Survei Terbaru: Mayoritas Warga AS Bingung Trump Mau Ngapain di Iran

3 months ago  ·  3 min read
By Linda Miller - dailynesia.com
6d3e5d6c-a538-455d-ac91-5f0c096e1815-0

Survei Terbaru: Mayoritas Warga AS Bingung dengan Tujuan New Policy Trump di Iran

Dailynesia.com – Dari Jakarta, survei kebijakan baru terbaru menunjukkan kebingungan yang semakin menguat di kalangan masyarakat Amerika Serikat terhadap strategi New Policy yang diusung oleh Presiden Donald Trump terkait operasi militer di Iran. Dalam hasil jajak pendapat Reuters/Ipsos yang diluncurkan pada Senin (11/5/2026), sebagian besar penduduk AS mengungkapkan ketidakpahaman mengenai dampak New Policy terhadap kebijakan luar negeri dan hubungan internasional negara mereka. Kebijakan ini, yang dianggap sebagai bagian dari upaya Trump memperkuat posisi AS di Timur Tengah, telah memicu banyak pertanyaan mengenai alasan pemerintah memilih Iran sebagai target utama dalam konflik berkepanjangan.

Pandangan Umum Terhadap New Policy

Survei empat hari yang dilakukan oleh Reuters/Ipsos mencatat bahwa 68% responden menilai New Policy Trump belum memberikan penjelasan yang jelas mengenai alasan keterlibatan militer AS di Iran. Dalam

“New Policy Trump tampak kurang terkoordinasi, dengan banyak warga AS mempertanyakan manfaatnya bagi ekonomi dan keamanan nasional,”

kata seorang peserta survei. Meski dukungan untuk Trump sedikit meningkat dari 36% dibandingkan posisi terendahnya beberapa minggu lalu, angka ini tetap jauh di bawah tingkat dukungan 40% yang ia capai sebelum perang dimulai pada 28 Februari.

Kebijakan baru tersebut juga menimbulkan perdebatan di kalangan politisi dan ahli ekonomi. Banyak yang mengkritik langkah Trump yang memperpanjang konflik dengan Iran, terutama karena kenaikan harga bensin yang mencapai 50% secara nasional. Kondisi ekonomi yang memburuk ini membuat warga AS semakin mempertanyakan apakah New Policy benar-benar menguntungkan mereka atau justru memperumit kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain, kebijakan baru ini sedang diuji coba dalam konteks kekhawatiran publik yang meluas.

Ekonomi dan Konflik: Hubungan yang Kritis

Survei menyoroti bahwa kekhawatiran ekonomi rumah tangga menjadi salah satu faktor utama yang mengurangi kepercayaan publik terhadap New Policy. Data menunjukkan 63% warga AS mengatakan keuangan pribadi mereka terdampak langsung dari kenaikan harga bahan bakar, meningkat dari 55% pada survei Maret lalu. Dari perspektif ekonomi, New Policy Trump dianggap sebagai penyebab utama kenaikan harga tersebut, terutama karena pengaruhnya terhadap pasokan energi global.

Mayoritas responden (65%) menyalahkan pemerintahan Trump atas kenaikan biaya kehidupan yang terjadi. Mereka menganggap kebijakan baru ini kurang efektif dalam mengatur harga bahan bakar, sementara sebagian mempertanyakan apakah New Policy akan menghasilkan kestabilan jangka panjang. Banyak warga AS juga menyebutkan bahwa ketidakpastian mengenai kesepakatan antara Washington dan Teheran telah memperparah ketegangan, sehingga mereka kehilangan kepercayaan pada kebijakan luar negeri Trump.

Sebagai contoh, 10 warga AS dari responden yang diwawancara menyatakan bahwa jika New Policy tidak menurunkan harga bensin, mereka akan mengurangi rencana bepergian atau membatalkan liburan musim panas. Angka ini menunjukkan bahwa kebijakan baru Trump tidak hanya terkait dengan hubungan diplomatik, tetapi juga berdampak langsung pada keputusan pribadi warga. Sementara itu, 60% peserta survei mengungkapkan keinginan untuk melihat perubahan kebijakan yang lebih jelas dari Trump dalam rangka memperbaiki kondisi ekonomi.

Analisis Politik dan Masa Depan

Kondisi politik AS saat ini juga terpengaruh oleh New Policy Trump. Dengan mayoritas tipis di DPR dan Senat, Partai Republik memegang posisi yang rentan. Survei menunjukkan bahwa kebijakan baru ini berpotensi mengganggu strategi mereka dalam mempertahankan kekuasaan, terutama jika harga bensin tidak menurun dalam waktu dekat. Seorang peneliti kebijakan menyebut bahwa New Policy sedang diuji coba dalam suasana ekonomi yang kritis, sehingga hasilnya bisa menjadi indikator keberhasilan atau kegagalan kebijakan Trump.

Dalam konteks pemilu sela Kongres yang akan datang pada November, New Policy menjadi topik hangat yang memicu perdebatan. Beberapa anggota Partai Republik mempertahankan dukungan mereka, sementara kritik dari partai oposisi terus mengalir. Survei ini juga menyoroti bahwa keputusan Trump dalam New Policy tidak hanya memengaruhi hubungan dengan Iran, tetapi juga mengubah pandangan masyarakat terhadap kebijakan luar negeri secara umum. Dengan demikian, New Policy menjadi salah satu faktor utama yang akan ditinjau dalam masa depan.

Sebagai kesimpulan, survei terbaru menegaskan bahwa New Policy Trump masih dalam uji coba, dan masyarakat AS meminta penjelasan lebih lanjut mengenai manfaatnya. Dengan kekhawatiran ekonomi yang memuncak dan ketidakpastian politik yang berkelanjutan, New Policy akan menjadi fokus utama dalam diskusi publik dan pengambilan keputusan politik. Pemimpin partai oposisi menegaskan bahwa mereka akan terus mengawasi dampak New Policy terhadap kehidupan warga dan hubungan internasional AS.

MORE FROM THIS CATEGORY