Bukan Cuma Sapu-Sapu, Populasi Ikan Cere dan Guppy Lagi Meledak di RI
Dailynesia.com – Jakarta, Penyebaran ikan asing invasif di Indonesia semakin menjadi perhatian. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan bahwa selain ikan sapu-sapu yang telah menyebar ke berbagai daerah air tawar, populasi ikan cere dan guppy juga mengalami peningkatan drastis, dengan risiko mengganggu ekosistem lokal. Tantangan ini mengharuskan pemerintah dan masyarakat memiliki Key Strategy yang lebih terarah dalam mengendalikan pertumbuhan spesies asing tersebut.
Pelaku Penyebaran dan Adaptasi Ikan Asing
Berdasarkan riset BRIN, hampir 247 spesies ikan asing telah masuk ke Indonesia selama beberapa dekade terakhir. Mayoritas spesies ini berasal dari jalur perdagangan ikan hias, serta aktivitas seperti air ballast kapal, penangkapan untuk konsumsi, dan upaya mengatasi hama. Contohnya, ikan sapu-sapu yang berasal dari Sungai Amazon diperkenalkan pertama kali sebagai ikan hias pada akhir 1970-an. Selama bertahun-tahun, spesies ini telah beradaptasi dengan lingkungan Indonesia dan menyebar ke berbagai perairan, mengancam keanekaragaman hayati lokal.
“Ikan sapu-sapu dan guppy memiliki kemampuan reproduksi yang luar biasa, serta kecepatan adaptasi terhadap kondisi lingkungan baru,” jelas Gema Wahyudewantoro, peneliti Ahli Madya di BRIN, dalam Media Lounge Discussion (Melodi) di Gedung BJ Habibie, Jakarta, Kamis (14/5/2026). Ikan cere, yang awalnya dibawa untuk mengendalikan jentik nyamuk penyebab malaria, kini malah menjadi ancaman terhadap populasi ikan air tawar asli seperti lele dan ikan badut.
Strategi Pengendalian Ikan Asing
Dalam upaya mengatasi masalah ini, BRIN menekankan pentingnya Key Strategy yang terpadu, termasuk kebijakan pengawasan dan penguasaan spesies asing. Strategi ini harus melibatkan kolaborasi antara pemerintah, lembaga penelitian, dan masyarakat, agar dapat mengurangi dampak negatif dari penyebaran ikan invasif. Selain itu, penelitian juga menyarankan penggunaan teknologi untuk memantau keberadaan spesies asing secara real-time.
Menurut BRIN, ikan asing yang telah menyebar di perairan umum bisa mencapai jumlah yang mengkhawatirkan karena kurangnya pengawasan. Mereka menambahkan bahwa pengendalian ikan cere dan guppy harus dilakukan sejak awal pengenalan spesies tersebut, dengan menetapkan kebijakan penghapusan atau pemanfaatan yang terkendali. Ini adalah bagian dari Key Strategy untuk menjaga keberlanjutan ekosistem air tawar Indonesia.
Ikan invasif seperti ikan cere dan guppy memiliki keunggulan kompetitif terhadap spesies lokal, karena dapat bertahan di lingkungan baru tanpa predator alami. Hal ini menyebabkan persaingan ekologis yang ketat, mengurangi ketersediaan makanan dan ruang hidup untuk ikan asli. Dampaknya tidak hanya terbatas pada lingkungan, tetapi juga memengaruhi perekonomian masyarakat, terutama para nelayan dan petani ikan yang kehilangan hasil tangkapan.
Di sisi lain, ikan asing invasif bisa menjadi ancaman terhadap kesehatan manusia. Penelitian menunjukkan bahwa beberapa spesies ini mengandung logam berat dan bakteri Escherichia coli, yang bisa menyebar ke lingkungan dan mengurangi kualitas air. Untuk mengatasi hal ini, BRIN mengusulkan Key Strategy berbasis teknologi, seperti penggunaan sensor untuk memantau kadar logam berat di perairan, serta edukasi masyarakat tentang dampak penyebaran ikan invasif.
Menurut Gema Wahyudewantoro, keberhasilan Key Strategy dalam mengendalikan ikan asing invasif bergantung pada partisipasi aktif masyarakat. Ia menekankan pentingnya sosialisasi mengenai cara mengenali spesies asing dan langkah-langkah pencegahan, seperti tidak melepaskan ikan hias ke lingkungan alami. “Masyarakat harus menjadi bagian dari solusi ini, karena penyebaran ikan asing tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah,” tambah Gema.
Kebijakan Key Strategy juga perlu didukung oleh regulasi yang ketat. BRIN menyarankan pemerintah mengatur keberadaan ikan asing dengan menetapkan standar kualitas dan jumlah yang boleh diperkenalkan ke lingkungan. Selain itu, program pengelolaan perairan dan restorasi habitat lokal juga menjadi bagian dari strategi ini, agar ekosistem dapat pulih dan kembali seimbang. Dengan pendekatan yang holistik, Indonesia bisa mengatasi tantangan ikan asing invasif secara efektif.

