Ekonom Ungkap ‘Harta Karun’ Ekspor RI Selain Nikel-CPO-Batu Bara

1 week ago  ·  2 min read
By Anthony Johnson - dailynesia.com
kepala-ekonom-bank-mandiri-andry-asmoro-cnbc-indonesia-1786610571055_169-2

Ekonom Menyoroti Potensi Ekspor Nontradisional di Tengah Defisit Perdagangan

Dailynesia.com – Indonesia tengah menghadapi tantangan berupa defisit neraca perdagangan yang terjadi selama dua bulan berturut-turut. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pada Mei 2026, defisit mencapai US$1,61 miliar, sementara Juni 2026 mencatat defisit sebesar US$450 juta. Kondisi ini juga berdampak pada komponen pengeluaran Produk Domestik Bruto (PDB), di mana net ekspor pada kuartal II-2026 turun menjadi minus 0,78%, dibandingkan minus 0,02% pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Meskipun demikian, Kepala Ekonom PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, Andry Asmoro, melihat peluang besar untuk menciptakan mesin ekspor baru. Menurutnya, komoditas perkebunan seperti pala, cokelat, kopi, hingga kelapa memiliki potensi signifikan sebagai penopang pertumbuhan ekspor nasional, melampaui ketergantungan pada minyak kelapa sawit (CPO), batu bara, dan nikel.

Komoditas Pertanian dan Perkebunan sebagai Penggerak Baru

Andry menyoroti bahwa Indonesia telah menjadi salah satu produsen kopi terbesar di dunia. Selain itu, permintaan global terhadap cokelat dan kelapa terus meningkat, khususnya dari negara-negara Asia Selatan seperti Pakistan, Bangladesh, dan India. Komoditas-komoditas ini dapat menjadi sumber pertumbuhan baru dari sektor pertanian, perkebunan, dan perikanan yang pada kuartal II-2026 hanya mencatat pertumbuhan 2,6% secara tahunan.

“Sektor ini harus mendapat perhatian serius. Kalau pertumbuhan sektor pertanian, perkebunan, dan perikanan bisa didorong lebih tinggi, ditambah dengan sektor manufaktur, Indonesia bisa tumbuh secara berkelanjutan di atas 5,5%, bahkan menembus 6%,” kata Asmoro kepada CNBC Indonesia, Kamis (13/8/2026).

Momentum Penurunan Harga Minyak Dunia

Penguatan ekspor komoditas nontradisional dinilai semakin krusial dalam upaya membalikkan kondisi neraca perdagangan. Momentum ini semakin terbuka seiring dengan meredanya harga minyak mentah dunia. Berdasarkan data Refinitiv per Kamis (13/8/2026) pukul 09.55 WIB, harga minyak Brent berada di level US$87,95 per barel. Angka ini turun dari kisaran US$90-100 per barel yang terjadi pada akhir kuartal I dan kuartal II tahun ini.

Andry memperkirakan harga minyak akan bergerak pada level keseimbangan di kisaran US$70-80 per barel. Jika kondisi tersebut bertahan, tekanan impor energi Indonesia berpotensi berkurang secara signifikan.

“Kalau itu bisa dipertahankan, mestinya beban impor kita menjadi relatif lebih ringan ke depan,” ujarnya.

Karena itu, Andry menilai pemerintah perlu memanfaatkan momentum penurunan harga minyak untuk mengakselerasi pertumbuhan ekspor. Ia menekankan bahwa tantangan selanjutnya adalah menjaga agar ekspor terus tumbuh di tengah peluang yang sebenarnya cukup besar.

Frequently Asked Questions

What is Ekonom Ungkap Harta Karun Ekspor RI Selain?

Ekonom Ungkap Harta Karun Ekspor RI Selain is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Ekonom Ungkap Harta Karun Ekspor RI Selain matter?

Ekonom Ungkap Harta Karun Ekspor RI Selain matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

More from this category