Bahan Baku Berlimpah, Komponen Panel Surya RI Ternyata Masih Impor

1 week ago  ·  3 min read
By James Lopez - dailynesia.com
wakil-menteri-investasi-dan-hilirisasiwakil-kepala-bkpm-todotua-pasaribu-saat-menyampaikan-pemaparan-dalam-mindialogue-dengan-1786523998224_169

Indonesia Masih Mengandalkan Impor Komponen Panel Surya Meski Kekayaan Mineral Melimpah

Dailynesia.com – Meskipun memiliki cadangan sumber daya alam yang cukup besar, industri panel surya di Indonesia masih bergantung pada impor komponen. Ketergantungan ini menghambat kemampuan negara dalam mengendalikan struktur biaya produksi energi terbarukan secara mandiri. Dengan potensi energi matahari yang melimpah, Indonesia seharusnya mampu menjadi pemain utama dalam rantai pasok global panel surya.

Perakitan Bukan Produksi Penuh

Todotua Pasaribu, Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/BKPM, menjelaskan bahwa sebagian besar fasilitas manufaktur panel surya yang beroperasi saat ini hanya menjalankan proses perakitan. Menurutnya, penguasaan rantai pasok komponen menjadi kunci agar Indonesia dapat menciptakan nilai tambah dari kekayaan mineral yang dimilikinya.

“Solar panel, solar panel kita ini, pabrik yang ada disini semuanya cuma pabrik perakitan. Padahal solar panel itu, lakukan 87% komponennya semua kita punya,” ungkap Todotua dalam acara Mindialogue 2026, di Jakarta, dikutip Kamis (13/8/2026).

Material Dasar Tersedia, Namun Komponen Inti Masih Impor

Indonesia sebenarnya memiliki hampir seluruh material dasar yang dibutuhkan untuk memproduksi panel surya. Mulai dari silika, timah, bauksit, hingga tembaga, semua tersedia di dalam negeri. Namun, karena belum adanya industri pengolahan komponen inti, material tersebut harus didatangkan dari luar negeri sehingga membebani biaya produksi energi surya nasional.

“Silikanya kita ada, timahnya kita ada, bauksitnya kita ada, tembaganya kita ada, semuanya Pak. Tapi karena kita masih hanya perakitan, material komponennya kita masih impor,” jelasnya.

Dampak pada Harga Listrik Tenaga Surya

Ketidakmampuan mengendalikan struktur biaya ini berimbas langsung pada harga jual listrik tenaga surya yang sulit bersaing dengan kemampuan beli PT PLN (Persero). Pemerintah saat ini mendorong percepatan hilirisasi komponen agar Indonesia tidak lagi hanya menjadi pasar bagi teknologi asing, tetapi juga menjadi produsen yang kompetitif.

“Kita gak bisa mengendalikan cost. Bagaimana caranya kalau kita gak bisa mengendalikan cost, we can’t manage daripada produksi energi itu sendiri,” pungkasnya.

Capaian Produksi Komponen Dalam Negeri

Dalam catatannya, Indonesia saat ini sudah berhasil memproduksi 60% komponen panel surya dalam negeri. Hal itu didukung oleh ketersediaan bahan baku industri panel surya seperti silika, bauksit, tembaga, dan timah.

Komponen panel surya yang tersedia di dalam negeri yakni aluminium frame, front & back glass, EVA/POE, solar cell, hingga junction box. Sedangkan komponen panel surya yang masih belum tersedia di dalam negeri dan masih diimpor yaitu ribbon dan silicon.

Langkah Strategis Menuju Kemandirian Energi

Untuk meningkatkan kapasitas produksi lokal, pemerintah berencana memberikan insentif fiskal bagi perusahaan yang berinvestasi dalam teknologi produksi komponen panel surya. Langkah ini diharapkan dapat menarik lebih banyak investor asing untuk membangun pabrik pengolahan komponen di Indonesia.

Selain itu, kolaborasi antara universitas dan industri juga menjadi fokus utama untuk mengembangkan sumber daya manusia yang kompeten di bidang teknologi panel surya. Dengan demikian, Indonesia tidak hanya memiliki bahan baku melimpah, tetapi juga kemampuan untuk mengolahnya menjadi produk bernilai tinggi.

FAQ: Pertanyaan Umum tentang Panel Surya Indonesia

Q: Berapa persen komponen panel surya yang masih diimpor? A: Saat ini Indonesia masih mengimpor sekitar 40% komponen panel surya, terutama ribbon dan silicon yang belum diproduksi secara lokal.

Q: Apa saja komponen panel surya yang sudah diproduksi di Indonesia? A: Komponen yang sudah diproduksi dalam negeri meliputi aluminium frame, front & back glass, EVA/POE, solar cell, dan junction box.

Q: Bagaimana dampaknya terhadap harga listrik tenaga surya? A: Ketergantungan impor komponen membuat harga listrik tenaga surya sulit bersaing dengan kemampuan beli PT PLN (Persero), sehingga perlu percepatan hilirisasi.

Q: Apa rencana pemerintah untuk meningkatkan produksi lokal? A: Pemerintah berencana memberikan insentif fiskal dan memperkuat kolaborasi antara universitas dan industri untuk mengembangkan sumber daya manusia di bidang teknologi panel surya.

More from this category