Ramai Orang di Banten Batal Beli Rumah Rp3 M, Efek Ekonomi Kian Sulit?

3 months ago  ·  3 min read
By Linda Davis - dailynesia.com
d30e286d-e122-4a39-89d6-89c63e93b9c1-0

Ramai Orang di Banten Batal Beli Rumah Rp3 M, Efek Ekonomi Kian Sulit?

Dailynesia.com – Pada awal tahun 2026, pasar properti perumahan di Indonesia terus menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Berdasarkan hasil Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia, penjualan properti residensial di pasar primer menurun 25,67% secara tahunan dalam triwulan I-2026, berbanding dengan kenaikan 7,83% di triwulan IV-2025. Sementara itu, kenaikan harga properti residensial stagnan, hanya mencapai 0,62% per tahun. Fenomena ini memperlihatkan Solving Problems yang sedang dihadapi masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hunian.

Solving Problems: Tantangan Ekonomi Global dan Domestik

Kondisi ekonomi yang tidak kondusif di Banten dan sekitarnya menjadi penyebab utama perlambatan transaksi. Vemby, ketua DPD Asosiasi Real Estate Broker Indonesia (AREBI) Provinsi Banten, mengungkapkan bahwa faktor ekonomi domestik seperti peningkatan pengangguran dan pekerja yang membatasi kemampuan beli, serta dampak perang global yang memengaruhi harga minyak dan inflasi, membuat masyarakat lebih hati-hati dalam membeli properti. “Economic uncertainty dan biaya hidup yang meningkat memaksa banyak orang untuk mengurangi pengeluaran, termasuk untuk membeli rumah,” jelas Vemby dalam wawancara dengan CNBC Indonesia, Senin (11/5/2026).

Situasi ini tidak hanya terbatas pada wilayah tertentu. Menurut Vemby, mayoritas agen properti di Tangerang Raya, termasuk kawasan Serpong dan BSD, mengalami penurunan penjualan dibandingkan tahun sebelumnya. “Kebanyakan calon pembeli lebih memilih untuk menunda keputusan pembelian sampai kondisi ekonomi lebih stabil,” tambahnya. Hal ini menunjukkan bahwa Solving Problems dalam perbaikan ekonomi menjadi prioritas utama bagi masyarakat.

Keluhan mengenai perlambatan transaksi juga terlihat di sektor properti menengah. Segmen rumah dengan harga Rp1 miliar hingga Rp3 miliar, yang sebelumnya menjadi daya tarik utama, kini mengalami tekanan signifikan. “Harga di kawasan seperti Tangerang Selatan turun hingga 15-20%, membuat banyak pembeli lebih memilih opsi dengan harga lebih rendah,” terang Vemby. Perubahan ini mengisyaratkan bahwa Solving Problems dalam menyesuaikan harga menjadi kunci untuk memulihkan minat pembelian.

Solving Problems: Perubahan Pola Pembelian dan Kebutuhan Konsumen

Selain faktor ekonomi, perubahan pola pembelian juga menjadi faktor pendorong perlambatan. Masyarakat kelas menengah kini lebih selektif dan cenderung membandingkan berbagai pilihan sebelum membeli. “Konsumen lebih memperhatikan kualitas, lokasi, dan harga, sehingga proses transaksi memakan waktu lebih lama,” tambah Vemby. Hal ini mencerminkan Solving Problems yang dilakukan calon pembeli untuk menemukan solusi yang paling sesuai dengan anggaran mereka.

“Banyak calon pembeli menawarkan harga murah, tapi kita tidak langsung menerima. Jika harga terjangkau, mereka bisa langsung dilepas,” kata Sony, pemilik aset properti di Tangerang Selatan.

Perusahaan properti Sony juga melaporkan bahwa label “Jual Cepat” sering digunakan untuk menarik pembeli yang ingin segera mengakhiri proses beli. Namun, meskipun ada penurunan volume transaksi, Vemby menekankan bahwa ada peningkatan kebutuhan konsumen terhadap properti yang lebih terjangkau. “Banyak orang yang sebelumnya membidik harga Rp2-3 miliar kini beralih ke harga Rp1-1,5 miliar,” jelasnya.

Penurunan penjualan juga berdampak pada omzet agen properti. Secara rata-rata, penjualan turun lebih dari 30% per tahun, meskipun beberapa kantor agen besar masih stabil. “Meski ada perbedaan antara agen besar dan kecil, secara keseluruhan, Solving Problems dalam memperkuat pasar properti masih diperlukan untuk menghadapi tantangan ekonomi,” kata Vemby. Kondisi ini memicu diskusi tentang strategi jangka panjang untuk memulihkan kepercayaan konsumen dan memperbaiki kondisi pasar.

MORE FROM THIS CATEGORY