Key Discussion: Kenaikan Ongkos Kapal China Akibat Krisis Hormuz, RI Berupaya Tekan Harga
Dailynesia.com – Kenaikan ongkos kapal China ke Indonesia semakin terasa akibat krisis yang terjadi di Selat Hormuz. Dalam upaya memperkuat kebijakan pengendalian inflasi, Kementerian Perdagangan (Kemendag) menyoroti peran Selat Hormuz sebagai jalur utama pengiriman bawang putih dari Tiongkok. Peningkatan biaya logistik ini tidak hanya memengaruhi harga bawang putih, tetapi juga memicu perdebatan tentang efektivitas langkah pemerintah dalam mengatasi dampak global terhadap ekonomi dalam negeri.
Pemicu Kenaikan Biaya Logistik
Key Discussion – Kebocoran di Selat Hormuz menjadi faktor kritis yang menyebabkan kapal-kapal Tiongkok menjadi sasaran persaingan dari berbagai negara. Menurut Nawandaru Dwi Putra, Direktur Bina Pasar Dalam Negeri Kemendag, kondisi ini memperparah tekanan pada biaya pengiriman, terutama untuk barang-barang yang diimpor dari Tiongkok. “Key Discussion: Krisis di Selat Hormuz menyebabkan fluktuasi harga global, yang berdampak langsung pada biaya distribusi bawang putih,” ujarnya. Situasi ini menunjukkan ketergantungan Indonesia pada pasokan dari Tiongkok, yang menjadi negara utama pemasok bahan pokok tersebut.
Key Discussion: Selat Hormuz, yang menjadi jalur penting pengiriman minyak dan komoditas lain, kini juga mengalami gangguan yang mengakibatkan lonjakan biaya pengangkutan. Dengan pasokan yang terbatas, kapal Tiongkok harus berebut untuk mengirimkan bawang putih ke Indonesia, sehingga ongkos kapal meningkat signifikan. Ini menjadi tantangan serius bagi pemerintah yang ingin menjaga stabilitas harga di tengah kenaikan inflasi.
Data Harga Bawang Putih
Key Discussion – Menurut data terbaru, harga eceran bawang putih jenis Honan mencapai Rp39.315 per kg sejak 10 Juli 2026, naik 5,5% dari harga acuan Badan Pangan Nasional (Bapanas). Wilayah non-Maluku dan Papua mencatat harga Rp38.096 per kg, sedikit di atas Rp38.000 per kg. Namun, di Maluku dan Papua, harga tercatat melonjak hingga Rp64.867 per kg, atau 62% di atas acuan sebesar Rp40.000 per kg. Sementara itu, harga bawang putih kating nasional juga naik 4,56%, mencapai Rp41.270 per kg.
Key Discussion: Disparitas harga terutama terjadi di daerah-daerah yang mengalami krisis logistik. Wilayah Maluku dan Papua, yang lebih jauh dari pelabuhan utama, terkena dampak lebih besar karena keterbatasan akses kapal. Nawandaru menekankan bahwa kenaikan ini tidak hanya terkait dengan Selat Hormuz, tetapi juga dipengaruhi oleh pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, yang memperbesar biaya impor.
Langkah Kemendag untuk Mengurangi Disparitas
Key Discussion: Dalam upaya menekan disparitas harga, Kemendag sedang berkoordinasi dengan Direktorat Jenderal Perdagangan Luar Negeri untuk mengubah pola distribusi bawang putih. Nawandaru menyatakan bahwa strategi ini bertujuan agar kapal-kapal Tiongkok bisa mengirimkan barang langsung ke pelabuhan utama kawasan timur Indonesia, sehingga biaya logistik lebih efisien. “Key Discussion: Kami berharap dengan langkah ini, harga jual bawang putih di wilayah timur bisa lebih stabil,” jelasnya.
Key Discussion: Selain itu, Kemendag juga sedang mempercepat proses impor dari negara-negara lain untuk mengurangi ketergantungan pada bawang putih dari Tiongkok. Nawandaru menambahkan bahwa inisiatif ini diharapkan bisa memberikan solusi jangka panjang, terutama dalam menghadapi fluktuasi harga global yang dipicu oleh krisis logistik di Selat Hormuz. “Key Discussion: Pemerintah berupaya menyeimbangkan antara kebutuhan pasokan dan biaya distribusi untuk menjaga keseimbangan harga di pasar dalam negeri.”
Konteks Global dan Dampak Ekonomi
Key Discussion: Krisis Selat Hormuz tidak hanya mengganggu pasokan bawang putih, tetapi juga mengakibatkan peningkatan biaya untuk berbagai komoditas impor. Peningkatan ini berdampak pada daya beli masyarakat dan memperkuat tekanan inflasi, terutama di sektor makanan pokok. Sejumlah analis menilai bahwa kenaikan ongkos kapal Tiongkok menjadi salah satu poin utama dalam Key Discussion mengenai kebijakan ekonomi Indonesia di tengah ketidakstabilan pasar global.
Key Discussion: Dengan kondisi tersebut, pemerintah dihadapkan pada tantangan untuk mencari solusi yang efektif. Kementerian Perdagangan mencoba menyesuaikan strategi distribusi, sementara pihak swasta diharapkan bisa berperan aktif dalam menekan kenaikan harga. “Key Discussion: Kami terus mendorong kerja sama dengan pelaku usaha untuk mengoptimalkan distribusi dan memastikan pasokan tetap lancar,” tambah Nawandaru.

