Vale Indonesia Meluncurkan Tiga Megaproyek Smelter Senilai Rp155 Triliun
Dailynesia.com – PT Vale Indonesia Tbk (INCO) kini tengah mempersiapkan babak baru dalam strategi pengembangan bisnis hilirisasi nikel. Perusahaan ini menargetkan pengoperasian tiga proyek besar dalam waktu dekat, dengan total nilai investasi yang mencapai sekitar US$ 8,7 miliar atau setara Rp 155 triliun berdasarkan asumsi kurs Rp17.860 per dolar AS.
Budiawansyah, sebagai Chief Sustainability & Corporate Affairs Officer PT Vale Indonesia, menjelaskan bahwa ketiga proyek tersebut mencakup proyek High Pressure Acid Leach (HPAL) di Bahodopi, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah; proyek HPAL Pomalaa di Sulawesi Tenggara; serta pengembangan Limonit Sorowako di Sulawesi Selatan. Seluruh proyek ini merupakan komponen dari Indonesia Growth Project (IGP) yang dirancang untuk memenuhi komitmen perpanjangan Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) dan mengoptimalkan nilai tambah sumber daya mineral nasional.
Proyek IGP Bahodopi di Morowali
Salah satu pencapaian signifikan telah tercapai pada proyek HPAL di Bahodopi, Morowali, Sulawesi Tengah. Pemasangan dan peresmian autoclave menjadi tonggak penting dalam pembangunan fasilitas HPAL tersebut. Proyek yang dikembangkan bersama GEM dan EcoPro ini bertujuan untuk memasok bahan baku industri baterai dengan nilai investasi mencapai US$ 2 miliar atau sekitar Rp 35,8 triliun.
“Kalau mau ngomong soal Vale, itu jadi satu, saya sudah bilangin tadi itu adalah proyek PSN yang di Sulawesi Tengah ya. Yang di Sulawesi Tengah itu smelter yang BNSI ya. Seperti yang kawan-kawan lihat beberapa waktu yang lalu sudah ada milestone penting, itu adalah peletakan peresmian itu autoclave,” kata Budi saat ditemui di Jakarta, Kamis (13/8/2026).
PT Vale akan memasok bahan baku berupa bijih limonit (bijih nikel kadar rendah) dari tambang Blok Bahodopi untuk diolah menjadi produk bernilai tambah. Pengembangan kawasan tersebut diarahkan menjadi bagian dari ekosistem industri hijau.
“Karena kenapa green industry? Juga itu akan dilengkapi dengan fasilitas recycling oleh tenant-tenant lain, sehingga ini menjadi anchor industri,” katanya.
Berikut rincian proyek Bahodopi:
Tambang telah mulai beroperasi sejak kuartal I 2025 dengan produksi mencapai 5,5 juta WMT saprolit (bijih nikel kadar tinggi). Sementara itu, pasokan bijih nikel untuk smelter dibutuhkan sebesar 10,4 juta WMT limonit per tahun. Konstruksi tambang fase pertama telah mencapai 99% dan proyek ini menyerap sekitar 1.979 tenaga kerja operasional.
Pabrik HPAL memiliki kapasitas 66 ribu ton MHP per tahun dengan progres pembangunan mencapai 22%. Target operasi pabrik ditetapkan pada 2026-2027 dan diperkirakan menyerap 1.600 tenaga kerja operasional.
Di kawasan industri Sambalagi, pembangunan fasilitas pendukung juga terus berjalan, meliputi pabrik HPAL, Sulfuric Acid Plant dan Waste Heat Recovery Steam Boiler (WHRSB), camp pekerja berkapasitas 700-800 kamar, fasilitas pembibitan berkapasitas 3.000 bibit, empat kolam pengendapan yang telah selesai dibangun, serta pelabuhan khusus dengan 5 jetty yang telah beroperasi.
Proyek IGP Pomalaa di Sulawesi Tenggara
Proyek kedua yang tengah dikebut adalah HPAL Pomalaa di kawasan industri PT Kolaka Nickel Indonesia (KNI), Sulawesi Tenggara. Proyek ini dikembangkan bersama Ford Motor Company dan Huayou dengan nilai investasi mencapai US$ 4,5 miliar atau sekitar Rp 80,5 triliun.
Budi menilai proyek Pomalaa saat ini menjadi proyek Vale yang paling maju. Proyek tersebut terintegrasi dengan tambang Vale dengan teknologi HPAL yang dikembangkan bersama Huayou.
“Nah, yang lebih advance lagi itu siap untuk diinikan itu adalah konstruksinya sudah advance, itu adalah proyek HPAL Pomalaa. Jadi Pomalaa ini di kawasan KNI ya,” kata dia.
Berikut rincian proyek Pomalaa:
Tambang nikel saprolit dan limonit memiliki produksi mencapai 7 juta WMT saprolit dan 21 juta WMT limonit per tahun. Progres konstruksi tambang sekitar 60% dengan target operasi dimulai 2026 dan menyerap sekitar 2.133 tenaga kerja operasional.
Kapasitas pabrik HPAL mencapai 120 ribu ton nikel per tahun dalam bentuk MHP. Progres pembangunan pabrik HPAL saat ini telah mencapai 50% dan ditargetkan beroperasi pada 2026 serta diperkirakan menyerap 3.017 pekerja operasional.
Untuk mendukung proyek tersebut, Vale juga membangun berbagai fasilitas penunjang seperti pelabuhan khusus berkapasitas 9 jetty, Feed Preparation Plant (FPP), dan pabrik HPAL.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Vale Punya 3 Megaproyek Smelter Rp155?
Vale Punya 3 Megaproyek Smelter Rp155 is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Vale Punya 3 Megaproyek Smelter Rp155 matter?
Vale Punya 3 Megaproyek Smelter Rp155 matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

