Perang AS-Iran Mengakibatkan Kerugian dalam Negeri AS
Dailynesia.com – Menjadi strategi utama pemerintah Amerika Serikat (AS) untuk mengatasi krisis energi yang semakin mengancam akibat perang dengan Iran. Konflik Timur Tengah antara AS dan Iran telah menimbulkan gelombang kekhawatiran global, terutama karena ancaman terhadap stabilitas pasokan minyak. Menurut laporan Reuters yang diterbitkan Selasa (12/6/2026), peningkatan harga bahan bakar (BBM) dalam negeri AS berdampak signifikan pada kehidupan sehari-hari warga, sehingga memaksa pemerintah Presiden Donald Trump merancang kebijakan khusus dalam rangka mengendalikan situasi.
Langkah Pemerintah AS dan Kesepakatan Internasional
Dalam wacana Special Plan, pemerintah federal AS memutuskan untuk melepaskan minyak dari cadangan strategis (SPR) sebagai bagian dari koordinasi dengan lebih dari 30 negara anggota International Energy Agency (IEA). Penyelarasan ini bertujuan memperkuat respons terhadap gangguan pasokan energi yang diakibatkan oleh penutupan Selat Hormuz oleh Iran. Selat Hormuz, yang menjadi jalur vital pengiriman minyak dunia, memperparah ketegangan pasar global dengan mengurangi aliran sekitar 20% dari total pasokan minyak setiap hari.
Program SPR yang dikelola oleh Departemen Energi AS menjadi pilar utama dalam Special Plan. Cadangan minyak mentah ini disimpan di fasilitas bawah tanah berupa gua garam di Texas dan Louisiana, dengan kapasitas total 92,5 juta barel. Harga bensin di AS mencapai US$4,52 per galon pada Senin (11/6/2026), mencatatkan level tertinggi sejak 2022, menunjukkan tekanan nyata pada kebijakan pemerintah untuk stabilisasi pasar energi. SPR, sebagai “tameng darurat”, berperan penting dalam mengurangi volatilitas harga selama konflik.
Strategi Kebijakan Energi dan Dampaknya
Langkah pemerintah AS dalam Special Plan melibatkan pelepasan sekitar 400 juta barel minyak ke pasar global. Ini merupakan bagian dari skema internasional yang dipimpin oleh AS, yang memperhatikan kebutuhan negara-negara lain dalam menghadapi krisis pasokan. Sebelumnya, AS telah melepaskan 80 juta barel minyak dari SPR di musim semi tahun ini, dengan rencana tambahan hingga 172 juta barel untuk tahun ini. Dengan total pelepasan 252 juta barel, kebijakan ini diharapkan mampu meringankan tekanan harga BBM dalam negeri.
Kebijakan SPR dalam Special Plan juga mencakup peminjaman minyak mentah kepada sembilan perusahaan energi utama, termasuk Exxon Mobil, Trafigura, dan Marathon Petroleum. Pemerintah mengizinkan peminjaman sekitar 58% dari total 92,5 juta barel yang ditawarkan. Meski ini memberi relief jangka pendek, ekonom energi dari Universitas Michigan, Lutz Kilian, menyoroti bahwa penggunaan SPR secara berlebihan bisa mengurangi efektivitasnya dalam jangka panjang, terutama jika krisis energi terus berlanjut.
Krisis Energi dan Dampak Politik
Kenaikan harga energi saat ini berpotensi memengaruhi kepercayaan publik terhadap pemerintahan Trump. Menurut data AAA, inflasi BBM mencapai titik tertinggi dalam beberapa tahun terakhir, menyebabkan tekanan pada kebijakan ekonomi dalam pemilu sela Kongres AS bulan November. Special Plan diharapkan menjadi bukti bahwa pemerintah aktif mengambil langkah untuk melindungi rakyat dari dampak ekonomi perang. Namun, kebijakan ini juga menimbulkan pertanyaan tentang kemampuan AS dalam memulihkan pasokan minyak secara permanen.
“Pelepasan SPR dalam Special Plan mungkin menenangkan harga, tapi kegunaannya akan berkurang jika dilakukan terlalu sering atau dalam volume besar,” ujar ekonom energi Universitas Michigan, Lutz Kilian, seperti yang dilaporkan Econstor. Fatih Birol, Kepala IEA, menegaskan bahwa perang Timur Tengah menciptakan krisis energi terbesar dalam sejarah modern, dan IEA siap mengeluarkan cadangan tambahan jika gangguan pasokan berlanjut. Namun, kehabisan cadangan ini berisiko mengurangi kemampuan AS untuk menghadapi krisis di masa depan.
Ketergantungan Pasar pada Intervensi Energi
Dari sisi pasar, ketergantungan pada intervensi cadangan seperti dalam Special Plan bisa memberikan sinyal negatif kepada investor. Jika harga minyak terus naik karena gangguan pasokan, pasar mungkin menganggap kondisi global sebagai rapuh, sehingga meningkatkan volatilitas harga. Kilian menambahkan bahwa pasar bisa mengantisipasi tindakan pemerintah, menyebabkan fluktuasi harga tidak stabil atau hanya sementara. Hal ini menunjukkan bahwa Special Plan harus diimbangi dengan upaya jangka panjang untuk meningkatkan produksi minyak nasional.
Krisis energi yang dipicu oleh perang AS-Iran juga menimbulkan dampak geopolitik. Cadangan minyak yang dipakai dalam Special Plan mencerminkan ketergantungan AS terhadap sumber daya alam global, sementara Iran mengubah peran sebagai penentang pasokan. Dengan menghabiskan sebagian besar SPR, AS menunjukkan upaya kebijakan yang kritis, tetapi juga membuka celah bagi negara-negara lain untuk memperkuat posisi di pasar energi. Kebijakan ini menegaskan bahwa Special Plan bukan hanya alat stabilisasi, tetapi juga strategi untuk memengaruhi dinamika politik global.

