Alasan di Balik Ambisi Trump Mengambil Greenland dari Denmark
Dailynesia.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menunjukkan ketertarikan besar terhadap Greenland. Sejak permulaan tahun, ia secara konsisten menyampaikan keinginannya untuk membawa wilayah yang menjadi bagian Denmark tersebut ke dalam cakupan Amerika Serikat. Ancaman penerapan tarif impor besar-besaran pun dilontarkan jika Denmark tidak menuruti kehendaknya. Pada bulan Juli, isu ini kembali muncul dalam pernyataannya.
Kabar terbaru yang dirilis pada Jumat (14/8/2028) mengungkap bahwa semua ini berkaitan erat dengan cadangan minyak. Greenland Energy Co, sebuah perusahaan asal Texas yang memiliki keterkaitan dengan lingkaran Trump, akan melaksanakan kegiatan pengeboran di Greenland. Entitas ini terdaftar di bursa Nasdaq dan bergerak di bidang eksplorasi minyak serta gas.
Keterkaitan dengan Lingkaran Pemerintahan Trump
Greenland Energy Co memiliki hubungan dengan berbagai tokoh dan entitas yang terkait dengan Donald Trump. Carol Craig, anggota dewan perusahaan, adalah pendiri perusahaan teknologi pertahanan yang terlibat dalam program kontrak Pentagon untuk mendukung inisiatif sistem pertahanan rudal Golden Dome milik Trump.
Selain itu, Greenland Energy juga memiliki kesepakatan produksi film dokumenter dengan Envoy Media. Perusahaan ini didirikan oleh “Dr. Phil” McGraw, yang pernah berbicara dalam kampanye Trump pada 2024 dan saat ini menjadi anggota Religious Liberty Commission yang dibentuk oleh Trump.
Larry Swets, sebagai chairman Greenland Energy, juga dilaporkan memiliki kedekatan dengan pemerintahan Trump. Namun, ketika ditanya mengenai hubungan Swets dengan Trump dalam sebuah pertemuan pada Juni lalu, Price menjawab,
“Setahu saya, tidak.”
Penundaan Pengeboran Mendadak
Greenland Energy Co memutuskan untuk menunda rencana pengeboran. Keputusan ini diambil setelah menerima teguran keras dari pemerintah Greenland. Awalnya, teguran tersebut ditujukan kepada White Flame Energy karena membawa peralatan pengeboran ke pesisir timur Greenland tanpa izin dari otoritas setempat.
Pemerintah Greenland menyatakan bahwa White Flame Energy tidak memiliki persetujuan yang diperlukan sebelum melakukan kegiatan tersebut. Peralatan pengeboran itu dibawa ke sekitar Bandara Nerlerit Inaat, yang merupakan pusat transportasi strategis dan dianggap sebagai pintu gerbang menuju wilayah timur laut Greenland.
Greenland Energy dan 80 Mile, mitra usaha patungan yang tercatat di bursa London, menyatakan bahwa mereka sebelumnya telah memperoleh izin serta menandatangani kontrak untuk menyewa tempat penyimpanan di fasilitas Greenland Airports dekat pelabuhan. Namun, keduanya mengakui bahwa aktivitas tersebut membutuhkan izin terpisah dari otoritas sumber daya mineral.
Kedua perusahaan menyatakan bahwa mereka menanggapi peringatan pemerintah dengan serius. Mereka berkomitmen untuk bekerja sama lebih erat dengan otoritas Greenland ke depannya. Pada tanggal 13 Agustus, berita penundaan pengeboran minyak resmi disampaikan.
Potensi Minyak di Greenland
Greenland Energy Co mengatakan bahwa mereka kini menargetkan proses perizinan untuk pengeboran eksplorasi pada musim dingin 2027. CEO Greenland Energy, Robert Price, menyampaikan,
“Beroperasi di kawasan Arktik membutuhkan kesabaran, fleksibilitas, dan perspektif jangka panjang. Kami akan menggunakan waktu ini untuk menyempurnakan rencana serta memperkuat hubungan dengan masyarakat lokal, mitra strategis, dan otoritas terkait.”
Greenland Energy dibentuk melalui merger dengan perusahaan akuisisi bertujuan khusus (SPAC) pada bulan Maret. Misi utamanya adalah mengeksplorasi potensi minyak di Jameson Land Basin. Wilayah tersebut mencakup sekitar 2 juta acre atau 809.000 hektare lahan berizin di daratan Greenland.
Perusahaan menyebut Jameson Land Basin sebagai salah satu cekungan minyak yang sangat prospektif namun belum pernah dibor di dunia. Kawasan tersebut dinilai memiliki karakteristik geologi yang memiliki hubungan dengan Laut Utara (North Sea). Ini skala yang sebanding dengan sejumlah wilayah penghasil minyak utama dunia.
Analis riset senior sektor hulu Eropa di Wood Mackenzie, Lewis Lawrence, mengatakan kawasan tersebut memang memiliki potensi. Menurutnya, kondisi geologinya mendukung keberadaan cadangan minyak yang signifikan di wilayah tersebut.
FAQ: Pertanyaan Umum tentang Greenland dan Minyak
Apa alasan utama Trump ingin mengambil Greenland? Trump tertarik pada Greenland terutama karena potensi cadangan minyak yang besar di wilayah tersebut, serta nilai strategisnya di kawasan Arktik.
Bagaimana posisi Denmark dalam hal ini? Denmark sebagai negara yang menguasai Greenland telah menerima berbagai tekanan dari Amerika Serikat, termasuk ancaman tarif impor jika tidak menuruti kehendak Trump.
Kapan rencana pengeboran minyak di Greenland dimulai? Greenland Energy Co menargetkan proses perizinan untuk pengeboran eksplorasi pada musim dingin 2027 setelah penundaan sementara.
Apakah Greenland memiliki cadangan minyak yang signifikan? Ya, Jameson Land Basin di Greenland dinilai sebagai salah satu cekungan minyak paling prospektif di dunia yang belum pernah dibor, dengan karakteristik geologi mirip dengan Laut Utara.

