Petaka Kekeringan Hantam Tangsel, Air Sumur Sampai Keruh-Warga Merana

3 weeks ago  ·  3 min read
By Linda Miller - dailynesia.com
40242ac2-6ad9-4a50-bdec-a29c94ae53bb-0

Petaka Kekeringan Hantam Tangsel, Air Sumur Menjadi Keruh – Warga Merana

Dailynesia.com – Terus mengemuka dalam situasi krisis kekeringan yang melanda Kota Tangerang Selatan (Tangsel) selama sekitar sebulan terakhir. Musibah ini menimpa warga Kampung Koceak, Kelurahan Keranggan, yang kesulitan mengakses air bersih karena sumur-sumur mereka mulai mengering dan kualitas air terpuruk. BPBD setempat mempercepat distribusi bantuan air, tetapi warga masih harus berjuang keras untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kekeringan yang berkepanjangan telah menyebabkan penurunan signifikan pada volume air tanah, membuat sumber daya air terbatas. Dalam beberapa hari terakhir, warga harus mengantre air dari titik distribusi yang dibuka oleh pihak BPBD. Bantuan yang diberikan mencakup sekitar 19.000 liter air per hari, dengan total 55 kepala keluarga yang menerima dari tiga lokasi utama. Namun, jumlah ini dinilai belum cukup untuk memenuhi kebutuhan seluruh penduduk, terutama dalam kondisi yang terus memburuk.

Kebutuhan Air Harian Terancam

Masyarakat mengeluhkan bahwa krisis air telah mengubah rutinitas sehari-hari. Banyak dari mereka kini mengandalkan air galon yang dibeli dengan biaya tambahan, seperti Juanda (54) yang menghabiskan Rp6.000 per hari untuk kebutuhan memasak dan minum. “Kita jadi harus hemat, karena air hanya cukup untuk mandi dan mencuci piring,” kata Juanda, yang juga mengungkapkan bahwa penggunaan air untuk mencuci pakaian hanya dilakukan pada pagi dan sore hari.

“Air bantuannya tetap kurang karena harus bolak-balik mengangkut ember ke rumah,” tambah Juanda dalam wawancara dengan CNBC Indonesia.

Kondisi ini membuat warga terpaksa beradaptasi dengan penggunaan air yang lebih terbatas. Beberapa bahkan mulai menggunakan air hujan atau air dari sumber lain seperti sungai atau parit untuk memenuhi kebutuhan, meski kualitasnya tidak terjamin. “Kami masih harap ada peningkatan distribusi air agar bisa bertahan hingga musim hujan tiba,” kata salah seorang warga lainnya.

Upaya Pemulihan dan Peran Pemerintah

BPBD Tangsel sedang berupaya keras untuk memperbaiki kondisi ini dengan mengirimkan bantuan air galon secara berkala. Namun, Key Issue ini memperlihatkan bahwa respons pemerintah perlu lebih cepat dan efektif. Kepala BPBD setempat menyatakan bahwa mereka sedang mengevaluasi kebutuhan air warga dan berkoordinasi dengan pihak terkait untuk mempercepat proses pengiriman.

Krisis air juga memicu perhatian organisasi non-pemerintah (NGO) dan komunitas lokal yang mulai bergerak untuk memberikan bantuan tambahan. Beberapa warga mengungkapkan bahwa mereka berharap Key Issue ini bisa menjadi momentum untuk meningkatkan keberlanjutan sumber air di wilayah yang rawan krisis. “Kita perlu solusi jangka panjang, bukan hanya bantuan sementara,” imbuh salah seorang aktivis lingkungan.

Sebagai contoh, sumur di daerah ini kini tidak lagi menjadi sumber air utama. Sumur yang sebelumnya mengalir deras kini hanya mengering pada beberapa jam sehari. Meski kualitas air masih bisa diminum, kondisi keruh menyebabkan ketakutan akan penyakit yang bisa terjadi akibat kotoran dan kandungan kimia yang terlarut. “Kami masih mengharapkan air bersih, tetapi sekarang hanya bisa bertahan beberapa hari,” keluh seorang ibu rumah tangga.

Key Issue ini juga menggambarkan bagaimana krisis kekeringan memengaruhi seluruh aspek kehidupan warga. Selain kesulitan mengakses air, masyarakat juga mengalami gangguan pada kegiatan sehari-hari seperti mandi, mencuci, dan persiapan makan. Kondisi ini memaksa warga beradaptasi dengan berbagai cara, termasuk membangun sumur tambahan atau menggunakan alat transportasi sederhana untuk mengangkut air.

Krisis kekeringan yang terjadi di Tangsel menjadi contoh nyata bagaimana perubahan iklim dan kurangnya pengelolaan sumber daya air bisa memengaruhi kesejahteraan masyarakat. Key Issue ini menekankan pentingnya pemerintah dan lembaga terkait bergerak cepat dalam mengatasi masalah yang terjadi, baik melalui peningkatan distribusi air maupun perbaikan sistem pengelolaan air tanah. Dengan begitu, warga dapat mengurangi beban yang dihadapi dan mempercepat pemulihan kondisi.

MORE FROM THIS CATEGORY