. Tekanan terhadap personel militer yang terpisah dari keluarga dalam waktu lama semakin terasa, begitu pula dengan kondisi fisik kapal dan peralatannya. Senator Richard Blumenthal dari Connecticut dan Senator Ruben Gallego dari Arizona, keduanya dari Partai Demokrat, menuntut Pentagon memberikan penjelasan atas situasi di USS Abraham Lincoln. Sebelumnya, Menteri Pertahanan Pete Hegseth mengklaim bahwa laporan mengenai kondisi kapal telah ditafsirkan secara keliru.
Anggota DPR Jason Crow, yang merupakan veteran tiga kali penugasan di Irak dan Afghanistan, menyuarakan kritik melalui media sosial X. Ia menuduh Presiden Trump tidak peduli pada anggota militer dan keluarga mereka. Pimpinan Demokrat di Komite Pengawasan DPR juga meminta pengarahan tertutup dari Pentagon terkait persediaan makanan, masalah sanitasi, akses layanan kesehatan, serta estimasi waktu sebelum USS Abraham Lincoln mendapat kapal pengganti.
Laporan tentang tekanan psikologis di kalangan awak kapal semakin menarik perhatian publik. Angkatan Laut AS menyatakan belum ada peningkatan signifikan dalam kasus pikiran bunuh diri maupun percobaan bunuh diri di atas USS Abraham Lincoln. Namun, pihak angkatan laut memilih tidak mempublikasikan data tersebut demi menjaga keamanan operasional dan privasi pasien. Seorang pejabat angkatan laut mengungkapkan bahwa seorang pelaut USS Abraham Lincoln sempat jatuh ke laut pada awal Agustus. Personel itu berhasil diselamatkan, menerima perawatan dari tim medis kapal, lalu dipindahkan ke fasilitas lain untuk penanganan lebih lanjut. Hingga kini, belum jelas apakah insiden tersebut dikategorikan sebagai percobaan bunuh diri.
Iran Menolak Klaim Trump
Iran menolak keras pernyataan Trump yang mengklaim Selat Hormuz akan segera menjadi wilayah Amerika Serikat. Penolakan ini muncul di tengah memanasnya situasi keamanan di jalur pelayaran strategis tersebut. Sebuah kapal dilaporkan terkena proyektil, sementara peluang dimulainya kembali perundingan antara Washington dan Teheran masih buntu. Mengutip CNBC Internasional, Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menegaskan bahwa Selat Hormuz sepenuhnya berada di bawah kendali Iran dan tidak dapat direbut melalui ancaman politik maupun kekuatan militer.
“Selat Hormuz telah menjadi milik Iran, adalah milik Iran, dan akan tetap menjadi milik Iran. Selat ini hanya akan ditutup dan dibuka di bawah komando Iran,” tulis Gharibabadi melalui akun X pada Jumat malam.
Ia juga menyindir langsung pernyataan Trump. “Selat Hormuz tidak bisa direbut dengan cuitan,” imbuhnya.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Trump Tak Peduli Diteriaki Sana sini?
Trump Tak Peduli Diteriaki Sana sini is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Trump Tak Peduli Diteriaki Sana sini matter?
Trump Tak Peduli Diteriaki Sana sini matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

