Sempat Ada Fenomena ‘Perkantoran Hantu’ di Jakarta – Bagaimana Kini?

3 months ago  ·  4 min read
By Linda Miller - dailynesia.com
ilustrasi-perkantoran-jakarta-1_169

Sempat Ada Fenomena ‘Perkantoran Hantu’ di Jakarta, Bagaimana Kini?

Dailynesia.com – Beberapa tahun silam, Jakarta sempat mengalami fenomena ‘perkantoran hantu’ yang menjadi sorotan publik. Periode tersebut ditandai oleh penurunan signifikan okupansi gedung perkantoran, terutama di area pusat kota, akibat krisis ekonomi dan pergeseran pola kerja. Banyak ruang kosong muncul di lantai-lantai kantor yang sebelumnya penuh, menciptakan gambaran gelap dalam sektor properti. Fenomena ini tidak hanya memengaruhi penawaran, tetapi juga menimbulkan pertanyaan tentang keberlanjutan investasi dan penggunaan lahan di ibukota.

Perkembangan Pasar Perkantoran di Tahun 2026

Sejak tahun 2026, situasi pasar perkantoran Jakarta mulai berubah. Menurut laporan JLL Indonesia, tingkat okupansi kembali membaik, terutama di pusat bisnis (CBD). Suplai ruang kantor Grade A yang terbatas berkontribusi pada pemulihan, sementara permintaan dari sektor bisnis lokal dan multinasional mulai tumbuh kembali. Fenomena ‘perkantoran hantu’ yang sempat menghiasi berita tahun lalu kini mulai berpindah ke zona kawasan yang lebih terjangkau, seperti TB Simatupang.

“Pemulihan ini tidak hanya terjadi di CBD, tetapi juga merambat ke area kawasan dengan suplai ruang kantor yang lebih besar. Meski okupansi Grade A naik, kawasan Grade B dan C tetap menjadi pilihan untuk perusahaan dengan anggaran terbatas,”

Menurut James Taylor, Head of Research JLL Indonesia, permintaan pada kuartal pertama 2026 mengalami lonjakan hingga 21.000 meter persegi di CBD. Angka ini menunjukkan bahwa fenomena ‘perkantoran hantu’ tidak lagi menjadi norma, namun mulai bergeser ke arah pengembangan yang lebih seimbang. Meski demikian, ada beberapa daerah yang masih mengalami penurunan, terutama di kawasan periphery.

Perbandingan Antara CBD dan Kawasan Lain

Di kawasan CBD, ruang kantor Grade A terus menjadi prioritas bagi perusahaan-perusahaan besar, baik yang bergerak di sektor teknologi, finansial, maupun layanan. Namun, harga sewa yang relatif tinggi memaksa perusahaan mengevaluasi lokasi operasional mereka. Di sisi lain, kawasan seperti TB Simatupang menawarkan solusi yang lebih ekonomis, dengan penyerapan ruang kantor yang mencapai 15.000 meter persegi di kuartal I-2026. Hal ini menunjukkan bahwa fenomena ‘perkantoran hantu’ masih relevan, tetapi kini beradaptasi dengan perubahan kebutuhan pasar.

“Penyewa kini lebih fleksibel dalam memilih lokasi. Meski CBD mengalami pemulihan, kawasan dengan infrastruktur dan kenyamanan yang memadai tetap menarik untuk perusahaan kecil dan menengah. Fenomena ‘perkantoran hantu’ sekarang menjadi bagian dari strategi pengembangan jangka panjang, bukan hanya masalah sementara,”

Pemulihan pasar perkantoran Jakarta menunjukkan keberhasilan beberapa kebijakan pemerintah dan inisiatif swasta. Misalnya, perusahaan teknologi yang kembali menempati ruang kantor di area CBD memberikan dorongan kecil keokupansi, sementara perusahaan kecil lebih memilih ruang kantor di kawasan yang lebih strategis tetapi lebih terjangkau. Fenomena ‘perkantoran hantu’ yang sempat menghiasi berita sebelumnya kini menjadi cerminan dinamika pasar yang lebih kompleks.

Kebutuhan Perusahaan dan Tren Penyerapan

Berdasarkan data JLL, kebutuhan ruang kantor di Jakarta mencapai 21.000 meter persegi pada kuartal I-2026, meningkat 100% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa fenomena ‘perkantoran hantu’ tidak lagi menghambat pertumbuhan, melainkan menciptakan peluang untuk penyesuaian struktur pasar. Jumlah ruang yang diserap di kawasan TB Simatupang, misalnya, menunjukkan bahwa ada konsistensi permintaan meski angka penyerapan lebih rendah dibanding CBD.

Dalam jangka panjang, tren ini berpotensi mengubah cara kita memandang pengembangan kawasan perkantoran. Banyak perusahaan yang sebelumnya beralih ke kawasan lebih terjangkau kini mulai kembali ke CBD, terutama setelah adanya kebijakan insentif pajak dan perbaikan infrastruktur. Fenomena ‘perkantoran hantu’ yang sempat menjadi masalah, kini berubah menjadi indikator pergeseran strategi bisnis dan adaptasi terhadap kondisi ekonomi yang lebih stabil.

Perspektif Investor dan Masa Depan Pasar

Investor properti mulai berpikir ulang tentang risiko dalam sektor perkantoran Jakarta. Ketersediaan ruang kantor yang tidak seimbang dengan permintaan, sebelumnya membuat banyak investor mengalihkan dana ke sektor lain. Namun, dengan pemulihan yang terjadi, beberapa pihak kembali mempercayai potensi pasar ini. Fenomena ‘perkantoran hantu’ yang sempat menghiasi berita kini menjadi bagian dari analisis bisnis yang lebih matang.

“Ketersediaan ruang kantor Grade A di Jakarta masih menjadi daya tarik, tetapi juga ada kehati-hatian. Pemulihan tidak berarti fenomena ‘perkantoran hantu’ telah lenyap, melainkan bertransformasi menjadi bagian dari kebijakan pengelolaan properti yang lebih efisien,”

Analisis JLL menunjukkan bahwa pasar perkantoran Jakarta masih dalam proses pemulihan, dengan penyerapan ruang kantor yang seimbang antara kawasan CBD dan periphery. Fenomena ‘perkantoran hantu’ yang sempat menimbulkan kekhawatiran sekarang menjadi cerminan keberagaman kebutuhan penyewa dan adaptasi industri properti terhadap perubahan ekonomi. Pemulihan ini juga berpotensi memperkuat ekosistem bisnis di ibukota, dengan keberagaman lokasi yang lebih menarik bagi berbagai jenis perusahaan.

Konsistensi dalam Pemulihan dan Tantangan Mendatang

Pemulihan pasar perkantoran Jakarta di tahun 2026 menunjukkan keberhasilan adaptasi dari para penyewa dan pengelola. Meski fenomena ‘perkantoran hantu’ sempat menghiasi pemberitaan sebelumnya, kini banyak ruang yang diisi kembali oleh perusahaan-perusahaan yang menyesuaikan anggaran dengan tren ekonomi. Dengan adanya pembatasan suplai baru dan meningkatnya permintaan, dinamika ini berpotensi berlanjut ke tahun-tahun berikutnya.

“Perusahaan besar dan kecil kini memiliki strategi yang berbeda, tetapi saling melengkapi dalam memenuhi kebutuhan ruang kantor. Fenomena ‘perkantoran hantu’ menjadi pengingat bahwa pasar properti perlu terus beradaptasi untuk memenuhi berbagai segmen pelanggan,”

Dalam jangka panjang, keseimbangan antara harga sewa dan okupansi akan menentukan masa depan pasar perkantoran Jakarta. Fenomena ‘perkantoran hantu’ yang sempat menjadi tantangan sekarang menjadi bagian dari proses evolusi industri, dengan pergeseran lokasi dan penggunaan ruang kantor yang lebih optimal. Pemulihan ini menunjukkan bahwa Jakarta masih memiliki daya tarik sebagai pusat bisnis, meski dengan pendekatan yang lebih fleksibel dan beragam.

MORE FROM THIS CATEGORY