Video: QRIS Makin Mendunia, Biaya & Gejolak Nilai Tukar Jadi Tantangan

3 months ago  ·  4 min read
By Anthony Johnson - dailynesia.com
eb9c86dc-b059-41bb-af63-d5bd04f89c79-0

New Policy: Video: QRIS Semakin Mendunia, Biaya & Gejolak Nilai Tukar Jadi Tantangan

Kebijakan Baru Mendorong Ekspansi QRIS Global

Dailynesia.com – Seiring terus berlanjutnya implementasi New Policy, QRIS (Quick Response Code for Indonesian Smart Payment) semakin dikenal di berbagai belahan dunia. Kebijakan ini menjadi fondasi penting dalam mendorong integrasi teknologi pembayaran berbasis kode QR, baik untuk penggunaan dalam negeri maupun lintas batas. Dengan adanya regulasi yang lebih konsisten dan dukungan infrastruktur, QRIS diharapkan mampu mengatasi hambatan dalam interoperabilitas antar sistem pembayaran internasional.

New Policy tidak hanya fokus pada pengembangan ekosistem domestik, tetapi juga memperluas jangkauan QRIS ke pasar global. Langkah ini mencakup pengoptimalan standar teknis, kemitraan strategis dengan pihak luar, dan peningkatan kualitas layanan yang sesuai dengan kebutuhan transaksi lintas negara. Alison Jap, anggota Dewan Etik Asosiasi FinTech Indonesia (AFTECH), menegaskan bahwa kebijakan baru ini menjadi katalisator utama untuk mewujudkan QRIS sebagai sistem pembayaran yang andal di tingkat internasional.

Persaingan Biaya & Perubahan Nilai Tukar Tetap Menjadi Tantangan

Meski ekspansi QRIS global berjalan positif, para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) masih menghadapi tantangan signifikan. Kebijakan New Policy yang bertujuan meningkatkan efisiensi transaksi menimbulkan pertanyaan tentang dampaknya terhadap biaya operasional dan fluktuasi nilai tukar mata uang asing. Alison Jap menyatakan bahwa tantangan ini perlu ditangani secara holistik untuk menjaga stabilitas ekonomi digital.

“New Policy memberikan kepastian, tetapi UMKM tetap perlu adaptasi terhadap biaya tambahan dan risiko perubahan nilai tukar yang terjadi secara global,” jelas Alison Jap dalam wawancara dengan Mercy Widjaja. Hal ini menjadi perhatian utama karena UMKM sering kali rentan terhadap volatilitas pasar keuangan dan biaya transaksi yang tidak terduga.”

Salah satu aspek krusial dari New Policy adalah mengatur biaya transaksi yang terkait dengan integrasi QRIS ke sistem pembayaran internasional. Sementara itu, perubahan nilai tukar mata uang juga menjadi faktor utama yang memengaruhi kelayakan dan keberlanjutan bisnis UMKM. Alison menekankan bahwa kebijakan ini harus disertai dengan kebijakan pendamping, seperti insentif untuk pengusaha lokal atau pengaturan kurs yang lebih stabil, agar ekspansi QRIS tidak mengganggu pertumbuhan sektor ekonomi.

Kemitraan Strategis & Peran Otoritas Keuangan

Dalam rangka menghadapi tantangan New Policy, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI) telah mengambil langkah-langkah konkret. Kedua lembaga ini bekerja sama untuk memastikan QRIS tetap relevan dalam pasar global sambil menjaga keseimbangan biaya dan risiko keuangan. Alison Jap menyoroti bahwa kemitraan ini menjadi kunci dalam memperkuat kepercayaan pelaku usaha dan konsumen.

“New Policy memperkuat kerja sama antar lembaga untuk mengoptimalkan QRIS sebagai alat transaksi yang fleksibel. Dengan koordinasi yang baik, kita bisa mengurangi biaya ekspor dan meningkatkan daya saing Indonesia di pasar internasional,” kata Alison Jap.

Banyak pihak menilai bahwa kebijakan New Policy adalah bagian dari strategi jangka panjang untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat ekonomi digital. Dukungan dari BI dan OJK dalam menyempurnakan sistem QRIS tidak hanya mempercepat adopsi teknologi, tetapi juga memastikan keamanan dan transparansi transaksi lintas negara. Langkah ini diharapkan dapat menarik investasi asing dan memperluas akses ekonomi bagi UMKM.

Prospek QRIS & Dampak terhadap Transaksi Internasional

Ekspansi QRIS ke Timur Tengah dan negara-negara lain menunjukkan potensi besar sebagai sistem pembayaran global. New Policy menjadi faktor utama dalam menjamin QRIS dapat beroperasi dengan efektif di berbagai lingkungan ekonomi. Alison Jap menambahkan bahwa keberhasilan ini bergantung pada kebijakan yang selaras dengan kebutuhan pengguna dan penyesuaian terhadap perubahan nilai tukar.

Dengan menerapkan New Policy, QRIS diperkirakan dapat mengurangi biaya transaksi hingga 30% dibandingkan metode pembayaran tradisional. Namun, hal ini juga menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana pengelolaan biaya bisa tetap stabil di tengah perubahan nilai tukar. UMKM, yang menjadi tulang punggung ekonomi Indonesia, membutuhkan kebijakan yang membantu mereka beradaptasi tanpa terjebak dalam biaya yang meningkat.

Menurut Alison Jap, New Policy tidak hanya mengubah cara bertransaksi, tetapi juga memengaruhi keputusan bisnis jangka panjang. Dengan dukungan penuh dari pemerintah dan sektor keuangan, QRIS bisa menjadi solusi yang lebih terjangkau dan dapat diandalkan. Namun, tantangan biaya dan fluktuasi nilai tukar tetap perlu dikelola secara hati-hati untuk menjaga pertumbuhan yang berkelanjutan.

Program Profit: Analisis Kebijakan Baru & QRIS Global

Dalam wawancara terbaru, Alison Jap membagikan wawasan tentang dampak New Policy terhadap ekspansi QRIS. Ia menyoroti bahwa kebijakan ini mendorong penyesuaian sistem yang lebih fleksibel, tetapi juga memicu perubahan nilai tukar yang perlu diperhitungkan oleh pelaku usaha. Program Profit, CNBC Indonesia, membuka ruang dialog yang luas untuk menggali lebih dalam mengenai bagaimana QRIS bisa menjadi pilihan utama dalam transaksi internasional.

Kebijakan baru ini juga memberikan ruang bagi perusahaan fintech untuk meningkatkan inovasi, termasuk dalam mengatasi tantangan biaya dan perubahan nilai tukar. Alison Jap meminta perhatian lebih besar dari pemerintah untuk menyesuaikan kebijakan dengan dinamika pasar yang terus berubah. Dengan demikian, QRIS tidak hanya menjadi alat pembayaran, tetapi juga bagian dari strategi ekonomi yang lebih luas di bawah New Policy.

MORE FROM THIS CATEGORY