Bankir Singapura Optimis Ekonomi Indonesia Positif

1 week ago  ·  3 min read
By Anthony Johnson - dailynesia.com
36742afa-b021-4e78-8fd0-c6cd4bde7617-0

Ekonomi Indonesia Dipandang Positif oleh Pemimpin Bank DBS

Prospek Pertumbuhan di Tengah Ketidakpastian Global

Dailynesia.com – Lim Chu Chong, yang menjabat sebagai Presiden Direktur Bank DBS Indonesia, menyatakan bahwa prospek ekonomi tanah air masih sangat menjanjikan meskipun dunia menghadapi berbagai ketidakpastian. Menurutnya, Indonesia menempati posisi sebagai salah satu pasar dengan potensi pertumbuhan tertinggi di kawasan Asia. Faktor utama yang mendorong hal ini adalah lonjakan kebutuhan energi serta pembangunan infrastruktur yang akan berlangsung selama beberapa dekade mendatang.

Dalam acara CNBC Indonesia Coffee Morning yang diselenggarakan pada Kamis (23/7/2026), Lim menekankan bahwa Indonesia saat ini menjadi salah satu peluang pertumbuhan terbesar di wilayah tersebut. Ia juga menyoroti bahwa perusahaan-perusahaan perlu mengubah perspektif mereka terhadap rantai pasok. Sebelumnya, fokus utama hanya pada efisiensi dan penghematan biaya, namun kini hal tersebut telah berkembang menjadi isu strategis yang menentukan daya saing perusahaan.

“Saat ini, Indonesia mewakili salah satu peluang pertumbuhan terbesar di kawasan ini,” ujar Lim dalam acara CNBC Indonesia Coffee Morning, Kamis (23/7/2026).

Tantangan Transisi Energi dan Kebutuhan Investasi

Menurut penjelasan Lim, kebutuhan listrik di Indonesia diproyeksikan meningkat enam kali lipat. Dari angka sekitar 300 terawatt saat ini, permintaan akan melonjak menjadi lebih dari 1.800 terawatt pada tahun 2060. Kenaikan signifikan ini sejalan dengan meningkatnya aktivitas ekonomi serta konsumsi energi masyarakat secara keseluruhan.

Namun, peluang besar tersebut datang dengan tantangan yang cukup berat. Saat ini, sekitar 81% bauran energi Indonesia masih bergantung pada bahan bakar fosil. Oleh karena itu, transisi menuju energi bersih memerlukan investasi yang sangat besar. Lim menjelaskan bahwa untuk memenuhi kebutuhan energi di masa depan, Indonesia memerlukan pembangunan sekitar 47.700 kilometer jaringan transmisi baru, kapasitas penyimpanan energi sebesar 10 gigawatt, serta investasi di sektor ketenagalistrikan mencapai sekitar US$169 miliar.

“Pertanyaannya bukan soal peluang. Permintaan sudah ada. Tantangan sebenarnya adalah memobilisasi modal, membangun proyek yang layak dibiayai bank, dan mengamankan pasokan energi yang andal dalam skala besar,” katanya.

Perubahan Paradigma Rantai Pasok

Lim menilai Indonesia telah memiliki modal berupa sumber daya alam yang melimpah serta ambisi pembangunan yang kuat. Tantangan berikutnya adalah memastikan pembiayaan tersedia dan pasokan energi dapat diandalkan agar potensi tersebut benar-benar menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Dalam kesempatan tersebut, Lim juga menyoroti semakin kompleksnya tantangan yang dihadapi sektor energi, sumber daya alam, dan infrastruktur. Konflik geopolitik, sanksi ekonomi, fluktuasi harga komoditas, nilai tukar, hingga kebijakan transisi energi membuat perusahaan tidak lagi bisa mengandalkan pendekatan bisnis konvensional. Menurutnya, keputusan terkait rantai pasok kini tidak hanya memengaruhi operasional, tetapi juga berdampak terhadap alokasi modal, ketahanan bisnis, hingga nilai perusahaan di mata investor.

“Biaya untuk memasok bukan lagi tantangan operasional. Sekarang ini, ini adalah tantangan strategis, dan ketahanan sangatlah penting,” ujarnya.

Kesiapan Investasi dan Peran DBS sebagai Mitra Strategis

Berdasarkan pengalaman DBS mendampingi berbagai perusahaan energi dan infrastruktur di Asia, Lim melihat perusahaan-perusahaan yang mampu bertahan justru bukan selalu yang memiliki biaya paling rendah. Perusahaan-perusahaan tersebut, kata dia, lebih fokus membangun kepastian biaya, melakukan diversifikasi pemasok, memperkuat ketahanan energi, serta tetap menjaga kesiapan investasi meski kondisi pasar bergejolak.

“Perusahaan-perusahaan yang berkinerja lebih baik saat ini bukanlah perusahaan-perusahaan dengan biaya terendah. Mereka adalah perusahaan-perusahaan yang menciptakan kepastian yang lebih besar seputar operasional mereka, memperkuat ketahanan energi, dan menjaga kesiapan investasi di tengah ketidakpastian,” ungkapnya.

Lim menambahkan, di tengah ketidakpastian global saat ini, perusahaan tidak bisa lagi menunggu situasi menjadi pasti sebelum mengambil keputusan investasi. “Saat ini tidak ada yang seperti itu di dunia. Yang ada saat ini adalah perusahaan-perusahaan yang membangun kepastian, ketahanan, dan kesiapan investasi,” katanya.

Menurutnya, membangun ketahanan tidak hanya membutuhkan dukungan pembiayaan, tetapi juga wawasan pasar, strategi bisnis yang tepat, serta kemampuan mengeksekusi proyek secara konsisten. Karena itu, DBS ingin berperan bukan sekadar sebagai penyedia pembiayaan, tetapi juga menjadi mitra strategis bagi pelaku usaha dalam menghadapi volatilitas pasar dan menangkap peluang pertumbuhan jangka panjang.

MORE FROM THIS CATEGORY