Mimpi Menghubungkan Manusia dengan Dunia Lain? Ini Faktanya

1 day ago  ·  3 min read
By Elizabeth Lopez - dailynesia.com
616897ca-5fcb-47cd-906a-9b307ce20e3e-0

Mimpi Menghubungkan Manusia dengan Dunia Lain: Tinjauan Ilmiah Mendalam

Dailynesia.com – Banyak individu di seluruh dunia pernah mengalami mimpi yang terasa begitu nyata dan meyakinkan, seolah-olah mereka sedang menjelajahi dimensi atau realitas yang berbeda dari kehidupan sehari-hari. Pertanyaan menarik muncul: apakah anggapan bahwa mimpi merupakan pintu menuju alam semesta paralel memiliki dasar ilmiah yang kuat? Menurut Prof Husin Alatas, Guru Besar Fisika Teori di IPB University, hingga kini belum ada temuan empiris yang mendukung pernyataan tersebut secara definitif.

Menurut beliau, fenomena mimpi lebih tepat dipahami sebagai produk dari aktivitas neurologis yang rumit di dalam otak selama periode istirahat, bukan sebagai akses menuju “dunia lain” yang misterius. Pemahaman ini membantu kita melihat mimpi dari sudut pandang sains modern yang lebih rasional.

Mekanisme Otak Saat Bermimpi

Prof Husin menjelaskan bahwa dari perspektif fisika-kimia, otak manusia adalah sistem yang sangat kompleks. Sistem ini terdiri dari miliaran sel saraf yang saling berinteraksi melalui sinyal listrik serta komunikasi kimiawi yang melibatkan neurotransmiter. Proses ini terjadi secara terus-menerus bahkan ketika kita sedang tidur nyenyak.

“Otak merupakan sistem kompleks yang terdiri atas miliaran neuron yang saling terhubung melalui sinyal listrik dan komunikasi kimiawi menggunakan neurotransmiter,” jelas Husin, yang juga mengajar mata kuliah Biofisika dan Kompleksitas pada Program Studi Magister Biofisika IPB University, dalam paparannya yang dikutip pada Sabtu (1/8/2026).

Menurutnya, ketika seseorang dalam keadaan sadar, otak terus-menerus menerima, mengintegrasikan, dan memproses berbagai informasi dari lingkungan sekitar untuk membentuk persepsi terhadap realitas. Namun, proses ini tidak berhenti sepenuhnya saat kita tidur. Justru terjadi transformasi dalam cara otak memproses informasi tersebut.

“Ketika tidur, aktivitas otak tidak berhenti. Justru pada fase rapid eye movement (REM), aktivitas beberapa wilayah otak mendekati kondisi saat terjaga. Pada fase inilah mimpi paling sering dan paling jelas terjadi,” ujarnya.

Selama fase REM, otak melakukan pemrosesan ulang terhadap pengalaman, emosi, serta ingatan yang telah dikumpulkan saat terjaga. Hipokampus bersama dengan jaringan korteks memainkan peran penting dalam konsolidasi memori, sehingga berbagai tokoh, lokasi, maupun kejadian yang pernah dialami dapat muncul kembali dalam bentuk mimpi yang terkadang aneh namun bermakna.

“Otak juga memiliki kemampuan mengombinasikan berbagai fragmen memori dengan imajinasi secara kreatif,” kata Husin.

Mengapa Mimpi Sering Terasa Aneh?

Menurut penjelasan Prof Husin, aktivasi spontan yang terjadi pada berbagai jaringan otak selama fase REM menyebabkan rangkaian peristiwa dalam mimpi sering kali tidak mengikuti logika kehidupan sehari-hari. Berdasarkan temuan-temuan dalam bidang neurosains, fenomena ini merupakan konstruksi internal yang dihasilkan oleh otak sendiri.

Kondisi inilah yang membuat pengalaman bermimpi terasa seperti berasal dari realitas yang berbeda dari kenyataan sehari-hari. Banyak orang merasa seolah-olah mereka benar-benar berada di tempat lain atau bertemu dengan orang-orang yang sudah lama tidak ditemui. Namun, semua ini terjadi di dalam kepala kita sendiri.

Konsep Alam Semesta Lain dalam Fisika Modern

Di sisi lain, Prof Husin mengakui bahwa fisika kontemporer memang mengenal beberapa konsep yang memungkinkan keberadaan alam semesta lain. Salah satunya adalah interpretasi Many-Worlds dalam mekanika kuantum, yang mengusulkan bahwa setiap kemungkinan hasil pengukuran kuantum terealisasi pada cabang alam semesta yang berbeda.

Selain itu, terdapat pula hipotesis multiverse dalam bidang kosmologi yang berkembang dari teori inflasi kosmik. Konsep-konsep ini memberikan kerangka teoretis yang menarik untuk memahami kemungkinan keberadaan realitas paralel.

“Meski demikian, kedua gagasan tersebut masih bersifat teoretis dan belum memiliki bukti observasional langsung. Hingga kini juga belum ada teori fisika yang menghubungkan aktivitas otak saat bermimpi dengan akses menuju alam semesta paralel,” tegasnya.

Oleh karena itu, Prof Husin menilai bahwa klaim bahwa mimpi merupakan bukti keberadaan alam semesta paralel lebih tepat dipandang sebagai spekulasi filosofis atau interpretasi metafisis, bukan sebagai kesimpulan ilmiah yang solid. Ia menambahkan bahwa meskipun mekanisme terbentuknya mimpi masih terus diteliti, berdasarkan pengetahuan ilmiah saat ini, mimpi dipahami sebagai hasil interaksi kompleks antara ingatan, emosi, persepsi, dan imajinasi selama tidur, bukan sebagai jendela menuju realitas lain.

MORE FROM THIS CATEGORY

bf2075dc-62a2-4d05-bc8c-6179a67d7893-0

10 Makanan Ini Bisa Picu Asam Urat

Kesehatan sendi sangat bergantung pada pola makan yang tepat. 10 Makanan Ini Bisa Picu kenaikan asam urat jika dikonsumsi secara berlebihan tanpa