Program Terbaru: Trump Buka Pintu Lebar-Lebar, China Beri Respons Tak Terduga
Dailynesia.com – Program Terbaru yang dicanangkan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mencuri perhatian publik, terutama dalam bidang teknologi. Dalam upaya memperkuat hubungan bilateral, pemerintah AS mengizinkan 10 perusahaan teknologi Tiongkok membeli chip kecerdasan buatan (AI) Nvidia H200. Meski kebijakan ini dianggap sebagai langkah pembuka, China tetap memberikan respons yang mengejutkan, menunjukkan ketegangan yang masih berlangsung dalam kompetisi teknologi global.
Program Terbaru ini menjadi langkah strategis bagi Trump dalam mengurangi ketergantungan Tiongkok pada teknologi asing. Perusahaan-perusahaan besar seperti Alibaba, Tencent, ByteDance, dan JD.com telah mendapatkan izin untuk membeli chip AI tercanggih Nvidia. Distributor seperti Lenovo dan Foxconn juga masuk dalam daftar yang diperbolehkan. Setiap pelanggan yang memperoleh izin dapat membeli hingga 75.000 chip berdasarkan ketentuan lisensi ekspor AS, menurut laporan Reuters, Jumat (15/5/2026).
Kebijakan Ekspor dan Inisiatif Baru
Program Terbaru ini memperkenalkan aturan baru yang memaksa pembeli Tiongkok membuktikan bahwa mereka telah menerapkan prosedur keamanan yang memadai dan tidak akan menggunakan chip untuk kepentingan militer. Pemerintah AS juga mengharuskan Nvidia memastikan ketersediaan stok chip yang cukup di wilayahnya. Trump menegosiasikan skema di mana AS akan menerima 25% dari pendapatan penjualan chip tersebut, sebagai insentif untuk kebijakan pembukaan ini.
Sementara itu, Beijing tetap mempertahankan langkah-langkahnya untuk mengurangi ketergantungan pada teknologi asing. Pemerintah Tiongkok dianggap masih membatasi kegiatan perusahaan-perusahaan domestiknya, sehingga transaksi pengiriman chip H200 belum berjalan lancar. Meski demikian, perusahaan seperti DeepSeek mulai menonjolkan penggunaan chip lokal, termasuk yang dikembangkan oleh Huawei, sebagai bagian dari respons mereka terhadap Program Terbaru ini.
Program Terbaru menimbulkan dampak signifikan terhadap Nvidia, yang sebelumnya menguasai sekitar 95% pasar chip AI canggih di Tiongkok. Negeri Tirai Bambu bahkan sempat menyumbang sekitar 13% dari pendapatan perusahaan tersebut. Dalam pidato sebelumnya, Jensen Huang, pendiri Nvidia, memperkirakan bahwa pasar AI Tiongkok akan mencapai nilai US$50 miliar tahun ini. Kehadiran Program Terbaru berpotensi mengubah dinamika pasar tersebut.
“Pemerintah pusat Tiongkok sejauh ini belum mengizinkan mereka membeli chip tersebut, karena mereka ingin investasi tetap fokus pada industri domestik mereka sendiri,” ujar Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick dalam sidang Senat bulan lalu.
Program Terbaru menimbulkan perdebatan di kalangan analis terkait keberlanjutan kerja sama teknologi antara AS dan Tiongkok. Meski membuka akses bagi perusahaan Tiongkok, kebijakan ini juga memaksa mereka menunjukkan komitmen pada pengembangan industri dalam negeri. Beijing mengkhawatirkan bahwa ketergantungan pada chip Nvidia akan menghambat kemajuan teknologi chip AI mereka, meski kini beberapa perusahaan mulai menunjukkan kemajuan dengan produk lokal.

