Pembeli di Pasar Tanah Abang Menurun Secara Perlahan, Pedagang Mengeluh
Dailynesia.com – Pasar Tanah Abang, yang dulu dikenal sebagai pusat grosir tekstil terbesar di Asia Tenggara, kini mulai mengalami perubahan drastis. Berdasarkan laporan CNBC Indonesia pada Selasa (12/5/2026), jumlah pembeli di Pasar Tanah Abang terus berkurang secara perlahan. Banyak area di pasar yang sebelumnya ramai terutama menjelang hari raya, kini terlihat lebih sepi. Di Pusat Grosir Metro Tanah Abang (PGMTA), pengunjung langsung di sekitar area ini telah mengalami penurunan signifikan. Meski sebagian pelanggan langganan masih datang, jumlah mereka jauh lebih sedikit dibandingkan periode sebelumnya.
Tren Penurunan Pembeli dan Dampaknya
Pengamatan menunjukkan bahwa permintaan dari pembeli di Pasar Tanah Abang telah mengalami penurunan yang signifikan. Tidak hanya jumlah pengunjung, tapi juga jumlah transaksi secara keseluruhan turun. Ini memengaruhi daya beli pedagang, yang sebelumnya mengandalkan aktivitas fisik di pasar untuk menjangkau konsumen. Kini, banyak pedagang mulai beralih ke platform digital seperti TikTok, Shopee Live, dan media sosial lainnya untuk memperluas pasar.
Transformasi ini terasa lebih jelas di bagian lantai 3 hingga 6 Blok A dan B, di mana sejumlah ruko sudah ditutup. Di Blok F, pengunjung terlihat langka, dan di sekitar Stasiun Tanah Abang, yang dulunya dipadati calon pembeli, kini hanya dimeriahkan oleh aktivitas kecil. Para pedagang menyebutkan bahwa pengurangan pembeli di Pasar Tanah Abang terjadi secara bertahap, mulai sejak era pandemi hingga tahun ini.
Dalam wawancara dengan CNBC Indonesia, Surono, seorang pedagang batik dan pakaian muslim, mengatakan, “
Dulu para ibu-ibu berbondong-bondong ke Pasar Tanah Abang, sekarang tinggal sedikit yang masih mau datang. Tren ini membuat banyak pedagang kehilangan pendapatan, terutama mereka yang fokus pada pembeli di Pasar Tanah Abang,”
kata Surono.
Sementara itu, Limei, pedagang pakaian anak-anak, menambahkan bahwa perubahan ini memengaruhi pola belanja konsumen. “
Pembeli di Pasar Tanah Abang yang bukan langganan mulai berkurang, sedangkan pembeli langganan juga mengalami penurunan. Dulu, mereka membeli satu karung per hari, sekarang hanya setengah karung. Ada juga yang sebelumnya membeli lusin, kini hanya separuh lusin,”
terang Limei.
Perubahan ini bukan hanya terjadi di sektor tekstil, tetapi juga mencakup produk lain seperti pakaian muslim dan perlengkapan tidur. Rahmat, seorang pedagang perlengkapan tidur, mengatakan bahwa pengurangan pembeli di Pasar Tanah Abang telah membuat banyak usaha kecil kesulitan bertahan. “
Dulu sebelum pandemi, kami buka dua gerai, satu di Pasar Tanah Abang dan satu di sebelahnya. Kini, kami hanya buka satu karena pendapatan dari pembeli di Pasar Tanah Abang turun drastis, mencapai 30% dari sebelumnya,”
ujar Rahmat.

