Mobil Bensin Sudah Tamat – Tandanya Makin Kencang di China

3 weeks ago  ·  3 min read
By Linda Miller - dailynesia.com
kepadatan-arus-lalu-lintas-kendaraan-mobil-dan-motor-di-jl-lebak-bulus-jakarta-selatan-selasa-252023-cnbc-indonesiamuhammad-sa-8_169

Mobil Bensin Sudah Tamat, Tandanya Makin Kencang di China

Dailynesia.com – Transisi menuju era kendaraan listrik (EV) di Tiongkok semakin jelas terlihat, dengan tanda-tanda bahwa penggunaan mobil bensin akan berakhir dalam beberapa tahun ke depan. Kenaikan harga bahan bakar minyak yang terus-menerus, terutama akibat konflik geopolitik di Timur Tengah, mempercepat proses ini. Pemerintah Tiongkok dan industri otomotif berupaya mempercepat adopsi mobil listrik sebagai solusi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Kebijakan pemerintah, peningkatan infrastruktur pengisian daya, serta respons masyarakat semakin menguatkan pelan-pelan bahwa mobil bensin sudah tamat sebagai pilihan utama.

Kenaikan Harga BBM Mempercepat Transisi ke EV

Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang terjadi pada Mei 2026, menurut data dari Kementerian Energi Tiongkok, mencapai 12% dibandingkan bulan sebelumnya. Angka ini menjadi penggerak kuat bagi masyarakat untuk beralih ke kendaraan listrik. Dalam survei oleh lembaga penelitian lokal, sekitar 70% dari responden mengatakan akan mempertimbangkan penggunaan mobil listrik jika biaya bensin terus meningkat. Selain itu, subsidi pemerintah untuk mobil listrik, yang mencapai 30.000 yuan per unit, juga mempercepat pergeseran ini.

Transisi ke EV tidak hanya terjadi di sektor pribadi, tetapi juga di sektor transportasi umum. Sejak tahun 2025, 40% armada taksi di kota-kota besar Tiongkok telah berubah menjadi kendaraan listrik. Perusahaan seperti Didi mencatatkan peningkatan 2 juta unit kendaraan listrik pada tahun 2025, menjadikannya pengguna terbesar di dunia. Mobil bensin sudah tamat sebagai pilihan utama, terutama di kota-kota yang memiliki kepadatan lalu lintas tinggi.

“Mobil bensin sudah tamat di Tiongkok, terutama di kota-kota besar,” kata pengamat transportasi, Daizong Liu, saat diwawancarai oleh CNBC Indonesia. “Biaya bahan bakar dan kepadatan lalu lintas membuat mobil listrik menjadi solusi yang lebih efisien.” Liu menambahkan bahwa kebijakan kota-kota besar, seperti larangan parkir mobil bensin di area tertentu, juga mempercepat adopsi EV.

Pengurangan Ketergantungan pada Minyak

Ekspansi mobil listrik memberikan dampak signifikan pada pengurangan ketergantungan Tiongkok pada impor minyak. Pada bulan Juni 2026, jumlah impor minyak berkurang 41% dibandingkan tahun sebelumnya, berkat peningkatan volume penggunaan kendaraan listrik. Kementerian Energi mengungkapkan bahwa ini membantu negara menghemat dana hingga 10 miliar dolar AS setiap tahun, yang sebelumnya dialokasikan untuk impor bahan bakar.

Di sisi lain, penggunaan bahan bakar solar juga menurun 14% pada Mei 2026, meski kebutuhan transportasi untuk perjalanan libur panjang meningkat. Angka ini menunjukkan bahwa meski permintaan transportasi naik, masyarakat semakin memilih moda yang lebih ramah lingkungan dan ekonomis. Kebijakan pemerintah untuk menekan emisi karbon juga mempercepat pergeseran ini. Mobil bensin sudah tamat di beberapa daerah, terutama di kota-kota yang menjadi pusat industri otomotif.

Analisis dari J.P. Morgan menegaskan bahwa kenaikan harga BBM mempercepat perubahan perilaku konsumen. Peningkatan jumlah kendaraan listrik mencapai 20% setiap bulan sejak Januari 2026, menjadi bukti bahwa tren ini tidak hanya bertahan, tetapi juga semakin kuat. Di Tiongkok, mobil bensin sudah tamat sebagai pilihan utama, terutama untuk kebutuhan transportasi harian.

Perkembangan Teknologi dan Infrastruktur

Perkembangan teknologi baterai dan pengisian daya menjadi faktor penting dalam menguatkan transisi ke EV. Pada 2026, Tiongkok membangun 50.000 stasiun pengisian daya baru, menjadikannya negara dengan infrastruktur terbesar di dunia. Hal ini memastikan ketersediaan daya yang memadai, bahkan di daerah terpencil. Kementerian Energi juga menargetkan 100.000 stasiun pengisian daya lebih lagi pada 2027, sehingga memperkuat posisi Tiongkok sebagai pusat inovasi mobil listrik.

Seiring itu, perusahaan otomotif seperti BYD dan Tesla semakin menguasai pasar. BYD, yang menjadi produsen mobil listrik terbesar di dunia, melaporkan peningkatan 25% dalam penjualan pada 2026. Teknologi otomotif Tiongkok terus berinovasi, dengan peningkatan efisiensi baterai hingga 15% dalam setahun terakhir. Mobil bensin sudah tamat di segmen pasar yang lebih besar, terutama di kota-kota besar yang memiliki kebutuhan transportasi tinggi.

Penelitian dari Institute for Transportation & Development Policy menunjukkan bahwa penggunaan mobil listrik tidak hanya mengurangi biaya, tetapi juga memperbaiki kualitas udara di kota-kota Tiongkok. Emisi karbon dari transportasi menurun 30% pada 2026, berkat kebijakan pemerintah yang memprioritaskan kendaraan ramah lingkungan. Tiongkok sedang membangun sistem transportasi yang lebih berkelanjutan, dengan mobil bensin sudah tamat sebagai bagian dari rencana jangka panjang.

MORE FROM THIS CATEGORY