Latest Program: Tiongkok Batasi Ekspor Helium Pasca-Ketegangan AS-Iran
Dailynesia.com – Menjadi fokus utama dalam upaya pemerintah Tiongkok menghadapi fluktuasi global terkait bahan baku chip. Pada Jumat, 11 Juli 2026, Beijing mengumumkan pembatasan sementara ekspor helium, bahan kritis dalam produksi chip, sebagai respons terhadap ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang memanas. Langkah ini menggarisbawahi pentingnya strategi latest program dalam menjaga keterandalan pasokan sumber daya strategis, terutama saat perang dagang dan konflik regional berpotensi mengganggu rantai pasokan global.
Strategi Pemulihan Pasokan Bahan Baku
Dalam wawancara dengan Reuters, Cory Combs, kepala riset rantai pasokan di Trivium China, mengungkapkan bahwa pembatasan helium adalah bagian dari latest program yang diterapkan Tiongkok untuk mengurangi risiko kelangkaan bahan baku. Kebijakan ini memperkuat upaya negara tersebut dalam membangun ketahanan industri semikonduktor, yang menjadi tulang punggung perekonomian digital global. Sejak awal tahun, serangan AS-Israel terhadap Iran telah memicu kelangkaan helium, mengakibatkan gangguan pada operasional perusahaan-perusahaan di Tiongkok dan negara-negara lain.
Helium memainkan peran vital dalam proses fabrikasi chip, termasuk dalam pendinginan wafer, litografi, dan pengasapan plasma. Ketersediaan helium yang terbatas memaksa Tiongkok mengambil langkah tegas untuk memprioritaskan kebutuhan dalam negeri. Latest Program ini mencerminkan kebijakan ekonomi yang lebih proaktif, mengingat sektor teknologi semakin bergantung pada bahan-bahan langka. Qatar, salah satu penyuplai utama helium global, berkontribusi hampir 1/3 pasokan helium dunia, namun serangan terdahulu membuatnya sulit menyalurkan pasokan ke Tiongkok.
“Melalui latest program ini, Beijing berusaha mengoptimalkan pengelolaan sumber daya strategis. Helium tidak dapat diproduksi secara cepat, sehingga penurunan pasokan ekspor bisa memengaruhi industri semikonduktor secara signifikan,” ujar Combs, Sabtu (11/7/2026), dalam pernyataannya.
Tiongkok mengandalkan ekspor helium sekitar 85% dari kebutuhan totalnya. Kebijakan pembatasan ini membuat perusahaan lokal harus menyesuaikan strategi distribusi, terutama terhadap pasar Asia lainnya. Sebelumnya, negara ini juga menerapkan kebijakan serupa pada bahan bakar dan pupuk, yang menunjukkan komitmen untuk memperkuat kemandirian ekonomi. Latest Program ini diperkirakan akan berdampak pada produksi chip nasional, namun juga memberikan keuntungan jangka panjang dalam mengurangi ketergantungan pada impor.
Impak pada Pasar Global dan Kesiapan Industri
Langkah pembatasan helium yang diambil Tiongkok memicu perubahan pola distribusi global, terutama untuk perusahaan-perusahaan yang mengandalkan pasokan dari negara tersebut. Latest Program ini juga mendorong negara-negara lain, seperti India dan Jepang, untuk mempercepat pencarian alternatif pasokan. Meski demikian, Beijing berharap kebijakan ini bisa menstabilkan harga helium dalam negeri sebelum konflik Timur Tengah memicu krisis lebih besar.
Penggunaan helium dalam teknologi chip terus meningkat, seiring dengan kebutuhan akan komponen digital yang semakin kompleks. Dengan menerapkan latest program, Tiongkok berupaya memastikan bahwa industri semikonduktor tetap berjalan tanpa hambatan, meski harus mengorbankan ekspor ke pasar internasional. Tindakan ini menunjukkan prioritas pemerintah dalam mengatasi risiko ketidakstabilan politik, yang secara langsung memengaruhi keberlanjutan rantai pasokan global.

