Menkes Ungkap Efek Konsolidasi Pengadaan, Bisa Hemat Triliunan Rupiah

6 days ago  ·  3 min read
By James Lopez - dailynesia.com
menteri-kesehatan-budi-gunadi-sadikin-memberi-pemaparan-saat-konferensi-pers-terkait-rapbn-nota-keuangan-tahun-anggaran-2027-d-1786707807474_169

Konsolidasi Pengadaan Kesehatan Janjikan Penghematan Triliunan Rupiah

Dailynesia.com – Jakarta — Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengemukakan bahwa langkah konsolidasi dalam pengadaan barang dan jasa kesehatan telah menunjukkan hasil nyata berupa penurunan harga serta perluasan akses. Strategi ini diyakini mampu menekan beban biaya kesehatan nasional secara signifikan. Pernyataan tersebut disampaikan oleh BGS, sapaan akrabnya, pada konferensi pers yang digelar di Aula Cakti Buddhi Bakti, kantor pusat Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan, Jakarta Selatan, pada hari Jumat (14/8/2026).

Sentralisasi Pembelian Alat Kesehatan

Salah satu contoh konkret yang telah diterapkan adalah sentralisasi pembelian peralatan medis yang dibiayai melalui pinjaman Bank Dunia. BGS menjelaskan bahwa alat-alat seperti cathlab, yang sebelumnya memiliki kisaran harga Rp14 hingga Rp15 miliar, kini dapat diperoleh dengan biaya Rp8 miliar saja.

Ini adalah contoh yang sudah kita lakukan. Kita melakukan sentralisasi pembelian alat-alat kesehatan yang berasal dari pinjaman Bank Dunia yang cukup besar. Ya alat-alat seperti cathlab yang tadi harganya antara Rp14 miliar hingga Rp15 miliar, kita bisa beli dengan harga Rp8 miliar.

Untuk tahun 2026, kontrak pengadaan telah resmi ditandatangani sesuai arahan Presiden. Dengan pendekatan sentralisasi, estimasi anggaran Rp19,39 triliun berhasil ditekan menjadi Rp9 triliun. Artinya, tercapai penghematan sebesar Rp10,25 triliun atau setara dengan 52 persen dari harga alat kesehatan yang sebelumnya dibeli secara terpisah.

Konsolidasi Obat dan BMHP

Mantan Wakil Menteri BUMN tersebut juga mengungkap bahwa Kementerian Kesehatan telah memulai konsolidasi pembelian obat serta bahan medis habis pakai (BMHP) untuk seluruh rumah sakit vertikal di bawah naungan kementerian. Setiap tahunnya, Kemenkes mengalokasikan sekitar Rp5 triliun untuk pengadaan obat-obatan.

Setiap tahun kita membeli sekitar Rp5 triliun obat di Kementerian Kesehatan. Harganya berbeda-beda, untuk merek yang sama dari masing-masing rumah sakit, sekarang kita konsolidasi. Dari harga konsolidasi kita bisa menghemat 32%, yang ini mendekati Rp1 triliun.

Replikasi ke 1.000 RSUD

BGS menambahkan bahwa saat ini pihaknya sedang berkoordinasi dengan Kepala LKPP untuk memperluas program ini ke 1.000 rumah sakit daerah (RSUD) di seluruh Indonesia. Melalui sentralisasi pembelian dan penyamaan kode belanja, potensi penghematan diperkirakan mencapai triliunan hingga puluhan triliun rupiah.

Kita sekarang sedang bekerja dengan Ibu Kepala LKPP, nanti bisa update, kita mau lakukan replikasi ini ke 1.000 RSUD seluruh Indonesia. Sehingga pembeliannya nanti akan disentralisasi, yang tadi Bapak Presiden lakukan, sehingga kita bisa menghemat ini saya rasa triliunan sampai puluhan triliun, karena belanjanya nanti kita samakan kodenya.

Tahapan finalisasi program tersebut telah memasuki tahap akhir. BGS berharap agar peluncuran resmi program ini dapat segera dilakukan atas dukungan dari Kepala LKPP.

Mudah-mudahan Ibu Kepala LKPP nanti kita bisa meluncurkan segera ya program ini.

Frequently Asked Questions

What is Menkes Ungkap Efek Konsolidasi Pengadaan Bisa?

Menkes Ungkap Efek Konsolidasi Pengadaan Bisa is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Menkes Ungkap Efek Konsolidasi Pengadaan Bisa matter?

Menkes Ungkap Efek Konsolidasi Pengadaan Bisa matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

More from this category