BRIN Ungkap Teknologi Murah Kelola Sampah Jadi Solar

3 months ago  ·  3 min read
By James Lopez - dailynesia.com
logo-brin_169

BRIN Rilis Teknologi Terjangkau Konversi Sampah Menjadi Solar

Dailynesia.com – Menjadi salah satu strategi utama yang diusung oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam upaya mengatasi krisis limbah di Indonesia. Dalam wawancara usai upacara penandatanganan kesepakatan antara pemerintah daerah dan Danantara untuk percepatan pembangunan PSEL, Arif Satria, Kepala BRIN, mengungkapkan bahwa teknologi dalam negeri telah siap diterapkan sebagai solusi untuk mengelola sampah, termasuk mengubah sampah organik dan plastik menjadi bahan bakar solar. Menurutnya, penumpukan sampah di berbagai wilayah menjadi tantangan besar yang memerlukan inovasi berkelanjutan.

Empat Tingkat Teknologi Pengolahan Sampah

BRIN telah mengembangkan empat tingkatan teknologi pengolahan sampah yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan daerah dengan berbagai skala. “Kita menyediakan empat tingkatan teknologi sampah, dari rumah tangga, desa, kecamatan, hingga kota,” kata Arif Satria, Senin (11/5/2026). Teknologi ini bertujuan mengoptimalkan pengelolaan limbah secara bertahap, mulai dari tingkat kecil hingga besar, agar dapat mengakomodasi semua jenis penggunaan.

Di tingkat rumah tangga, BRIN menyediakan alat Lahsamor Komposter yang memiliki biaya Rp 1 juta per unit. Alat ini menggunakan sistem putar untuk mengubah sampah organik menjadi kompos, yang tidak hanya membantu mengurangi volume sampah tapi juga menjadi sumber nutrisi bagi tanah. Sementara itu, teknologi Pirolisis Faspol diterapkan pada sampah plastik kategori low value, yang menjadi solusi for masalah daur ulang plastik di tingkat komunitas.

“Teknologi ini memungkinkan kita mengolah limbah plastik menjadi bahan bakar yang bisa digunakan oleh nelayan dan warga sekitar,” tambah Arif. Dalam pengujian, ia menyatakan bahwa banyak nelayan sudah mengadopsi solar dari sampah plastik sebagai alternatif energi yang lebih murah dan ramah lingkungan.

Pengembangan Teknologi Konversi Sampah

Selain teknologi khusus, BRIN juga mendorong pengembangan sistem pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL) yang mampu memproses hingga 50 ton sampah per hari. Arif menjelaskan bahwa teknologi ini dirancang untuk bisa diperluas hingga 100 ton per hari, memperkuat solusi for pengelolaan limbah skala besar. Meskipun target BRIN adalah 1.000 ton per hari, teknologi yang kini tersedia cukup efektif untuk melayani daerah dengan volume sampah yang lebih rendah.

BRIN menekankan bahwa teknologi yang dikembangkan memiliki keunggulan biaya rendah dan proses yang relatif sederhana. “Solusi for ini bisa diterapkan di berbagai tingkat pemerintahan tanpa memerlukan investasi besar,” ungkapnya. Hal ini membuat teknologi menjadi aksesibel bagi daerah-daerah yang belum memiliki dana untuk solusi pengolahan sampah modern.

Dalam praktiknya, konversi sampah plastik menjadi solar telah terbukti efektif. Solar yang dihasilkan memenuhi standarisasi dari LEMIGAS, dengan harga jual per liter mencapai Rp 10.000. Teknologi ini menawarkan potensi ekonomi yang signifikan, karena bisa menghasilkan energi alternatif yang bisa digunakan oleh masyarakat lokal. Selain itu, penggunaan solar dari sampah juga membantu mengurangi emisi karbon dari pembakaran bahan bakar fosil.

Kondisi “Darurat Sampah” di Indonesia

Indonesia sedang menghadapi kondisi “Darurat Sampah,” yang terlihat dari volume sampah yang terus meningkat di berbagai TPA. Situasi ini memicu perhatian karena beberapa bulan lalu terjadi musibah longsor sampah di Bantar Gebang, Cipecang, Burangkeng, dan TPA lainnya. Fenomena ini menunjukkan kekacauan dalam sistem pengelolaan limbah yang sudah kewalahan menghadapi sampah yang terus menumpuk.

Arif menyoroti bahwa teknologi BRIN bisa menjadi solusi for untuk mengatasi masalah ini secara holistik. Dengan mengubah sampah menjadi solar, proses daur ulang tidak hanya membantu mengurangi sampah, tapi juga menciptakan energi baru yang bisa dipakai sehari-hari. Solusi for ini juga menekankan keberlanjutan lingkungan, karena menghindari pembuangan sampah yang merusak ekosistem.

Di sisi lain, keberhasilan teknologi BRIN memperlihatkan kemajuan dalam bidang inovasi nasional. Arif menegaskan bahwa BRIN terus berupaya mengembangkan teknologi yang mudah diadopsi dan memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat. “Solusi for ini bukan hanya sekadar teknologi, tapi juga langkah strategis untuk menjaga keberlanjutan lingkungan dan ekonomi,” pungkasnya. Penerapan teknologi ini diharapkan bisa menjadi contoh bagus dalam memecahkan masalah lingkungan di negara ini.

MORE FROM THIS CATEGORY