Rupiah Ditutup Perkasa, Dolar AS Turun ke Bawah Rp18.000

2 days ago  ·  3 min read
By Daniel Rodriguez - dailynesia.com
272c4fb5-e98c-486c-873f-73920e92cdfb-0

Rupiah Ditutup Perkasa Dolar AS Turun ke Level Terendah Juli 2026

Dailynesia.com – Mata uang Indonesia menunjukkan penguatan signifikan pada perdagangan penutupan Juli 2026. Nilai tukar rupiah berhasil menembus batas psikologis Rp18.000 per dolar AS, menandai performa terbaik dalam beberapa sesi terakhir. Berdasarkan data dari Refinitiv yang dihimpun, rupiah mencatat apresiasi sebesar 0,47 persen pada Jumat (31/7/2026), menyentuh level Rp17.990 per dolar AS.

Penguatan ini melampaui ekspektasi pasar yang sebelumnya memprediksi pergerakan flat. Pada pembukaan pagi hari, rupiah hanya naik 0,19 persen ke Rp18.040 per dolar AS. Namun, momentum positif terus berlanjut sepanjang sesi perdagangan, terutama setelah DXY menunjukkan tanda-tanda pelemahan. Penguatan ini juga berhasil membalikkan tren penurunan pada sesi sebelumnya, ketika mata uang Garuda ditutup melemah 0,17 persen ke Rp18.075 per dolar AS.

Indeks Dolar AS Berbalik Menguat Setelah Penurunan Tajam

Indeks dolar AS atau DXY yang memantau kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama global, tercatat menguat 0,31 persen ke angka 100,173 pada pukul 15.00 WIB. Meskipun mengalami kenaikan hari ini, DXY baru saja mencatat penurunan tajam sebesar 1,01 persen ke level 99,864 pada perdagangan sebelumnya. Penurunan ini merupakan salah satu yang terbesar dalam beberapa minggu terakhir.

Rupiah tetap mampu menguat meskipun DXY berbalik naik. Hal ini karena mata uang Garuda masih mendapat momentum dari pelemahan dolar AS yang signifikan pada sesi sebelumnya. Investor global mulai mengalihkan aliran dana ke pasar emerging termasuk Indonesia, seiring dengan menurunnya risiko global. DXY sempat mencatat salah satu penurunan intraday terbesar terhadap mata uang-mata uang utama dunia.

Tekanan terhadap greenback dipicu oleh respons pasar terhadap data inflasi Juni serta pertumbuhan ekonomi AS pada kuartal terakhir. Informasi tersebut kembali membentuk ekspektasi pasar mengenai kebijakan The Federal Reserve (The Fed), setelah bank sentral AS memutuskan untuk mempertahankan suku bunga pada kisaran 3,50 persen hingga 3,75 persen dalam pertemuan pekan ini. Pasar mulai mengantisipasi kemungkinan pemangkasan suku bunga di pertemuan berikutnya.

Bank Indonesia Pertahankan Fokus pada Stabilitas Nilai Tukar

Dari sisi domestik, Gubernur sementara Bank Indonesia Destry Damayanti menekankan bahwa stabilitas nilai tukar dan inflasi menjadi prioritas utama bank sentral. Prioritas ini muncul di tengah ketidakpastian ekonomi global yang dipicu oleh konflik perang serta risiko era suku bunga tinggi bertahan lebih lama. BI juga terus memantau perkembangan arus modal asing yang masuk ke pasar Indonesia.

“Tantangan yang dalam jangka pendek dan betul-betul harus menjadi perhatian kami adalah jaga stabilitas, baik itu dalam kaitannya nilai tukar rupiah dan inflasi,” kata Destry dalam media briefing secara daring, Jumat (31/7/2026).

Menurut Destry, tantangan tersebut telah direspons melalui keputusan Rapat Dewan Gubernur BI periode Juli yang mempertahankan BI Rate di level 5,75 persen. Ia menjelaskan bahwa ketidakpastian eksternal memengaruhi stabilitas internal, khususnya terkait asset pricing domestik seperti SBN rate, yield, dan instrumen lainnya. Langkah ini dinilai tepat untuk menjaga kepercayaan investor terhadap ekonomi Indonesia.

Selain nilai tukar, BI juga memantau tekanan inflasi pangan yang telah melampaui angka 5 persen. Kondisi ini sudah melewati sasaran inflasi umum sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen. Destry menambahkan bahwa core inflation relatif aman dengan total sebesar 3,5 persen pada posisi terakhir, namun inflasi pangan tetap menjadi perhatian utama. BI akan terus melakukan koordinasi dengan pemerintah untuk menstabilkan harga-harga komoditas strategis.

Ke depan, para analis memperkirakan rupiah akan terus mendapat dukungan dari sentimen positif global. Dengan dolar AS yang cenderung melemah dan kebijakan BI yang akomodatif, mata uang Indonesia diproyeksikan dapat mempertahankan posisi di bawah Rp18.000 dalam beberapa sesi mendatang. Namun, volatilitas tetap perlu diwaspadai mengingat ketidakpastian geopolitik yang masih tinggi.

MORE FROM THIS CATEGORY