Prospek Saham Pertambangan Didorong Data Keuangan Kuartal II
Dailynesia.com – Para pelaku pasar kini menyoroti kinerja keuangan emiten pertambangan sebagai pendorong utama pergerakan harga. Berdasarkan proyeksi terbaru, total pendapatan kumulatif perusahaan tambang diperkirakan menyentuh angka US$4,5 miliar pada enam bulan pertama tahun ini. Angka tersebut merepresentasikan lonjakan sebesar 38% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Kondisi ini memberikan angin segar bagi sentimen harga saham-saham pelat merah di sektor pertambangan.
Analisis BRIDS: Pertumbuhan Didorong Faktor Harga, Bukan Volume
Menurut kajian yang dirilis BRI Danareksa Sekuritas, pendapatan emiten pertambangan logam pada kuartal kedua tahun 2026 diproyeksikan mencapai US$4,5 miliar. Pertumbuhan ini mencakup kenaikan 12% secara kuartalan serta 38% secara tahunan. Namun, tim riset BRIDS menekankan bahwa peningkatan ini belum sepenuhnya mencerminkan pemulihan volume produksi secara menyeluruh. Sebaliknya, pertumbuhan lebih ditopang oleh beberapa faktor kunci seperti dinamika harga jual, penyesuaian waktu penjualan, fluktuasi persediaan, serta komposisi produk yang dijual.
Sementara momentum laba masih terkonsentrasi pada emiten tertentu, BRIDS memberikan rekomendasi saham untuk horizon semester II 2026. Rekomendasi tersebut mencakup ANTM, TINS, AMMN, INCO, NCKL, MBMA, dan BRMS. Pemilihan saham-saham ini didasarkan pada tiga kriteria utama, yaitu kemampuan menghasilkan laba, ketahanan terhadap perubahan kebijakan, serta visibilitas dalam eksekusi strategi bisnis.
“Jika memperpanjang horizon hingga semester II 2026, kami lebih memilih ANTM, TINS, AMMN, INCO, NCKL, MBMA dengan mempertimbangkan kemampuan menghasilkan laba (earnings delivery), ketahanan terhadap risiko kebijakan (policy insulation), serta visibilitas eksekusi bisnis (execution visibility),” sebagaimana dikutip dari riset BRIDS, Jumat, (31/7/2026).
Sentimen Positif dari Mirae Asset Sekuritas
Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst di Mirae Asset Sekuritas, menjelaskan bahwa laporan keuangan kuartal II 2026 berperan sebagai katalis penting bagi pergerakan saham pertambangan. Investor saat ini fokus pada apakah perbaikan harga komoditas selama sebagian periode kuartal II berhasil diterjemahkan menjadi peningkatan margin dan profitabilitas perusahaan.
Menurut Nafan, secara umum saham-saham tambang pelat merah mulai menunjukkan tanda-tanda rebound. Namun, penguatan yang terjadi masih bersifat selektif dan belum sepenuhnya membentuk tren naik yang kuat. Selain itu, emiten dengan efisiensi operasional lebih baik serta diversifikasi bisnis yang kuat berpotensi mendapatkan respons pasar yang lebih positif. Kinerja keuangan yang melampaui ekspektasi juga dapat menjadi pemicu penguatan harga saham dalam jangka pendek.
Kinerja Cemerlang INCO dan TINS
Dua anak usaha MIND ID, yaitu INCO dan TINS, telah menyampaikan laporan keuangan per 30 Juni dengan tren peningkatan di pos top line. PT Vale Indonesia Tbk (INCO) mencatat laba periode berjalan hingga semester I tahun 2026 tumbuh lebih dari empat kali lipat menjadi US$104,37 juta atau setara Rp 1,89 triliun. Pertumbuhan ini merepresentasikan lonjakan 313,4% dibandingkan semester I-2025 yang sebesar US$25,24 juta.
Sementara itu, PT Timah (Persero) Tbk (TINS) mencatat laba bersih di semester I tahun 2026 mencapai Rp2,71 triliun. Capaian ini melampaui target laba bersih tahun 2026 sebesar Rp1,61 triliun atau setara 169% dari target yang ditetapkan.
Reaksi Pasar Terhadap Data Keuangan
Seiring dengan pemberitaan ini, beberapa saham tambang pelat merah terpantau mengalami kenaikan harga per penutupan perdagangan sesi I hari ini. PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM) misalnya, naik 0,35% ke level Rp2.870 dan PT Vale Indonesia (Persero) Tbk (INCO) menguat 7,65% ke level Rp5.275. Di sisi lain, saham PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) stagnan di harga Rp2.350. Di sisi lain, saham PT Timah Tbk (TINS) naik 5,62% ke Rp3,760 dalam periode yang sama.

