Main Agenda: Airlangga Ungkap Peluang RI Resesi di Bawah 5%, Lebih Rendah dari AS

3 months ago  ·  3 min read
By William Moore - dailynesia.com
07190834-5182-4795-afa8-15dc6cafa91a-0

Main Agenda: Peluang Resesi Indonesia di Bawah 5% dan Lebih Rendah dari AS

Stabilitas Ekonomi dalam Pandangan Menteri Airlangga

Dailynesia.com – Dalam seminar ekonomi internasional di Jakarta, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan bahwa potensi resesi di Indonesia sangat rendah, hanya sekitar di bawah 5%, yang jauh lebih baik dibandingkan risiko yang mengancam negara-negara besar seperti Amerika Serikat. Penegasan ini muncul dalam konteks pertumbuhan ekonomi yang tetap kuat, meskipun terjadi beberapa tekanan global.

“Main Agenda dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia terus berjalan positif, dengan risiko resesi tetap di bawah 5%. Ini mencerminkan kemampuan ekonomi kita yang tidak mudah tergoyahkan,” tutur Airlangga dalam pidatonya.

Menurut Airlangga, ketahanan ekonomi Indonesia didukung oleh tiga pilar utama. Pertama, tren pertumbuhan ekonomi yang tetap stabil, mencapai 5,61% pada triwulan pertama 2026. Kedua, inflasi yang terkendali pada 2,42% menunjukkan kinerja kebijakan moneter yang efektif. Ketiga, kepercayaan konsumen yang tinggi menjadi sinyal baik bagi permintaan domestik dan investasi.

Kebijakan dan Mekanisme untuk Memperkuat Pertumbuhan

Airlangga menegaskan bahwa pemerintah telah melakukan langkah strategis untuk memastikan pertumbuhan tetap berjalan lancar. Salah satunya adalah penerbitan Peraturan Presiden No.4 Tahun 2026 yang membentuk Satuan Tugas Percepatan Program Pemerintah untuk Mendukung Pertumbuhan Ekonomi (Satgas P3-MPPE). Tujuan utama dari program ini adalah mempercepat implementasi kebijakan dan mengatasi hambatan dalam proses.

Salah satu mekanisme yang digarisbawahi adalah Main Agenda debottlenecking, yang bertujuan mengidentifikasi kendala-kendala dan menyediakan solusi konkret. Dengan sistem ini, pemerintah berharap dapat meningkatkan sinergi antar lembaga, mempermudah proses pengambilan keputusan, serta menyelesaikan masalah implementasi kebijakan yang lambat.

Dalam pembicaraannya, Airlangga juga menyoroti pentingnya Main Agenda untuk memperkuat kerja sama antar sektor. Ia menegaskan bahwa kebijakan yang konsisten dan koordinasi yang cepat adalah kunci agar ekonomi Indonesia tetap unggul dibandingkan negara-negara besar seperti AS.

Risk Resesi Global dan Kinerja Ekonomi RI

Peluang resesi di bawah 5% yang disampaikan Airlangga menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia masih lebih baik dibandingkan negara-negara lain yang menghadapi risiko lebih tinggi. Misalnya, AS saat ini sedang mengalami tekanan yang lebih besar akibat perang dagang, kenaikan suku bunga, dan krisis energi global. Meskipun demikian, Indonesia tetap mampu menjaga momentum pertumbuhan melalui kebijakan yang tepat.

Berdasarkan analisis terbaru, kondisi perekonomian RI dinilai mampu bertahan karena adanya keseimbangan antara konsumsi, investasi, dan ekspor. Airlangga juga menyebutkan bahwa faktor-faktor seperti kestabilan inflasi, kinerja sektor pertanian, dan pertumbuhan industri manufaktur turut berkontribusi pada ketangguhan ekonomi. “Main Agenda pemerintah telah memastikan bahwa Indonesia tidak akan terjebak dalam siklus resesi seperti negara-negara lain,” tambahnya.

Dalam perspektif global, Airlangga menyoroti bahwa ekonomi Indonesia lebih fleksibel dibandingkan negara-negara maju yang menghadapi tekanan lebih besar. Meski sedang berjuang menghadapi tekanan, perekonomian RI tetap menjadi salah satu yang paling stabil di kawasan Asia Tenggara. “Main Agenda ini menjadi jaminan bahwa kita masih punya ruang untuk berkembang,” tutur Airlangga.

Strategi Penguatan Ekonomi dalam Konteks Global

Peneguhan Main Agenda juga melibatkan peran pemerintah dalam memastikan kinerja ekonomi tetap optimal. Airlangga menyatakan bahwa perlu adanya keterlibatan semua pihak, termasuk sektor swasta dan investor, dalam mendukung kebijakan yang berdampak langsung pada pertumbuhan. Ia menegaskan bahwa strategi ini telah dijalankan sejak awal pemerintahan, dengan fokus pada reformasi struktural dan peningkatan produktivitas.

Satgas P3-MPPE diharapkan menjadi pendorong utama dalam mendorong kebijakan yang lebih transparan dan cepat. Airlangga menyebutkan bahwa mekanisme ini dirancang agar semua hambatan dalam proses bisnis dapat teratasi secara efisien. “Dengan Main Agenda debottlenecking, kita bisa mempercepat proyek strategis dan memastikan perekonomian tetap kuat di tengah tantangan global,” jelasnya.

Di sisi lain, Airlangga juga memprediksi bahwa ekonomi Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi pusat ekonomi yang stabil dalam jangka panjang. Ia menekankan bahwa tindakan tegas pemerintah dalam mengatasi masalah struktural akan menjaga pertumbuhan tetap pada jalur yang sehat. “Main Agenda ini adalah pintu masuk untuk membangun ekonomi yang tangguh dan berkelanjutan,” tutupnya.

MORE FROM THIS CATEGORY