Profesi Gaji Tinggi Kini Jadi Ladang Pengangguran
Dailynesia.com – Jakarta – Di tengah kondisi ekonomi yang tidak stabil, sejumlah profesi berpenghasilan tinggi, termasuk di bidang teknologi, mulai menjadi sumber utama pengangguran. Data terbaru dari Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat menunjukkan angka pengangguran di sektor teknologi informasi mencapai 3,8% pada April 2026, naik sedikit dari 3,6% di bulan sebelumnya. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan mengenai strategi perusahaan dalam merekrut tenaga ahli, terutama dalam bidang kecerdasan buatan (AI).
Pengurangan Rekrutmen karena Ketidakpastian Ekonomi
Kepala Eksekutif Janco, Victor Janulaitis, menjelaskan bahwa perusahaan kini lebih cermat dalam memutuskan perekrutan karyawan IT. “Mengapa mereka harus merekrut spesialis AI untuk sesuatu yang mungkin tidak memberi hasil nyata?” kata Janulaitis, seperti dilansir dari Wall Street Journal. Penundaan atau pengurangan perekrutan dilakukan sebagai respons terhadap inflasi dan risiko ekonomi yang semakin mengemuka.
“Mengapa mereka harus merekrut spesialis AI untuk sesuatu yang mungkin tidak memberi hasil nyata?”
Di sisi lain, AI tetap menjadi alat penting dalam proses seleksi karyawan. Contohnya, platform transportasi online Lyft sedang meninjau peran-peran yang bisa diubah oleh teknologi ini. Hal ini berbeda dengan enam bulan lalu, ketika Wakil Presiden Eksekutif Lyft, Jason Vogrinec, menyatakan bahwa insinyur perangkat lunak dilarang menggunakan alat AI saat wawancara kerja.
Perusahaan Teknologi Terlibat dalam PHK Masif
Beberapa perusahaan teknologi terkena dampak perubahan ini. Meta mengumumkan pengurangan sekitar 8.000 pegawai atau 10% dari total karyawan, sebagai bagian dari upaya memangkas biaya operasional dan mendukung investasi di bidang AI. Nike juga melakukan pengurangan 1.400 orang atau 2%, terutama dari tim teknologi, untuk menyederhanakan operasi global.
Sementara Snap memecat 1.000 posisi atau 16% dari jumlah karyawan, guna meningkatkan efisiensi. Konsultan Janco Associates mencatat, bidang telekomunikasi dan pengolahan data mengalami pengurangan 11% atau 342 ribu pekerjaan. Perubahan ini mencapai puncaknya pada November 2022, di mana sektor teknologi mengalami penyesuaian signifikan.

